"Maaf—nggak bisa kalau gak nginap," tutur Jagat. Dia lalu mendekat setelah menutup pintu, berdiri di sisi sang mantan. Sus Sani auto menepi, bersiap jadi dinding lagi. Sementara, Zein masih menangis. Sisa-sisa rengekan. Dan Seruni mengayun-ayun pelan, hati-hati soal infusan. Namanya bayi, kadang tangannya suka asal digerakkan. Takut juga kejambret selang infusnya dengan tanpa sengaja. Oh, no, no! Jangan sampai. "Mau gantian? Biar Mas aja yang gendong, kamu istirahat," kata Jagat. Sambil dia lepas jaketnya, disampirkan di tas yang Jagat letakkan dekat kaki brankar. Tersisa kaus putih di badan. Seruni menjawab tanpa menoleh, "Aku bisa sendiri." Jagat tahu. "Kamu memang segala bisa, apa-apa juga mahir kamu lakuin sendiri. Tapi sekarang ada Mas. Bukan siapa-siapanya kamu, sih. Tapi, kan,

