“Bagas hanya sedang memuaskan dirinya sendiri dengan mengatai kamu seperti itu. Aku yang udah minta kamu untuk kembali, bukan kamu yang memohon apalagi merendahkan diri. Jangan terlalu dipikirkan.” Diana menatap Sean, matanya penuh kebimbangan. Ia ingin percaya pada kata-kata itu, tetapi luka dari pesan tadi masih terasa membekas. “Dia berhak menilai baik atau buruk orang lain, Diana,” lanjut Sean, suaranya penuh ketegasan, “tapi kamu tidak perlu merasa jatuh hanya karena ucapannya. Aku akan bicara ke Bagas nanti. Dia harus terima kenyataan ini, jangan seperti anak kecil.” Diana hanya mengulas senyum tipis yang tidak sampai ke matanya. Ia menganggukkan kepala perlahan, mencoba menelan semua emosi yang membebani hatinya. “Aneh aja sih,” gumamnya akhirnya. “Kenapa tiba-tiba dia kirim pe

