“Harusnya kamu tidak bicara seperti itu pada Sean!” teriak Banu, suaranya bergetar seperti kaca yang hampir pecah. Matanya menyorot tajam, seperti dua bara yang menyala, menusuk Charoline dengan amarah yang sulit diredam. “Kamu boleh membenci orang tua Diana, tapi Diana tidak salah!” lanjutnya, suaranya memohon sekaligus menggelegar, seperti badai yang meluluhlantakkan. Charoline hanya menghela napas kasar, helaan yang terdengar seperti desau angin dingin yang menusuk. Ia berbalik tanpa berkata sepatah kata pun, melangkah masuk ke dalam kamarnya dengan langkah berat, meninggalkan jejak keheningan yang menghantui ruang tamu mereka. Pintu kamar tertutup dengan suara yang menggema, seperti palu yang mengetuk vonis di pengadilan. Banu menghela napas panjang, kemudian bergegas keluar ru

