BAB 7

889 Kata
Nadine terbangun ia merasakan berat di perutnya. Saat melihat tangan Arsen ia langsung menyingkirkannya. Akan tetapi Arsen memeluknya semakin erat. Nadine berdebar. Kepala Arsen di lehernya. Nadine menarik kepalanya menjauh dari Arsen dan langsung bangun. Ia kaget melihat jam di kamarnya. 06.00 dia bisa telat kalau begitu. Nadine langsung mandi cepat-cepat. Arsen terbangun karena terganggu teriakan Nadine. Dia melihat jam di dindingnya 06.10 Nadine pasti telat karena acara pesta semalam. Nadine keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk. Arsen yang akan membangunkan dirinya tidak jadi saat mendengar suara pintu terbuka. Bisa-bisa Nadine teriak keras jika Arsen melihatnya. Nadine mendekat ke arah Arsen. Melihatnya masih tertidur dia lega. Tapi tidak bagi Arsen. Bau sabun mandi dan shampo menganggu indra penciumanya karena dengan seenaknya masuk begitu saja. Terlebih Arsen tadi sedikit membuka matanya. Jadi dia bisa tau Nadine yang mendekatinya. Harus Arsen akui badan Nadine. Putih mulus. Terlebih tadi Arsen melihat sedikit p******a Nadine yang menyembul keluar. Mengetahui Nadine sudah keluar dari kamar. Arsen baru bangun dari tidurnya. Bayangan Nadine tadi sangat menganggunya. Arsen sudah sering melihat hal seksi seperti itu. Memakai bikini atau yang lebih sekalipun. Ia tidak akan tergoda apalagi membuatnya 'bangun'. Arsen mengerang, sialan memang Nadine. Ia langsung bangun dan menuntaskannya di kamar mandi. Arsen turun dari kamarnya dan di meja makan dia melihat roti bakar dengan telur mata sapi di atasnya. Ada notes di sampingnya jus alfukat. Arsen meminumnya. Dan membaca notes itu Aku kerja dulu. Mas tadi tenang banget tidurnya. Jadi ga tega bangunin. Nadine. Come on, Arsen pingin tertawa membacanya. Yang ada Arsen tidak tenang sejak Nadine menghampirinya dengan badan yang masih basah dan hanya memakai handuk. Arsen berangkat syuting dan pemotretan untuk cover majalah dan mall milik LbG. Arsen kira ia akan melihat Nadine disana. Tapi Nadine tidak berada disana. Ia hanya melihat laki-laki tua dan perempuan yang memintanya foto bersama. Ia ingat namanya Adel. Karena sempat menulisnya. Arsen menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Arsen pasti stress dan banyakan bekerja akhir-akhir ini. Kenapa ia harus mengingat Nadine. Sementara itu Nadine menerima telfon dari mama mertuanya. Dia terkejut mengetahui mertuanya ada dirumahnya. Beruntungnya Daniel menyuruhnya pulang dahulu dan tidak perlu menemanin ya meeting, sehingga ketika Daniel pulang jeda beberapa menit Nadine langsung mengecek ulang laporan keuangan, setelah selesai ia memberikan laporan keuangan itu ke ruangan CEOnya. Nadine hafal betul jika sudah seperti ini, bosnya itu tidak akan kembali, jadi dia langsung pulang cepat tanpa izin. Biarkan saja, Nadine tak mau harus potong gaji. Nadine mengambil mobilnya dan pulang ia membuka pintu dan melihat mama mertuanya duduk dengan menonton televisi. Nadine langsung menyalami mama mertuanya dan duduk di sampingnya. “Mama seneng banget masuk masuk udah lihat foto pernikahan kalian.” kata Fira dengan senang. Nadine terdiam. Foto pernikahan yang mana? Dia nggak tau. Akhirnya Nadine tersenyum dan menganguk-angukan kepalanya. Mertuanya langsung menegur Nadine yang pulang lebih cepat. Nadine menjawab bahwa ia izin karena tak mau membuat mertuanya menunggu. Tentu saja Fira senang mendengarnya dan mengatakan bahwa ia tidak salah pilih menantu. ****❤**** Arsen kaget mamanya tiba-tiba berada di lokasi syuting, mau tak mau Arsen langsung menemuinya di dalam mobilnya. Tentu saja Arsen mengomel karena mamanya menemuinya. Padahal jika butuh sesuatu mamanya bisa menelfonnya. Mamanya langsung mengomel karena Arsen tidak pulang semalam. Tentu saja Arsen langsung menudu Nadine mengadu. “Mama nginap rumah kamu semalam. Dan kamu nggak ada. Mama nyuruh Nadine buat nggak bilang ke kamu. Mama mau lihat jam berapa kamu pulang, ini malah kamu nggak pulang sama sekali. Mau ngeles apa lagi?” Arsen diam saja dan tidak menjawab. “Kamu keterlaluan Sen, nyuruh istri kamu di rumah sendirian. Nggak pernah jemput dia pulang kerja juga.” “Arsen kan sibuk ma.” Mendengar hal tersebut Fira naik darah dan memarahi Arsen yang sudah membuatnya malu dihadapan Nadine. Fira menghela nafasnya kasar. Anaknya itu memang benar-benar keterlaluan. Melihat putranya tak memakai cincin pernkahan mereka padahal Nadine memakainya ia semakin emosi. Arsen panik dan menyuruh mamanya agar tidak berteriak karena saat ini mereka dilokasi syuting. Tentu saja Fira tidak peduli. Arsen meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya. Barulah Fira puas dan diam. Tentu saja kelegaan batin Arsen cuma seketika ketika mamanya meminta sesuatu yang tidak mungkin bisa Arsen berikan. Arsen diam menatap mamanya. Dia bingung sekarang. Mamanya terlalu banyak meminta hal-hal sulit. Kenapa nggak mamanya minta beli baju atau rumah gitu. Kan gampang buat Arsen kabulin. “Temen-temen mama sudah pada punya cucu, masa mama belum punya juga.” Arsen menghela nafasnya. “Iya ma. Nanti.” “Kapan?” tanya mamanya. “Ya mama doain aja. Udah mama pulang aja sekarang biar di anter sama kak Ben.” putus Arsen akhirnya dia tidak bisa lama-lama membahas ini. “Akhir pekan ajak Nadine pulang ke rumah. Mama juga pingin makan bareng sama anak dan mantu mama.” “Arsen sibuk ma akhir pekan. Lain kali aja ya.” “Arsen...,” “Arsen usahain ma.” putusnya. Setelah mengatakan hal itu, Fira terlihat puas. Dia langsung pulang sedangkan Arsen kembali melanjutkan syuting. Ia nanti juga ada wawancara dan syuting video klip. Arsen tidak akan bisa pulang lagi malam ini. Nadine sendiri sibuk dengan pekerjaannya yang sedang melakukan peninjauan lapangan dan menggantikan Daniel meeting. Karena Daniel harus ikut Dean meninjau perusahaaan cabang. Setidaknya dengan hal itu, Nadine bisa pulang cepat. Ia mendapat pesan dari Ben tentang mama mertuanya yang datang ke lokasi syuting Arsen.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN