bab 5

1229 Kata
Bab 5 Hari ini aku memutuskan untuk mencoba membuat dress, dan akan aku jual secara online nantinya, karena semalam aku sudah rela begadang demi membuat beberapa desain baju untuk aku buat hari ini. "Syah gue kerja dulu, nanti kalau ada apa-apa lo bisa hubungin gue." "Iya kamu hati-hati Win, ingat jangan ngebut bawa motornya." "Iya tenang aja, lagian kalau jatuh palingan antara mati dan selamet juga." "Hus, gak boleh ngomong gitu Win," "Iyadeh, bismillah semoga selamet." "Nah gitu dong itu baru bener Win. Oh ya kamu masih kerja di kantor abang kamu kan.?" "Iya gue masih kerja di sana." "Kamu gak rindu rumah Win, gak mau ngumpul sama keluarga kamu gitu.?" dengan hati-hati aku melayangkan pertanyaan itu pada Winda, ya Winda memang sudah tak tinggal dengan orang tuanya lagi padahal orang tuanya masih lengkap, namun Winda memilih keluar dari rumah karena tak kuat melihat ayah dan ibunya selalu bertengkar, padahal Winda aslinya terlahir dari keluarga kaya, namun Winda memilih tinggal di rumah yang di beli oleh abangnya, hubungan Winda dan kedua orang tuanya masih terjalin dengan baik, walaupun Winda sangat jarang untuk pulang kerumahnya. "Huuh, bukan gak kangen Syah, gue kangen banget sama bokap, nyokap, tapi gue juga gak sanggup kalau harus melihat berdebatan mereka yang selalu saja bertengkar di depan gue, bahkan abang pun tak betah tinggal di rumah dia juga keluar dari rumah dan tinggal di apartemen miliknya. Bahkan hal kecil pun kadang mereka perdebatkan, entahlah kapan bokap, nyokap bisa harmonis seperti pasangan di luar sana." "Emang awalnya apa sih yang membuat hubungan orang tua kamu bisa seperti itu Win." "Karena bokap gue ketahuan selingkuh Syah, dan bokap juga sangat egois tak ingin berpisah dari nyokap. Itulah awal mulanya yang membuat mereka tak seharmonis dulu." Aku yang mendengar penjelasan Winda pun turut prihatin ternyata nasib orang tuanya tak jauh beda dengan nasibku, bedanya aku di ceraikan, namun ibu Winda malah tak di ceraikan oleh suaminya. "Udahlah pagi-pagi gini gue gak mau sedih karena mengingat masalah ini, gue berangkat dulu Syah." "Maaf ya win," "Gak perlu minta maaf juga kali Syah, santai aja." Winda menepuk bahuku lalu berjalan keluar dari rumah. Saat Winda telah pergi aku pun kembali fokus pada pekerjaanku, aku mulai mengukur kain yang akan aku buat Dress, kali ini aku berniat membuat 10 pcs dress dan 10 gamis dulu, karena aku masih belum memiliki banyak kain untuk membuat berbagai macam model baju. Saking asiknya mengerjakan baju-baju, aku sampai tak sadar jika waktu sudah menjelang siang, aku melihat jam di dinding ternyata sudah jam 11 lewat pantas saja perutku sudah terasa keroncongan. "Sabar ya peruta nanggung ini selesai satu baju ini baru nanti aku isi kamu." gamamku sambil mengusap-ucap perutku yang sudah meronta meminta makan sejak tadi. "Nah selesai juga, lebih baik aku foto dulu siapa tau ada yang suka dan mau beli baju-baju ini." Aku pun menggantung beberapa hasil jahitan ku lalu memfoto nya, selesai memfoto baju-baju itu, aku pun mempostingnya di sosial media, berharap akan ada orang yang mau membeli bajuku ini. Selesai memposting baju aku pun melangkah menuju dapur untuk mengisi perut. *** Saat telah selesai makan aku pun mengecek ponselku, ada beberapa komen dan inbok yang masuk dengan tak sabaran aku pun segera membuka akun sosial media ku itu. "Alhamdulillah akhirnya ada yang mau membeli bajuku." aku bengitu senang kala ada orang yang berniat membeli baju yang barusan aku posting. Aku pun segara membalas komenan dan pesan yang masuk. Setelah saling membalas komen akhirnya orang itu membeli 3 pcs dress yang aku jual. Aku begitu bahagia, ternyata di hari pertama aku memulai bisnis ini, Allah mempermudah segalanya, aku hanya bisa berharap semoga saja kedepannya akan semakin lancar, agar aku bisa secepatnya mengumpulkan uang untuk menyewa ruko, jika nanti sudah bisa menyewa ruko maka aku akan lebih leluasa menjual hasil jahitan ku. Dan dengan begitu pula aku bisa membalas keluarga Mas David dan membuat mereka semua menyesal, aku sudah tak sabar menantikan momen itu, aku hanya ingin melihat apa reaksi mereka nanti setelah melihat aku bisa sukses, anak sebatang kara yang selalu mereka hina ini, akan menunjukan bakatnya dan balas dendam yang paling elit adalah sukses tanpa mereka dan berhasil membuat mereka semua menyesali perlakuan buruknya, agar mereka sadar bahwa tak baik merendahkan dan meremehkan seseorang, sekalipun orang itu miskin dan tak memiliki sebuah pendidikan yang bagus, karena roda kehidupan itu terus berputar, mungkin saat ini mereka masih di beri nikmat oleh Allah dengan kekayaan yang mereka punya namun Allah juga bisa membuat mereka kehilangan semuanya dalam sekejap mata. Drett... Ponselku tiba-tiba berdring membuatku tersadar dari lamunan panjangku. "Hallo ada apa bu.?" tanyaku karena bu Yumi yang menelpon tetangga di samping rumah Mas David. "Kamu jualan baju Syah, tadi ibu sempat lihat postinganmu." ujar bu Yumi langsung pada intinya. "Iya bu, saya jualan baju, memangnya kenapa ya bu.?" aku bertanya balik. "Nggak papa ibu cuman mau beli saja, gamis yang kamu posting itu ada berapa pcs Syah, ibu butuh lumayan banyak gamis model itu, modelnya bagus dan simpel Syah, ibu suka dan model itu juga belum ada di pasaran makanya ibu mau beli baju itu. Baju itu akan ibu pakai buat seragam pas acara nikahan anak ibu nantinya." "Ehh... Maaf bu kalau boleh tau memangnya ibu butuh berapa gamisnya.?" Aku menanyakan bu Yumi perlu berapa pcs baju gamis yang mau ia buat seragam itu. "Ibu butuh sekitar 15 gamis Syah ada nggak kira-kira.?" "InsyaAllah ada bu, tapi bajunya mau di pakek kapan bu, soalnya gamis itu saya tadi baru bikin 5 pcs bu." Aku menanyakan baju itu akan di pakai kapan karena jika waktunya dekat aku takut baju itu tak selesai tepat waktu. "Baju itu akan di pakai dua minggu lagi Syah, kamu masih ada waktu untuk membuat gamisnya, nanti kalau gamislnya sudah selesai kamu bisakan antar kesini,?" "Bisa bu." "Ya sudah ibu matikan dulu ya telponya." Bu Yumi pun mematikan sambungan teleponnya. "Alhamdulillah ya allah, alhamdulillah." Aku tak hentinya mengucap syukur, ini benar-benar awal yang baik untukku, aku semakin semangat untuk membuat gamis pesanan bu Yumi, karena Dress yang di pesan oleh pembeliku tadi sudah ada jadi aku kembali membuat baju gamis untuk bu Yumi. *** Tak terasa waktu sudah hampir magrib untung tadi aku sudah salat asyar. Tapi aku sedikit bingung kenapa Winda belum pulang juga, padahal biasanya kan jam pulang kantor itu sore, tapi ini hampir jam enam sore namun Winda belum pulang membuatku khawatir saja tuh anak. Adzan magrib telah berkumandang dan Winda baru saja tiba di rumah. "Dari mana saja Win, kamu itu bikin aku khawatir aja, kenapa malah gak ngabarin kalau kamu itu pulangnya agak telat, kalau ngabarin kan aku gak kepikiran yang macam-macan Win." omelku, namun Winda hanya membalasnya dengan sebuah cengiran saja. "Orang ngomong juga kamu malah nyengir Win." "Ya habisnya gue harus apa Syah harus marah-marah juga, kan gak lucu ntar malah berantem lagi, oh ya gimana hari ini lancar nggak.?" "Alhamdulillah lancar Win, ada tatangga Mas David juga memesan 15 pcs gamis Win, aku sangat bersyukur di awal yang baru buka gini sudah ada yang beli. " Alhamdulillah gue ikut seneng jadi nanti kalau lo udah bisa sukses hanya satu yang mau gue ingetin jangan pernah terperdaya lagi sama tipu muslihat keluarga David Syah, lo harus selalu ingat perlakuan buruk mereka terhadap lo selama Lo tinggal di rumah mereka, intinya gue gak mau lo di bod*hi lagi sama keluarga gesrek itu." peringat Winda, karena dia tak ingin Aisyah termakan rayuan keluarga David lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN