Entah sejak kapan, pembicaraan di antara mereka hanya sebatas keperluan semata. Kata-kata singkat yang tak lagi menghangatkan hati. Mereka telah lama tak lagi membicarakan cinta yang harusnya membuat Tara melihat tanda-tanda telah karamnya kapal mereka. Tara terlalu bodoh atau berusaha membodohi dirinya sendiri jika pernikahan mereka tak bermasalah.
Setelah pembicaraan singkat di ruang keluarga, Tara berpamitan untuk membersihkan dirinya. Semenjak pulang, ia langsung melayani kakak lelakinya, hingga saat semua bersantai, dirinya bisa mencuri waktu untuk membersihkan diri.
Menit demi menit telah berlalu, Tara terkejut begitu menemukan Abimanyu tengah duduk di tepi ranjang mereka sembari memainkan ponselnya. Yang Tara tebak, digunakannya untuk menghubungi selingkuhannya—Dania. Lelaki itu pasti begitu merindukan kekasihnya, hingga mencari alasan untuk pamit sebentar demi saling bertukar kabar. Hati Tara seakan diiris, pedih bukan main dan entah sampai kapan dirinya harus bertahan di atas luka yang menyayat itu.
Abimanyu meletakkan ponsel ke nakas samping ranjang begitu menyadari kehadiran Tara. Lelaki itu mengamati Tara dalam diam, mencoba menerka-nerka apa yang tengah wanita itu pikirkan. Tara yang sadar diperhatikan, tak mau bersusah payah menoleh pada Abimanyu. Tara lebih memilih untuk mendekati meja rias dan duduk di sana. Ia manatut dirinya di cermin, berusaha mengabaikan Abimanyu, sebagaimana yang sering Abimanyu lakukan padanya.
Tidak, Tara tak bermaksud kejam ataupun hendak membalas dendam. Dirinya hanya meniru kelakukan lelaki itu saat mereka bersama. Mereka tak lagi pernah berbicara, hanya ikatan palsu yang masih mengikat keduanya, memaksa mereka tinggal di bawah atap yang sama.
“Apa maksudmu tadi, Tara?”
Tara menghentikan gerakan tangannya yang tengah menyisir rambut panjangnya. Ia tak mau bersusah payah membalik tubuh untuk menatap lelaki yang telah membunuh hatinya itu. Tara juga tak sudi menatap pantulan diri lelaki itu di cermin yang sama tempatnya menatut diri.
“Aku malah nggak mengerti. Apa maksud pertanyaanmu barusan?”
Abimanyu segera berdiri dan mendekati Tara. “Kenapa kamu seakan ingin membongkar tentang isu hancurnya rumah tangga kita. Kenapa begitu sulit bertahan sebentara saja? Semua ini untuk kebaikan kita berdua, Tara!” ada amarah dalam nada suara Abimanyu.
Tara tersenyum masam, lalu tak mampu mencegah tawa yang keluar dari mulutnya. Demi kebaikan mereka berdua? Ah … lelaki itu memang pintar bercanda. Tak ada lagi kebaikan apa pun yang lelaki itu berikan untuknya. Semuanya hanya demi keegoisan lelaki itu. Lelaki itu tak lagi pernah memikirkan apa yang terbaik. Semua selalu tentang Abimanyu dan Dania.
“Kenapa kamu malah ketawa, Tara?” Abimanyu menatap tajam pantulan Tara di cermin, “Kamu memang udah gila!” lanjut Abimanyu semakin tak sabar sembari mencengkram pundak wanita itu, lalu mengarahkan tubuh Tara ke arahnya. Tatapan dingin Tara membuat Abimanyu mulai yakin jika wanita itu memang telah kehilangan kewarasannya.
“Aku gila?” Tara tertawa, “Aku atau kamu yang gila, Mas?” Tara menatap tajam Abimanyu. Sunguh ia tak mengerti, mengapa lelaki itu bisa begitu kejam padanya? Tak adakah sedikit rasa iba untuk hatinya yang telah patah? Jika semudah itu untuk menjadi gila, maka Tara tak mungkin merasakan sakit yang luar biasa di dalam hatinya. Menjadi gila terdengar jauh lebih menyenangkan daripada terjebak dalam penikahan bersama orang yang tak mencintai kita.
Abimanyu mencengkram kuat-kuat kedua lengan Tara dan mengguncangnya, seakan ingin membangunkan wanita itu. “Kamu memang udah nggak waras, Tara.”
Tara melepaskan cengkraman tangan lelaki itu dari lengannya. “Kamu nggak seharusnya merasa takut hingga mengataiku gila, Mas.” Senyum Tara membuat Abimanyu segera mundur dan menjauhkan dirinya dari Tara. Abimanyu keheranan melihat perubahan yang begitu besar pada wanita yang telah menemaninya sealama limat tahun ini. Apakah memang dulu Tara seperti ini atau dirinya yang baru menyadari jika Tara adalah seorang wanita yang bisa menjadi dingin?
“Apa maumu? Apa kamu begitu mau melihatku dipukuli Derry? Aku tahu, kalau kamu nggak lagi peduli, tapi bukan begini caranya mengakhiri apa yang ada di antara kita, Tara! Kamu pikir, aku senang dengan keadaan ini? Aku sama-sama muaknya sepertimu!” Abimanyu mulai kesal dengan sikap Tara yang tak lagi bisa ia tebak.
Perkataan bisa lebih tajam dari pisau dan kini Tara mengerti arti dari kalimat tersebut. Perkataan Abimanyu membuat hatinya sakit bukan main, seakan ditusuk dengan pisau dengan kejam. Mereka memang tak pernah lagi membicarakan tentang cinta, namun haruskah lelaki itu menyakitinya bukan hanya dengan perbuatan, namun dengan kata-katanya juga? Tara menggigit kuat bibir bagian bawahnya yang mulai gemetar karna menahan tangis. Ia tak boleh menangis untuk lelaki itu. Dirinya harus tegar dan membuat lelaki itu melihat, jika cinta telah mati.
“Selama kamu bisa secepatnya menyelesaikan urusanmu dengan mama, aku nggak akan berulah. Karna kita sama-sama sudah saling muak, jadi aku nggak akan mengacaukan jalan menuju kebebasanku.” Tara berusaha bersikap biasa saja, walau hatinya teriris perih.
“Tapi, kamu melakukan hal sebaliknya, Tara.” Abimanyu mengacak rambutnya dengan gusar, “kamu memancing rasa penasaran Derry yang akan membuat kita kesulitan.”
Tara berdiri. Ia tak lagi ingin lagi berdebat dan menambah luka hatinya. Cukup sudah semua pedih yang lelaki itu berikan padanya hari ini. Hatinya tak mampu terus-terusan tersiksa karna cinta yang tak lagi ada di dalam hati mereka. Tak ada lagi harap yang tersisa di hatinya.
“Sudahlah, Mas. Aku mau menemani Mas Derry,” ucap Tara melewati tubuh lelaki itu. Dengan cepat Abimanyu mencengkram pergelangan tangan wanita itu, membalik tubuh Tara untuk berhadapan dengannya. Keduanya saling menatap dengan tatapan yang diliputi amarah.
“Apa benar kamu sudah memiliki penggantiku?” Abimanyu menatap Tara dengan tatapan meneliti, “kamu begitu berubah. Apa kamu juga berselingkuh di belakangku? Sudah berapa lama hubungan itu? Apa kamu mencintainya? Siapa orangnya dan apakah aku mengenalnya?” lanjut Abimanyu menuntut penjelasan dari Tara yang kini menatapnya heran.
Abimanyu sungguh penasaran alasan di balik berubahnya sikap Tara. Pasti dugaannya benar, wanita itu tak sesuci yang ia pikirkan. Wanita itu hanya bersikap baik demi menutupi kebusukannya. Bagaimana wanita itu bersikap seakan dirinya adalah korban, padahal Tara sama busuknya seperti dirinya? Abimanyu penasaran sejak kapan semua kebohongan itu dimulai dan mengapa wanita itu masih bertahan walau tak ada lagi cinta di antara mereka? Harusnya sejak awal wanita itu mengatakan semuanya, maka hubungan mereka tak sesulit sekarang.
“Apa kamu pikir, semua orang sama sepertimu?” Tara tersenyum manis. Kini mata Tara mulai terbuka lebar. Mata yang dulu dibutakan oleh cinta, tak membiarkannya melihat sisi buruk dari suaminya. Tak pernah sekalipun ia meragukan lelaki itu, apalagi mulai merasa jijik seperti ini. Bagaimana bisa lelaki itu menghina cinta sucinya? Bahkan berpaling pun ia tak sanggup.
“Lalu, apa yang membuatmu begitu berubah?”
Tara tertawa kecil. “Haruskah kamu mencari kesalahan orang lain agar kamu terlihat bagai malaikat? Lagipula, semua itu sudah bukan urusanmu. Mau aku memiliki penggantimu atau tidak, itu nggak akan mempengaruhi apa pun.” Tara melepaskan cengkraman tangan Abimanyu dan segera pergi meninggalkan lelaki yang kini terpaku menatap kepergiaannya.
Sungguh kerdil sekali pemikiran Abimanyu. Tak bisakah ia menyadari kesalahannya? Jelas-jelas pengkhianatan lelaki itu lah yang membuatnya berubah, mengapa lelaki itu harus mencari alasan tak masuk akal hanya untuk berbagi dosa dengannya?
Cinta memang hanya sebatas ilusi. Begitu tak lagi ada dan tak pernah dibicarakan, maka semua praduga buruk akan muncul dan membenarkan semua alasan kita yang memilih pergi dari perasaan penuh kebohongan itu. Sungguh miris, cinta tak semegah yang kerap diceritakan orang-orang dalam kisah dongeng pengantar tidur. Begitu berakhir, maka tak ada lagi yang tersisa.