35. Dimensi Waktu

1908 Kata

Aditya melangkah gontai menyusuri koridor rumah sakit. Dia berpikir keras bagaimana cara dia menjalankan perannya sebagai Dokter Bima. Dalam persoalan ini dia dituntut menjadi pihak yang paling waras dan paling sabar di tengah ingatan Ranis yang kacau. Semua orang seolah menyerahkan kelangsungan kehidupan seorang Rengganis sepenuhnya pada Aditya. Hal itulah yang membuat Aditya semakin berat menjalani peran barunya.  Sebelum membuka pintu kamar rawat inap, Aditya menarik napas dalam dan menetralisir perasaannya. Setelah pintu terbuka sedikit dia mengintip dari celah pintu. Dilihatnya Ranis sedang menyentuh kakinya.  "Kamu kenapa?" tanya Aditya khawatir.  "Aku nggak bisa ngerasain kakiku, Dok," ujar Ranis sembari meringis.  "Iya, masih dalam pemulihan. Kamu kan baru sadar dar

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN