Nyesel Pergi

1500 Kata
"Aku ada meeting sekaligus grand opening restoran di Bali ya minggu depan" ujar Alaia pada Erick yang sibuk memakai kemeja kerjanya. "Minggu depan?" tanya Erick sambil berbalik badan dan langsung menoleh ke Alaia. Alaia mengangguk. "Iya, kenapa?" tanya Alaia lagi. "Aku baru mau ngajak kamu ke nikahan temenku" ujar Erick dengan nada putus asa. "Yahh gimana dong?" Alaia seketika merasa tidak enak. Paling gak kalo ada Aya, Laras gak bakal bertingkah macem-macem batin Erick. "Aku udah di kasih undangan sebulan yang lalu, yaudah aku iyain aja karena jadwal aku kosong juga" ujar Alaia. "Yaudah deh kalo gitu, kamu jug ada kerjaan 'kan" uajr Erick lalu berbalik badan dan kembali melihat pantulan dirinya di cermin dan merapihkan pakaiannya. "Beneran gapapa?" Alaia tiba-tiba memeluk Erick dari belakang dan memasang ekspresi manjanya. Erick langsung menoleh ke arah Alaia. Jangan manja-manja begini kenapa sih pagi-pagi? Jangan bikin aku telat ke rumah sakit deh batin Erick. "Iya-iya gapapa" Erick memalingkan wajahnya. "Beneran?" Alaia malah semakin mengetatkan pelukannya di pinggang Erick. "Iyaaa" jawab Erick dengan nada lembut. Alaia pun melepas pelukannya. "Yaudah. Aku tunggu di bawah ya" Alaia keluar dari kamar sambil menenteng tas kerjanya. "Untung di lepas ama dia. Kalo gak, pikiran gue pagi-pagi begini malah makin kacau. Abis 'airbag'nya kerasa banget"  **** Alaia sibuk mengemasi barang-barangnya untuk pergi ke Bali. "Kamu bawaannya dikit juga" Erick memperhatikan isi koper istirnya itu. "Aku biasa mix and match baju, terus aku juga bawa deterjen buat cuci baju" jawab Alaia.  Kedua bola mata Erick menangkap sesuatu di koper Alaia. Erick langsung menoleh ke Alaia memastikan istirnya itu masih sibuk memilih baju apa yang akan di bawanya. Bra. Berjalan dua tahun menikah, Erick sejujurnya tidak pernah tahu menahu tentang pakaian dalam istrinya ini. Ia sering kali melihatnya namun ia tidak pernah mau tahu tentang ukurannya. Baru kali ini dirinya tertantang untuk mencair tahu. Erick memperhatikan gelagat Alaia yang berada di depan lemari sambil berkacak pinggang itu. Tangannya mencoba menjangka bra berwarna peach dengan perlahan. Secepat kilat ia mencari tahu lalu kemudian di lipat kembali dan di letakkan seperti semula. "34 D?! Lumayan" Jika mereka berdua merupakan pasangan suami istri pada umumnya, mungkin Erick sudah bergelayut manja di tinggal Alaia hampir seminggu ke Bali. Sebisa mungkin ia menahan dirinya untuk tidak menunjukkan ekspresi sedihnya karena di tinggal istrinya ini. "Kamu kalo mau makan itu udah aku sedian daging yang frozen ya" ujar Alaia pada Erick. "Kalo mau sop, minta mbak bikinin aja ya" ujar Alaia lagi. Erick masih tetap diam dengan ekspresinya itu. Menyesali mengapa istrinya ini harus berjauhan darinya dalam waktu yang cukup lama. Namun di sisi lain, Alaia tetap harus bekerja. "Udah ya aku pergi dulu" uajr Alaia lalu berbalik badan menghadap Erick. Yang Alaia lihat adalah Erick dengan wajah datarnya, mengantarnya sampai ke pintu keberangkatan. Plak! "Hoy!" lagi-lagi tanpa melihat situasi, Alaia bar-bar seperti biasanya. "Aduh Ya. Ini kan tempat umum" ujar Erick sambil mengelus-elus lengannya yang di pukul Alaia. "Lagian kamu! Malah tiba-tiba nge-bug begini. Jangan-jangan kamu di rumah sakit begini juga ya? Sama pasien tiba-tiba nge-bug begini ya?" tanya Alaia sambil menunjuk Erick. "Apaan sih ah!" Erick mengibaskan jari telunjuk Alaia. Ia bener-benar bete karena istrinya ini harus berjauh darinya. "Udah sana pergi. Safe flight! Jangan lupa kalo udah sampe kabarin" ujar Erick. Alaia menatap suaminya dengan tatapan heran, lalu berbalik badan dan kemudian menghilang di tengah-tengah lautan manusia yang mengantri untuk naik pesawat. Erick benar-benar tidak bisa menutupi ekspresi kebosanan dan kesepiannya. Meskipun Alaia rajin memberi kabar dan sesekali mengirimkan foto pie s**u Bali sebagai sogokan agar Erick tidak sedih karena di tinggal hampir seminggu, nyatanya Erick tetap saja bosan. "Udah kenapa sih, bini lu ke sana kan kerja" ujar Marcel santai sambil melihat-lihat di sekitar lorong rumah sakit.  "Lu ntar ngajka bini lu Cel?" tanya Erick tiba-tiba. "ya diajaklah. Masa bini gue cuman di jadiin pajangan doang di rumah" ujar Marcel tidak terima. "Lagian lu katanya kagak cinta, tapi bete bener lu di tinggal ama Aya" Marcel sengaja menlontarkan kata-kata yang memancing. "Yaelah, emang kenapa sih kalo gue bete ditinggal sama Aya? Apa hubungannya juga sama cinta?" ujar Erick kesal. "Emangnya enak apa di rumah sendirian, kalo ada temannya kan enak" ujar Erick. "Ohh gitu" ujar Marcel sambil mengangguk-angguk mengerti. Mengerti bahwa temannya ini tidak ingin ketahuan bahwa ia sebenarnya sudah jatuh hati pada istrinya sendiri. "Udah ah, gue mau balik aja" ujar Erick sambil berjalan mendahului Marcel. **** "Udah makan belom?" tanya Alaia di sebrang sana. "Udah. Ini baru selesai makan" ujar Erick setelah menenggak segelas air putih setelah menghabiskan makan malamnya. "Bagus. Kalo di rumah jangna telat makan. Di rumah sakit juga jangan kalo emang gak ada pasien emergency"ujar Alaia. "Iya bawel" ujar Erick santai lalu berdiri dari kursi meja makan dan kembali ke kamarnya. "Kamu nanti kondangan pergi sendiri apa bareng Marcel?" tanya Alaia. "Ya sendirilah. Dia mah sama istrinya" jawab Erick. Ada rasa kesal jika harus membayangkan Erick pergi sendirian, sementara temannya itu pergi dengan istrinya. Alaia hanya menjawab dengan dehaman saja. "Temen kuliahmu itu satu jurusan sama kamu?" tanya Alaia. Diam-diam, Alaia sengaja memberikan pertanyaan menjebak agar ia bisa tahu apakah Laras juga ikut di undang di acara pernikahan itu atau tidak. "Enggak bukan, temen tongkrongna tapi akrab. Aku lupa dia anak akuntansi apa manajemen" ujar Erick. Haduh gue gak tua lagi Laras dulu kuliahnya apa batin Alaia. "Hmmm yaudah kalo gitu ya. Nanti aku telfon lagi . Bye" ujar Erick. Setelah istirnya itu memutuskan panggilan mereka, Erick duduk dan berpikri apa yang ia harus lakukan sekarang. "Nonton Netflix? Belom keluar eipisode baru. Nyamperin Marcel? Itu bocah lagi asik main sama anaknya. Enak kali ya kalo punya anak satu gitu ngomong-ngomong"  **** Alaia menghadiri acara peresmian restoran milik seorang rekan bisnisnya. Berhubung restoran tersebut berkonsep outdoor, Alaia memilih untuk tidak memakai dress dengan bagian belakan yang terbuka. Menghindari dirinya masuk angin, karena sejujurnya ia memang mudah masuk angin. Alaia meninggalkan kamar hotelnya dan kemudian segera menuju restoran tersebut menggunakan mobil yang ia sewa selama berada di Bali. Sesampainya Alaia di tempat tersebut, ia langsugn mengisi daftar hadir tamu dan kemudian memasuki area restoran yang identik dengan nuansa Bali. Lebih enak lagi kalo ngajak Erick batin Alaia. Jika Erick tidak ada menghadiri undangna pernikahan temannya, mungkin suaminya itu bisa menemani Alaia di sini, menikmati udara Bali di malam hari yang romantis. Alaia menyapa rekan sesama chef lainnya yang juga di undang di acara peresmian ini. Ia juga berbinca-bincang dengan obrolan ringan.  "Kayaknya kita emang jodoh deh, ketemunya di sini" suara berat dan terdengar cukup familiar itu membuat Alaia menoleh. Rama. GIMANA BISA MANUSIA SETENGAH IBLIS INI ADA DIHADAPAN GUE? Alaia tidak habis pikir bagaimana bisa mantan kekasihnya itu muncul di hadapannya. Sebisa mungkin ia mencoba untuk tidak menampilkan ekspresi kagetnya mendapati Rama berada di tempat yang sama dengannya. Di hadapannya pula. Alaia memilih untuk tidak menggubris Rama dan tidak berada di sekitar Rama. Ia sungguh berharap mantan kekasihnya itu tidak berbuat yang aneh-aneh yang membuatnya malu. Namun ternyata, Rama memang tidak mau menyerah untuk mendapatkannya lagi. Rama tidak ada henti-hentinya menempel di dekatnya sambil menyapa orang sana sini. Alaia benar-benar risih dengan apa yang dilakukan oleh Rama. Alaia tidak habis pikir dengan yang dilakukan oleh Rama. Terlepas dari statusnya yang sudah menikah atau pun belum, tidak seharusnya Rama bersikap seperti itu padanya di hadapan semua orang. Meskipun Rama tidak sampai menyentuhnya. Alaia tidak bisa menutupi rasa dan ekspresi tidak nyamannya ketika Rama berada di sekitarnya. Keitka Rama lengah, Alaia memanfaatkan kesempatna ini untuk 'kabur' sejuah mungkin dari Rama. Masa bodoh dengan acara peresmian yang belum selesai, Alaia sangat tidak nyaman dengan yang di lakukan oleh Rama. Jijik bukan main! "Sinting bener punya mantan!" ujar Alaia sambil berjalan menuju mobil sewaannya yang sudah ia pesan untuk segera menjemputnya. Di dalam mobil Alaia lebih banyak diam karena benar-benar kesal dan tidak nyaman dengan yang di lakukan oleh Rama. Ia sudah tidak peduli lagi dengna acara tadi, karena ia benar-benar tidak nyaman.  Yang ia inginkan sekarang hanyalah bisa menyendiri. Begitu sampai di hotel, Alaia langsung turun dari mobil dan bergegas menuju kamarnya. Ia ingi segera membersihkan dirinya dan mengganti pakiaannya ke piyama tidurnya. Ia memesan makanan melalui layanan pesan antar online karena perutnya keroncongan, tidak sempat mencicipi makanan enak di restoran milik temannya tadi. Begitu selesai mandi, Alaia duduk termenung sendiri di sofa empuk kamar hotelnya. Ia tidak menyangka akan bertmeu dengan Rama, dan diperlakukan seperit itu oleh Rama. Diikuti terus, di dekati, bahkan Rama tidaks eganseganmengatakan ia dan Alaia memang tengah dekat. Sungguh hal paling menjijikan yang pernah Alaia alami seumur hidupnya. "Kayaknya kalo waktu itu gak say yes, mendingan nemenin Erick kondangan" ujar Alaia menghela napas. Alaia langsung mengambil ponselnya dan mencoba untuk menghubungi Erick. Sayangnya, suaminya itu tidak kunjung mengangkat panggilannya. Alaia menaruh kembali ponselnya dan menyantap makanan yang ia pesan. Seteleh selesai makan dan membuang kemasannya, Alaia tidak bisa menahan kantuknya dan langsung tertidur setelah menggosok giginya.  Ketika ia sudah terlelap dengan penerangan kamar yang minim, satu pesan masuk ke ponslenya. Erick Maaf gak aku angkat, tadi aku baru selesai operasi. Kenapa?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN