Untuk Pertama Kalinya

1645 Kata

Diana mengerjapkan matanya berkali-kali, bimbang antara menantang keinginan atau menyerah pada gelombang rasa yang menyesaki d**a. Di hadapannya, Sean dengan sikap santai namun memikat tengah melonggarkan kancing piyama yang membalut tubuh mungilnya. Malam itu seakan berhenti bergerak; hanya desau napas mereka yang terdengar di tengah keheningan, menggema seperti simfoni rahasia. “Se—sekarang juga?” suara Diana bergetar, seperti hembusan angin yang ragu menelusuri celah-celah dedaunan. Sean tersenyum, senyum yang menelusup hingga ke dalam hati, membuat jantung Diana berdetak lebih cepat. Bibirnya menyentuh lembut bibir Diana, bagaikan embun pagi yang menyapa kelopak mawar. Jemarinya terhenti di kancing terakhir, seolah memberi ruang bagi Diana untuk berpikir. “Maunya? Alasan utama ka

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN