BAB 2

1424 Kata
Sampai disana Nadine meminta maaf karena sudah telat datang ke acara makan malam. Nadine langsung duduk dan mamanya langsung mengenalkan Nadine ke temannya. Namanya Fira dan Lois. Fira memuji kecantikan Nadine. Nadine hanya menganguk malu tapi sebenarnya dia senang. “Gimana sayang menurutmu kamu?” tanya Fira tiba-tiba. Nadine diam tak mengerti. Sampai mamanya meminta maaf karena belum memberitahu Nadine alasan pertemuan mereka. Perasaan Nadine tak enak tapi dia berusaha positif thingking. “Ini loh sayang, Mama sama Papa mau jodohin kamu sama anaknya tante Fira.” Nadine langsung tersenyum dan sedikit tertawa. “Mama bisa aja sih becandanya.” “Mama serius sayang.” katanya lagi. Nadine menatap mereka yang dibalas dengan tatapan serius. Nadine bingung. “Ma.. Nadine baru 25 tahun loh.” “Mangkanya, mama rasa umur kamu udah pas buat menikah. Mama khawatir tau sayang masa diumur kamu yang segitu kamu nggak nikah-nikah sih.” “Kan aku lagi fokus di karir.” “Lagian kamu nggak bakal nyesel kok kalau tau calonnya siapa.” lanjut papanya. Saat akan protes papanya langsung berbisik kepada Nadine dan mengancamnya dengan menyuruhnya untuk keluar dari tempat kerja. Nadine menatap papanya kaget. Tapi, Papanya membalasnya dengan tersenyum. Matanya seolah menyuruh Nadine diam dan menurut. “Maaf lama.” kata seorang laki-laki. “Kenalin sayang calon suami kamu. Arsen.” Nadine tidak menggubris ucapan mamanya sampai papanya menyuruh melihat ke laki-laki tersebut. Nadine mendecak tapi akhirnya menurut. Melihat siapa calon suaminya, Nadine syok. “Arsen Alrico?” **** “Ma... Arsen nggak mau di jodohin. Emangnya Arsen nggak laku apa. Mau di taruh dimana muka Arsen. Arsen itu artis papan atas. Aktor ma.. Selebriti. Jadi nggak bisa kalau mama nyuruh Arsen nikah. Nanti Arsen bisa kena biaya pinalti gara-gara ngelanggar kontrak.” kata Arsen yang mencoba memberi pengertian kesekian kalinya. Sudah 2 bulan mamanya memaksa untuk bertunangan dengan anak temannya. “Papa bisa bayar semua itu kok.” jawab papanya kali ini. “Kak, Lo yang ngomong deh,” kata Arsen akhirnya ke manajernya. Dia sudah lelah memberi pengertian ke orangtuanya. Biar Ben Manajernya yang mengurus hal tersebut. Ben sudah membuat rencana agar perjodohannya gagal. “Ben... Kamu diam.” kata Lois, papanya tajam. Aura imtimadasinya keluar. “Papa nggak pernah suka kamu jadi Artis. Papa lebih suka kamu nerusin usaha papa. Kalau kamu nggak mau nerusin usaha papa setidaknya kamu nikah sama pilihan orangtua kamu ini. Kalau kamu nggak mau papa jodohin. Mundur dari dunia Entertaint terusin bisnis papa.” kata papanya yang langsung pergi. “Anaknya cantik kok Dear. Kamu pasti suka.” kata mamanya kali ini. “Ma... Arsen kan nggak kenal. Arsen kan nggak cinta sama dia.” mohonku. “Anaknya baik, cantik lagi. Cinta bisa datang seiringnya waktu. Mama juga nggak mau tau dear. Kamu harus terima pilihan mama sama papa. Sampai kapan kamu mau galau in perempuan nggak bener itu.” setelah mengatakan itu mamanya langsung pergi. Arsen menatap Ben Manajer sekaligus teman dari kecilnya meminta saran. “Terserah lo sih, kalau lo nikah pasti banyak banget yang jadi haters istri lo. Kecuali, lo rahasiain pernikahan lo nanti.” kata Ben. Arsen langsung menutup matanya memikirkan matang-matang. dia nggak suka dunia bisnis. Dia suka di dunia entertaint. Setelah merenung selama seminggu akhirnya Arsen memantapkan pilihanya. Dia mau dijodohkan. “Namanya siapa ma?” tanya Arsen saat makan bersama di rumah orangtuanya. Arsen sudah punya apartemen sendiri tapi sesekali dia datang menjenguk orangtuanya. Bagaimanapun Arsen ini anak tunggal. “Nadine. Kamu pasti suka. Anaknya cantik banget. Terus pinter baik lagi.” puji mamanya. Arsen langsung memberikan penawaran. Dia mau menikah asal pernikahannya tertutup dan tidak mengundang awak media manapun. Papa dan mamanya setuju meskipun awalnya mereka tak bersedia. Selesai makan Arsen langsung pamit pergi. Karena nanti siang dia ada syuting sinetron yang baru saja dia bintangi. Ini sinetron pertama Arsen. Selama ini Arsen selalu menolak untuk main sinetron, dia lebih suka main film. Yah, Arsen berniat mencoba hal baru. Arsen beristirahat di mobil dengan meminum kopi dan membaca naskah. Melihat Ben masuk kedalam mobil dengan raut kesal dia penasaran. “Kenapa?” “Itu pegawai LbG. Dia minta lo jadi bintang tamu di pembukaan Mall yang baru mereka bangun buat bulan depan. Padahal gue udah bilang kalo Jadwal lo full sampe 2 tahun mendatang tapi maksa banget.” jawabnya kesal. “Oh…, yang tadi?” tebak Arsen. Tadi ada seorang laki-laki yang berusaha menemuinya. Tapi Arsen menyuruhnya menemui Ben. Menurut Arsen para Staff itu pantang menyerah. Mereka sudah menerornya selama 3 bulan. Melebihi kabar perjodohan Arsen. “Jadi kapan lo ketemu cewek itu?” tanya Ben. “Minggu depan.” Jawab Arsen cuek sembari meminum kopi dinginnya. Tak terasa sudah seminggu berlalu. Ben merubah jadwal syuting malam Arsen untuk pertemuan keluarga. Tapi tetap saja Arsen harus syuting pagi ini. Selesai syuting Arsen langsung bersiap menuju Luna Restaurants'. Jam 19.30 Arsen sudah sampai disana bersama orangtuanya. Akan tetapi dia tidak melihat seorang perempuan muda. Hanya ada sepasang orang tua saja yang kemudian meminta maaf atas kedatangan telat putrinya dan memesan makanan. Setelah menunggu hampir sejam perempuan itu tak kunjung datang. Arsen pamit ke kamar mandi padahal sebenarnya dia pergi keluar. Ia rasa perempuan itu juga tidak mau di jodohkan dengannya. Karena pikirannya melayang Arsen tak sengaja menabrak seorang perempuan. Perempuan itu meminta maaf, akan tetapi ketika melihat wajahnya perempuan itu meminta sedikit waktunya untuk berbicara. Ketika pembicaraannya membahas ke arah pekerjaan, Arsen langsung kabur meskipun perempuan itu cantik. Setelah dirasa ia tak mengejarnya, kembali Arsen langsung kembali ke tempat pertemuan tadi. Jika perempuan itu belum datang juga Arsen akan langsung pergi. Melihat perempuan itu yang sudah ada disana Arsen menatapnya kesal. “kenalin sayang calon suami kamu. Arsen.” kata mama Nadine. Nadine tidak menggubris ucapan mamanya sampai papanya menyuruh melihat ke laki-laki tersebut. Nadine menurut meskipun eksprsinya kentara jika ia kesal. Jika ia tau ia akan di jodohkan ia akan menolaknya mentah-mentah dan tidak akan datang kesini. Melihat calon suaminya yang masih berdiri di sampingnya, Nadine terperangah. Nggak mungkin batinnya. Sampai ia mengerjapkan matanya berkali-kali. “Arsen Alrico??” panggil Nadine memastikan. “LbG??” sebut Arsen sendiri. Sepertinya Arsen tau sekarang. Perempuan yang bernama Nadine itu tidak tau jika ia akan menghadiri perjodohan. Buktinya Nadine mendatangi manajernya Ben bukan malah mencarinya dan memintanya langsung. Arsen duduk di depan Nadine. “Tante serius mau jodohin saya sama Arsen??” tanya Nadine. Arsen memandangnya dengan alis sedikit terangkat. “Seriuslah dear.” “Tante ... Nadine ngurus diri sendiri aja nggak bisa bagaimana mau ngurusin anak tante?” tanya Nadine. “Tante percaya sama kamu. Kalau kamu aja bisa ngurusin urusan kantor pasti kamu bisa ngurusin Arsen.” jawab mama Arsen. Arsen melihat Nadine menghela nafas kasar. “Bukannya terlalu ndadak ya ma?” “Mama mau ngomongin hal ini sama kamu 3 bulan yang lalu. Tapi salah kamu sendiri yang terlalu sibuk. Dan nggak ada waktu buat ngobrol sama mama.” jawab mamanya Nadine. Nadine terdiam. Come on, Nadine baru saja diancam akan di pindahkan ke kantor cabang. Dan sekarang tiba-tiba ia akan di jodohkan. “Ma... Nadine masih ada kontrak dilarang nikah. Kalau ketahuan Nadine bisa dipecat.” kata Nadine lagi. “Nanti kita bikin pestanya tertutup. Arsen juga nggak akan masalah.” kata mamanya Arsen kali ini. “Nadine, mau bicara sama Arsen berdua.” Arsen menurut dan mengukuti perempuan itu. Sampai ditempat yang cukup privasi, Nadine langsung memarahi Arsen yang diam sedari tadi. Tentu saja Arsen menjawab bahwa dia juga tidak punya kuasa menentang orangtuanya. Orangtuanya mengancamnya jika tidak mau menikah dengan Nadine. Nadine berteriak kesal. Arsen menatapnya khawatir. Ia fikir Nadine pasti stress. Nadine masih mendumel kesal. Arsen jengkel melihatnya ia lalu menawarkan kesepakan dengan Nadine agar acara malam ini cepat selesai. “Gue nggak bakal macem-macem sama lo. Lagian gue juga nggak suka sama lo. Kalo lo mau nikah sama gue, gue iyain tawaran lo tadi soal jadi guest star sama ambasador Mall terbaru lo itu.” tawar Arsen. Nadine terdiam. Dia jamin ia tidak akan mendapatkan Arsen jika ia tidak setuju. Dan ia akan di pindahkan ke kantor cabang. mimpi buruk baginya. Kalau dia iyain. Masa depan yang ia rancang hilang sudah. Masalahnya Nadine hanya menyukai CEO-nya, pak Dean. Galak-galak dingin manis. Selama itu juga semboyan Nadine, yang berbunyi selama janur kuning belum melengkung Pak Dean masih milik keluarganya. Ketika mendengar Arsen menawarkan perceraian Nadine langsung setuju. Mereka kembali ke tempat orang tuanya berkumpul dan mengatakan bahwa mereka berdua mau dijodohkan dengan catatan bahwa pernikahan mereka hanya mengundang keluarga terdekat. Setelah itu mereka langsung membahas rencana pernikahan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN