Satu minggu berlalu sejak perbincangan kecilnya dengan Diana tentang kemiripan mereka yang tak seberapa. Namun, bagi Sean, kata-kata Diana terus berputar di pikirannya, seperti sebuah pertanyaan tanpa jawaban. Di ruang kerjanya yang mulai redup oleh senja, Sean duduk menatap sebuah foto lama. Di dalamnya, ia dan kakaknya, Bima, berpose dengan senyum hangat yang tak pernah pudar. Dengan alis berkerut, Sean memperhatikan wajah Bima, mencari kesamaan, secercah kemiripan yang bisa menjadi alasan untuk menjawab kegelisahannya. “Apa yang Diana katakan mungkin benar…” gumamnya, pelan. “Tidak ada sedikit pun kemiripan dengan Kak Bima.” Sean mendesah, mencoba menghalau keraguan. Dalam hati, ia tertawa miris pada dirinya sendiri. ‘Mungkin ini hanya halusinasi kami, hanya karena ingin memiliki

