20

1112 Kata
Hari sudah malam, sementara nanda masih fokus berada di depan laptopnya. Mengerjakan chapter babnya untuk dikirimkan di platform, matanya tidak lepas dari layar laptop dan jarina pun sibuk mnegetik. Nanda tidak akan berhenti mengetik jika dia tidak lapar, tapi sayangnya suara perutnya sudah terdengar. Ia turun ke lantai bawah, mengecek ada bahan bahan apa saja yang ada di kulkasnya. Mulutnya menganga ketika melihat isi kulkas kosong plong, satu botol air minum pun tidak ada. Ia menghela nafas, nanda sangat lapar. Ia harus keluar malam ini untuk membeli bahan makanan ataupun membeli makanan cepat saji, karena ia belum makan sejak tadi siang. Nanda segera mengganti baju dan mengambil payung, serta tak lupa ia membawa kunci cadangan jika sewaktu-waktu rumahnya terkunci. Dia hanya memakai sweater dan treaning berwarna abu-abu dan mengambil payung bening yang berukuran pas untuk mencegah tubuhnya terkena air hujan. Hujan belum deras, ia harus segera membeli beberapa makanan. Nanda pergi ke mini market terdekat dengan berjalan kaki, jalan sangat sepi karena hujan sudah turun sejak 1 jam yang lalu. Orang-orang pasti akan sangat malas untuk keluar saat hujan-hujan gini, nanda juga. Tapi rasa laparnya mengalahkan rasa kemagerannya. Saat di jalan hpnya tiba-tiba berdering, telfon dari seseorang yang dihindarinya berbunyi. Tertera nama ‘David’ ketika nanda membuka handphonenya. Semenjak kejadian dimana nanda mengetahui jika david tidak hanya tertarik kepadanya, nanda sangat malas meladeni laki-laki itu. Nanda hanya menjawab pesannya dengan seadanya, menghindarinya jika ia mengajak bertemu, bahkan jika di sekolah dia akan putar balik jika bertemu dengan David. David tentu saja bingung dengan perubahan sikap nanda, tetapi dia tetap tidak merasa ada yang salah dengannya. Nanda malas menjelaskan, dan David malas untuk terus terang. Jadi ya gitu, mereka seperti bermain tikus-tikusan setiap hari. Nanda mematikan handphonenya, malas meladeni david. Ia telah sampai ke mini market, dia memutar untuk mencari bahan-bahan yang kira kira bisa digunakan dia untuk masak dalam keadaan darurat. Nanda juga membeli sayuran dan beberapa buah-buahan murah untuk tetap menjaga staminanya. Lalu dia membeli beberapa vitamin, air mineral, dan obat-obatan untuk jaga-jaga jika dia akan sakit di musim yang tidak menentu ini. Apalagi nanda sangat mudah sakit jika ia terlalu lama terkena hujan. Setelah menemukan bahan-bahan yang ia butuhkan, dia segera membayar. Setelah selesai dia langsung keluar dan pulang. Tetapi langkahnya terhenti ketika ia bertemu dengan sosok yang masih berdiri di tengah jalan yang menggunakan pakian serba hitam, tanpa payung. Nanda memperhatikan seseorang itu dari atas sampe bawah, tatapan matanya berhenti karena sepatu yang dipakai milik yang ia duga laki-laki itu terlihat familiar. *** Regan niatnya hanya ingin pulang ke rumahnya, tetapi di jalan mobilnya tiba-tiba mogok. Dia kehabisan bensin, terlalu kalut dalam pikirannya sehingga ia lupa untuk mengecek bensinnya. Mobilnya tidak pernah digunakan, sehingga dipastikan bensinnya pun hanya tersisa sedikit. Regan keluar dari mobil, berniat untuk meminta pertolongan orang yang lewat. Tetapi sepanjang ia menyusuri jalan, tidak ada satupun orang yang terlihat. Regan yang tidak memakai payung, hanya mengandalkan hoodie yang menutupi kepalanya itu kini berjalan dengan sempoyongan. Hampir dihitung 2 hari ia tidak tidur dan belum memasukkan makanan apapun kedalam perutnya. Kakinya semakin lemas, dan tidak ada orang yang bisa dimintnai pertolongan. Karena tidak kuat berjalan, regan hanya berdiam diri. Tangisnya perlahan jatuh lagi, ia sangat lelah. Ketika ia ingin pulang beristirahat, ada saja yang membuat keadaannya semakin buruk. Perlahan regan menurunkan tudung hoodienya, membiarkan air hujan membasahi kepalanya. Petir yang menggelegar membantunya menyamarkan isak tangisnya yang keras. Regan menghadap ke langit, seolah pasrah untuk apa yang akan ia terima selanjutnya. Rasanya ia ingin menyerah, ketika mengetahui ayahnya yang sangat baik yang sangat berharga baginya pergi meninggalkannya karena kecelakaan yang disengaja. Air matanya tidak berhenti, bibirnya semakin pucat karena dingin dan pusing yang melandangnya. Regan memejamkan matanya, menikmati air hujan yang membasahinya seolah tak peduli dengan dirinya sendiri. Lalu tidak lama kemudian, dia merasakan air hujan berhenti. dia mengernyit aneh, suara derasnya hujan dan petir masih terasa sangat keras. Tetapi air yang jatuh di atas kepalanya sudah tidak ada. Regan membuka mata dengan perlahan, matanya mengerjap pelan ketika menyadari apa yang menghalangi air hujan itu turun. Payung. Payung bening milik seseorang bertangan kecil yang memeganginya, regan menurunkan pandangannya. Matanya bertemu pandang dengan seorang perempuan yang kelihatan berjinjit untuk memayunginya itu. Perempuan itu membiarkan dirinya yang kini perlahan basah karena memberikan payungnya untuk melindungi Regan. “Regan.” Satu kata itu berhasil mengalihkan perhatiannya dan sekaligus menyadarkannya. Matanya yang merah memandangi perempuan di depannya. ““berdiri disini ga jamin lo mati kesamber gledek. Kalo lo cuman gosong, lo makin depresi, gabakal ada yang meduliin lo ditambah setelan favorit lo item-item gini.” Katanya sambil tetap berusaha mempertahankan matanya untuk terbuka lebar karena hujan kini semakin deras. Regan perlahan menunduk, bahunya bergetar. **** Nanda melihat sepatu yang familiar, sepatu yang sama dengan milik seseorang yang mencegahnya jatuh dari gedung tinggi. Sepatu yang memiliki coretan spidol berinsial R, Regan. Nanda tidak berfikir lama, ia segera berlari ke arah regan dan memayunginya. Walaupun agak susah dengan perbedaan tinggi badan mereka, butuh waktu beberapa saat sampai akhirnya regan mau membuka mata memandanginya. “Regan.” Nanda memanggilnya dengan nada keras, takut jika suaranya tertutup oleh suara hujan dan laki-laki itu tidak mendengarnya. Regan perlahan menatapnya, tatapan matanya sangat sendu. Nanda tidak tahu regan kenapa sampai dia bisa berada di sini dengan kondisinya yang seperti ini, yang penting nanda akan mencegah sesuatu yang buruk terjadi kepadanya. Bentuk balas budinya karena waktu itu regan sudah menyelamatkan nyawanya. “berdiri disini ga jamin lo mati kesamber gledek. Kalo lo cuman gosong, lo makin depresi, gabakal ada yang meduliin lo ditambah setelan favorit lo item-item gini.” Regan sudah menatapnya tetapi kini perlahan menunduk, bahunya bergetar. Nanda mengernyit, perlahan menyadari jika laki-laki di depannya ini sedari tadi menangis di tengah hujan deras. “lo kenapa?” tanya nanda kepada regan yang masih menundukkan kepalanya. Regan tidak menjawab, dia masih bergetar. Nanda akhirnya hanya bisa memayungi laki-laki itu sambil sesekali mengusap lengan laki-laki itu. Untung saja, jalanan sepi sehingga dia tidak perlu khawatir jika ada pengendara yang akan menabraknya. Sesudah melihat bahu regan agak sedikit tenang, nanda mulai membuka mulut. “neduh dulu ya bentar di sana? Bisa jalan kan?” tanya nanda kepada regan, regan perlahan mengangguk tetapi tetap menunduk. Karena khawatir jika laki-laki itu tidak mengikutinya, nanda memegang tangan Regan. “panas.” nanda membatin, suhu badan regan sangat panas. ia tanpa banyak bicara, menarik tangan legan untuk meneduh sebentar. “dingin ga?” ucap nanda setelah berhasil meneduh, regan hanya diam. Laki-laki di depannya ini sangat berbanding terbalik dengan laki-laki yang pernah ditemuinya di gedung. Seakan-akan ia berbeda orang. Regan yang kali ini sangat pendiam, nanda jadi bertanya-tanya apa yang ia alami sampai dia nekat untuk berdiam diri di tengah jalan dan hujan deras.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN