Cinta dan waktu telah Tara berikan untuk Abimanyu. Seluruh hidupnya telah ia serahkan pada lelaki yang dulu begitu dipujanya. Bodohnya lagi, Tara mencibir udara dan menjadikan Abimanyu pengganti oksigen yang diperlukan paru-parunya untuk tetap bernapas. Akan tetapi, apa yang didapatkannya dari semua pengabdian cinta itu? Tak ada, hanya luka yang ia dapatkan. Abimanyu mencegat Tara yang hendak keluar dari kamar dengan begitu cepat, terlalu tiba-tiba hingga Tara terperanjat dibuatnya. Ia tak mengerti mengapa lelaki itu harus bersusah payah mencegah kepergiannya. Apakah Abimanyu belum puas memperdebatkan rasa yang telah mati atau tak terima karna membuat kesalahannya begitu salah? “Aku harap kamu mengerti akan keadaanku dan keluarga kita, Tara.” Tara tersenyum miring. Mengapa selalu diriny

