Banu menatap Sean dengan dalam, tatapannya dipenuhi rasa iba sekaligus penerimaan. Ia mengangguk pelan, suaranya sedikit gemetar saat ia berbicara, "Papa sudah menduganya. Kalian pasti akan saling mencintai, karena tidak ada hubungan darah, dan hidup di bawah satu atap. Rasa itu akan tumbuh, seperti benih yang disirami tanpa sengaja." Sean tertawa kecil, namun tawa itu kosong, seolah menertawakan dirinya sendiri. "Tidak semudah yang Papa bayangkan," ucapnya datar, matanya menatap ayahnya dengan tajam, namun tak lagi menyimpan kemarahan. "Terima kasih, Pa, karena sudah mau menjelaskan semua ini. Semua yang selama ini menjadi bom waktu dalam hidupku. Diana pasti senang, karena tahu jika kami bukan saudara kandung. Semoga begitu." Sean menghela napas panjang, lalu berdiri dari kursinya.

