"Nih dari bini gue" Erick memberikan sekotak pie s**u pada Marcel.
"Asek!!!" pekik Marcel riang ketika menerima oleh-oleh dari Erick.
"Eh tapi lu beenrna gak bisa dateng karena operasi kan?" tanya Marcel dengan penuh selidik.
"Lu tanya aja sana sama petugas ruang operasi" ujar Erick sambil melangkah keluar dari ruangan Marcel.
Saat dirinya hendak bersiap untuk berangkat ke acara pernikahannya, tiba-tiba ia mendapatkan telfon dari rumah sakit untuk melakukan operasi darurat terhadap seorang korban kecelakaan lalu lintas.
Langsung saja Erick berangkat menuju rumah sakit untuk segera menangani pasiennya, dan melupakan tentang undangan tersebut.
Saat operasi berlangsung, ponselnya berdering.
Ketika ia membuka ponselnya setelah operasi, ternyata Alaia sempat menelfonnya malam-malam. Entah apa yang di pikirkan oleh Alaia hingga istirnya itu menelfonnya malam-malam, namun yang pasti perasaan Erick sendiri juga tidak enak, jadi ia langsung mengirim pesan pada istrinya.
Namun sepertinya Alaia sudah terlelap, dan baru membuka pesannya di pagi hari.
Erick masuk ke dalam ruang kerjanya dan kemudian duduk bersandar di sofa empuk berwarna putih itu.
Ia mengambil toples berisi keripik buatan Alaia.
Ia mengunyah keripik tersebut sambil berpikir mengapa Alaia menelfonnya malam-malam begitu.
Kangen?
MUSTAHIL!
Sangat mustahil rasanya Alaia sampai merindukan dirinya.
Namun Erick penasaran bukan main mengapa Alaia menelfonnya malam-malam begitu.
Susah tidur? Butuh teman bicara? Atau hanya sekedar ingin menganggu Erick saja?
****
Sejak pulang dari Bali, Alaia memilih untuk tidak terlalu aktif di media sosialnya.
Hal ini karena ia tidak ingin mengetahui kabar apapun tentang Rama 'dari' teman-temannya.
Ia sejujurnya masih traum dengna tindakan Rama.
Beruntung dirinya dan Rama tidak saling bertemen di sosial media manapun.
Sebisa mungkin Alaia memproteksi dirinya dari Rama. Ia juga tidak ingin Rama tahu tentagn pernikahannya, ia ingin membuat Rama malu karena selama ini mendekati istri orang.
"Hoy, ngelamun aja" ujar Erick sambil menepuk paha Alaia.
Alaia terbangun dari lamumannya ketika Erick menepuk pahanya itu.
"Besok pagi jangan bangunin kecuali shalat subuh ya. Aku besok gak jadi operasi" ujar Erick.
"Loh? Kenapa?" tanya Alaia.
"Pasiennya meninggal" ujar Erick tenang lalu menarik selimutnya, dan bersiap untuk tidur.
Alaia kaget mendengar jawaban Erick.
"Kamu kok jawabnya santia gitu" ujar Alaia.
"Ya aku jawabnya musti gimana Aya?" tanya Erick sambil memiringkan kepalanya.
"Kalo udah meninggal ya aku mau gimana lagi?" tanya Erick lagi.
Alaia masih terdiam dengna ekspresi yang tidak bisa diartikan.
"Hal biasa yang terjadi di dunia rumah sakit" ujar Erick santai.
"Kamu ngomong-ngomong kok nelfon aku malem-malem?" tanay Erick.
"Malem-malem? Pas kapan?" tanya Alaia bingung sambil mengerutkan keningnya.
"Pas kamu di Bali ituloh" ujar Erick.
"Ohh itu" Alaia seketika teringat oleh kelakuan menjijikan Rama.
"Pengen nelfon aja. Emang gak boleh?" tanya Alaia berusaha menutupi kegusarannya.
"Beneran?" tanya Erick memastikan sambil menepuk-nepuk bantal.
"Iya beneran" ujar Alaia.
"Kamu sendiri, gak jadi kondangan? Kenapa? Gak ada temennya?" tanya Alaia.
"Enggak. Ada operasi darurat kemaren pas aku lagi siap-siap. Dapet elfon dari rumah sakit soalnya ortoped yang lain lagi gak bisa" ujar Erick dengan santai.
Kayaknya emang jujur deh dia. BUkan akrena gak ada gue yang nemenin, dna bukan gara-gara ada Laras juga batin Alaia.
Alaia hanya mengangguk-angguk.
"Marcel bilang makasih buat pie susunya" ujar Erick lagi.
Alaia mengangguk lagi.
"Kamu jadwlanya besok ngapain?" tanya Erick.
"Ya ke restoran kayak biasa. Kenapa?" tanya Alaia.
"Nonton yuk" ujar Erick tiba-tiba.
Kedua bola mata Alaia terbelakak saat menolah ke arah Erick.
Ayo dong plis, seenggaknya sebelum kita pisah, kita sempet kencan batin Erick.
Ini dia secara gak langsugn ngajakin gue kencan gak sih? Alaia bertanya-tanya dalam hatinya.
"Mau nonton dimana?" tanya Alaia.
"Di PP aja. Abis itu terserah mau jalan-jalan, juga boleh" ujar Erick sambil menatpanay.
Meski tidak mengatakan secara gamblang, namun srorot kedua bola mata Erick meninjukkan ia sungguh berharap Alaia menyediakan waktunya untuk berkencan dengannya.
"Boleh" jawab Alaia manis.
Erick langusng menoleh dengan antusias.
"Yaudah, ntar alu jemput kamu di restoran kamu ya" ujar Erick.
"Terus nanti mobl aku gimana? Aku kerja besoknya gimana?" tanya Alaia.
"Aku anterin"
****
Biasanya, Alaia tidak pernah bingung akan mengenakan apa untuk berangkat ke kerja.
Jika biasanya ia cuek, kali ini ia bingun karena sepulang kerja nanti Erick akan menjemputnya untuk first date mereka.
"Make baju yang mana ya?" Alaia membongkar lemari pakaiannya, mencair pakaian yang cocok untuk kerja sekaligus kencannya nanti.
"Kamu ngapain?" tanay Erick yang melihat Alaia kebingungan di depan lemari pakaiannya.
"Nyari baju" jawab Alaia tanpa menatap Erick.
"Aku ke bawah duluan ya" ujar Erick sambil menutup pintu kamar mereka. Meninggalkan sendirian di kamar untuk mengganti pakaiannya.
Sejujurnya, sesampai di kantor, Alaia tidak bisa fokus bekerja.
Otaknya terus terpaku tentang acara kencan pertamanya dengan Erick.
Sudah suami istri namun kelakuannya seperti baru pertama kali pacaran dan di ajak kencan oleh kekasihnya.
Sepertinya ketika dulu Alaia pertama kali pacaran pun tidak seperti ini.
Hampir setiap saat, Alaia melihat jam tangannya.
Ia antara grogi, mendamba dan bingung untuk nanti siang.
Sebisa mungkin Alaia fokus bekerja. Menaruh ponselnya jauh-jauh dari jangkauannya agar ia tidak terus menerus memeriksa ponselnya.
Dan usahanya berhasil.
Alaia bisa berkonsentrasi bekerja tanpa di ganggu oleh pikirannya yang bingung sendiri.
Tahu-tahu ketika sibuk bekerja, ponselnya berdering, membuat Alaia langsung berlari ke arah ponselnya untuk mengangkat ponselnya.
Erick calling . . . .
"Halo?" Alaia langsung menjawab panggilan tersebut.
"Ya, aku udah mau jalan ya dari rumah" ujar Erick yang nampaknya baru saja menutup pintu.
"Oh iya, kalo udah deket-deket, bilang ke aku ya, biar aku bisa langsung turun" ujar Alaia.
"Okay, see you" ujar Erick lembut.
Alaia girang sendiri mendapatkan kabar Erick sudah berangkat dari rumah untuk menjemputnya first dte.
Hal ini yang membuat Alaia semangat bekerja agar pekerjaannya lebih cepat selesai dan ia memiliki beban pekerjaan yang lebih sedikit.
DI tengah-tengah bekerja, ponselnya bergetar lagi.
Erick
Aku udah mau sampe ya
Tanpa berpikir dua kali, Alaia langsugn membereskan meja kerjanya dan segera keluar dari ruang kerjanya.
Ia menekan tombol di lift dengan riang.
Tidak pernah ia sesenang ini diajak kencan.
Sesampainya di lobby, Alaia menunggu Erick di luar, sengaja agar ia lebih cepat pergi dengan Erick.
Ketika mobil Erick memasuki pelataran restorannya, Alaia langsung menghampiri mobil tersebut.
Sebisa mungkin Alaia tidak ingin terlihat terlalu bahagia dengan acara kencan ini.
Saat sudah masuk ke dalam mobil, Erick langusng meninggalkan kantor istrinya itu dan menuju resotran yang sudah ia reservasi untuk makan siang.
"Kita lunch sekali-sekali rada fancy ya?" tanya Erick.
"Emang biasanya gak fancy ya?" tanya Alaia heran.
"Kalo aku sih gak. Baru mau makan ada pasien baru kadang-kadang" uajr Erick sambil tertawa kecil.
"Biasanya cuman pecel lele, kali ini agak sophisticated tanpa di ganggu telfon rumah sakit" ujar Erick.
****
Alaia tahu restoran yang dituju oleh Erick.
Tentu saja karena restoran ini milik temannya sendiri.
Keduanya masuk kedalam setelah Erick memarkirkan mobil dengan ajsa vallet parking.
Setelah duduk di tempat yang sudah di reservasi, keduanya langsung memesan makanan.
Memang dasarnya keduanya doyan makan, tanpa di suruh pasti akan langsung memesan.
"Abis ini nonton yuk, di bawah" ujar Erick setelah pelayan yang mencatat pesanan mereka pergi.
Alaia mengangguk.
"Kamu seharian ini off?" tanya Alaia.
Erick mengangguk.
"Gak ada operasi, aku juga gak ada jadwal visit, rawat jalan juga gak ada" ujar Erick.
Alaia hanya mengangguk.
"Terus abis nonton mau kemana?" tanya Alaia dengan nada manja.
Alaia yang menyadari nada suaranya itu jadi jijik sendiri, dan berharap suaminya tiak merasa jijik ketika mendengar suaranya.
"Abis nonton mau kemana lagi?" tanya Alaia lagi.
Terserah. Mau jalan-jalan hayuk, mau jalan-jalan ke tempat lain juga gapapa" ujar Erick santai.
Setelah menunggu beberapa saat, pesanan mereka datang.
Ketika makan selesai di tata oleh pelayan, baik Erick maupun Alaia langusng menyantap makanan mereka.
Keduanya hanya sesekali menimpali, dan lembali fokus menyantap makanan.
"Kamu aku ajak jalan begini, gak ada kerjaan penting gitu?" tanya Erick di sela-sela makan.
Alaia menggeleng.
"Gak ada. Gak ada meeting atau yang penting lainnya" ujar Alaia.
Erick hanya mengangguk.
"Untuk beberapa bulan kedepan jadwalku gak sibuk" ujar Alaia.
"Ya ngandep aku deh" ujar Erick.
Alaia langsung menoleh lurus ke arah Erick.
Erick mengelap sudut bibirnya yang memiliki noda.
Alaia terdiam melihat perbuatan Erick.
Erick melipat tisu yang ia gunakan untuk mengelap noda tersebut, dan menaruhnya di samping piring bekas makannya.
Walau sudah melanjutkan makan, otak Alaia seperti sedikit lemot karena tindakan Erick tadi.
Tidak pernah terpikir Erick akan seperti ini padanya.
Simple namun romantis.
"Udah belom makannya? Kalo belom sini aku bantuin" ujar Eirck yang sudah memegang garpu dan pisau.
"Enakan aja!" ujar Alaia sambil tertawa melihat Erick yang sudah siap untuk mneyantap makanan yang masih tersisa banyak di piringnya.
"Aku pesen tiket, kamu pesen pop corn" ujar Eirck.
"Pop corn asin atau yang karamel?" tanya Alaia.
"Terserah. Mau sendiri-sendiri juga gapapa. Aku mau yang asin aja" ujar Erick.
"Okay" dengan yakin Alaia berbalik badan dan melangkah menuju counter pop corn.
Erick duduk di sebuah sofa di tengah-tengah bioskop, sambil menunggu Alaia membeli pop con untuk mereka.
Jika diperhatikan, Alaia terlihat lebih berwarna dan ceria hari ini ketika di ajak kencan olehnya. Erick sendiri juga grogi dan bingung ketika mengajak Alaia kencan secara dadakan.
Jika saja Alaia tahu, Erick sengaja mengambil cuti hari ini dari rumah sakit, karena ingin menghabiskan waktu dengannya.