First Date (2)

1500 Kata
Selesai makan siang, Erick dan Alaia berjalan-jalan di dalam mall. Keduanya refleks bergandengan tangan layaknya pasangan suami istri pada umumnya. Seakan-akan mereka memang menikah karena rasa sayang. "Mau beli skin care?" tanya Erick tiba-tiba ketika kedunya melintasi sebuah toko skincare langganan Alaia. "Hah?" tanya Alaia yang tidak mudeng dengn pertanyaan suaminya itu. "Mau beli skin care  apa enggak?" tanya Erick sekali lagi. "Nggak. Masih banyak kok" ujar Alaia. Erick hanya mengangguk-angguk mengerti saja, sambil terus berjalan-jalan mengelilingi mall, menunjukkan betapa bangganya ia memiliki seorang Alaia Taraya. Kedua bola mata Alaia tertuju pada sebuah toko es krim yang begitu menggodanya meskipun ia sudah kenyang makan siang dengan menu steak. "Aku boleh beli es krim gak?" tanya Alaia dengan nada penuh harap. "Boleh. Sama tokonya sekalian juga boleh" ujar Erick yang langsung mengajak Alaia ke toko es krim tersebut tanpa babibu lagi. Sesampainya di sana, ia membiarkan Alaia memilih varian rasa es krim yang ia inginkan. Erick tidak membeli es krim tersebut, ia hanya mencicipi sekali dua kali saja pada es krim Alaia nanti. Tanpa di minta Erick langsung membayar es krim tersebut ketika Alaia sudah sampai di kasir. "Kamu kenapa gak mau beli aja?" tanya Alaia sambil asuik menyantap es krim miliknya. Persis seperti seorang anak kecil yang sangat bahagia baru dibelikan es krim oleh ayahnya. "Gak mau aja. Aku cuman mau cicip cicip aja punya kamu" ujar Erick sambil berjalan. "Mau jalan kemana lagi?" tanya Alaia. "Mau nonton film? Apa masih mau tawaf keliling mall?" tawar Erick. "Kemana gitu. Ke art gallery gimana?" tanya Alaia. "Jam segini mah udah tutup. Liat-liat baju aja yuk?" tanya Erick. "Yaudah, tapi aku abisini es krim dulu" "Bosen ah keliling mall aja. Udah yuk kemana gitu" ujar Alaia yang bosan berada di mall sedari siang hingga sore hari. "Makan malem di luar aja ya" ujar Alaia lagi dengna nada manja pada Erick. "Iya. Mau dimana?" tanya Erick. "Kaki lima aja. Kangen aku makan kaki lima, udah lama juga gak makan kaki lima" ujar Alaia sambil berjalan beriringan dengan Erick. Alaia seakan benar-benar lupa bahwa ia dan Erick menikah karena terpaksa. Ia bertingkah seakan-akan ia benar-benar menikah karena jatuh cinta pada Erick. "Kamu emang selama di kantor kalo laper mesen gitu ke bawah?" tanya Erick. "Gimana mau mesen? Restoranku rame melulu, gka sempet kali koki masakin buat aku. Palingan aku pesen Go Food yang paling cepet" ujar Alaia. "Kamu sendiri di rumah sakit? Makannya gimana?" tanya Alaia balik. "Ya kalo gak mesen kayak kamu gitu, ya aku makan di rumah makan di belakang rumah sakit. Kadang nitip beli ama suster atau OB juga" ujar Erick. Bahkan berjalan di parkiran mall pun terada romantis bagi keduanya. Erick mengarahkan mobilnya keluar dari parkiran mall dan mulai berjalan-jalan berkeliling jalanan Jakarta yang sudah mulai padat merayap karena sudah mulai memasuki jam pulang kantor. "Nanti di jalan kalo ada jajanan beli ya" ujar Alaia manja ketika melihat gerobak yang menjajakan gorengan.  "Iyaa" jawab Erick tidak kalah lembut. Sepertinya keduanya sudah lupa akan perjanjian yang mereka buat sendiri. Keduanya saling melempar kasih sayang pada satu sama lain. "Mau beli batagor" ujar Alaia dengna nada manja bukan main ketika melihat gerobak batagor di pingig jalna. Cukup di beri kode sekali, Erick langsung mengarahkan mobilnya ke arah sebuah pusat jajanan yang terletak di pinggir jalan. "Kita sekalian makan malam aja yuk" ujar Alaia yang sudah tergdoa oleh aroma sate, nasi goreng, mie ayam dan seblak yang sibuk di racik oleh para penjual makanan.  Erick menurut saja semua yang di inginkan oleh Alaia hari ini. Benar-benar setiap keinginan Alaia di turutinya hari ini. "Sana pesen duluan gih" ujar Erick ketika baru saja duduk di sebuah kursi plastik. Dengan gerakan cepat, Alaia langsung mesan siomay dan es kelapa muda untuknya dan Erick. "Silahkan Mas, Mbak" ujar penjual makanan sambil menaruh piring berisi siomay yang lengkap beserta bumbunya. Tentu saja Alaia sudha lupa dengna ritual memotret makanannya, dna langsung melahap siomay tersebut. Sedangkan Erick makan dengan santai, sambil sesekali menyeruput es kelapa mudanya. "Woi makannya santia aja kali" ujar Erick yang melihat Alaia makan terlalu lahap. Alaia tidak mengindahkan ucapan Erick, dan tetap asyik makan. Sepertinya memang Alaia sudah lama menginginkan untuk menyantap makanan kaki lima begini. "Aku pesen sate padang boleh gak?" tanya Alaia lagi setelah piring yang berisi siomay itu bersih. Erick mengangguk. "Tapi ntar malem kamu mau makan apa? Nasi goreng? Ayam geprek? Ayam bakar? Mie ayam? Jadi kamu gak kenyang-kenyang amat" tanya Erick. "Sate padang gak bikin kenyang kok. Aku pesen gapake lontong juga. Ya ya ya? Boleh ya?" tanya Alaia memohon. "Yaudah sana pesen" ujar Erick santai. Alaia pun bergegas memesan sate padang, lalu kembali ke kursinya. "Jarang-jarang nih aku bisa makan begini. Kamu kan tau aku kalo makan di jaga banget" ujar Alaia. "Ini gak di jaga. Tadi udah makan sapi, sekarang makan sapi lagi. Terus makan siomay, belum ntar makan malem" ujar Erick. "Ya kan biasanya di jaga. Nasi merah, sayur-sayuran rebus, es krim yang gluten free" ujar Alaia. "Sekali-sekali, kamu makan yang agak bandel begini gapapa kok. Gak bakalan bikin kamu auto gemuk" ujar Erick. Ketika sate padang pesanannya datang, ia sudah tidak lagi menghiraukan Erick. Ia hanya fokus pada sate padangnya saja. Selesai dengan petualangan kuliner kaki lima, Erick dan Alaia memilih untuk langsung pulang karena kedunaya sudah lelah dan kenyang bukan main. Kali ini Alaia tidak akan peduli jika berat badannya naik karena ia makan banyak sekali kalori hari ini. Yang penting rasa kangennya pada makanan-makanan kaki lima dapat terobati hari ini. "Besok kamu masuk kayak biasa lagi?" tanya Alaia pada Erick yang tengah menyetir itu. "Iya, besok ada rawat jalan sama visit pasien" ujar Erick. Alaia mengangguk mengerti. "Stok cemilan kamu masih aman'kan? Apa udah mulai menipis?" tanya Alaia. "Aman kok. Aku kan suka berbagi Jadi makin aku suka bagi-bagi, makin dapet lebih banyak cemilan lagi aku" ujar Erick bangga. Sesampainya di rumah, Alaia langsugn menuju kamarnya untuk membersihkan diri, baru di susul oleh Erick setelah suaminya itu mengunci pagar rumah mereka. "Capek banget hari ini" ujar Alaia sambil mengeringkan rambutnya dengan hair dryer yang menyala dengan suara yang tenang. "Untung kita gak kalap ya. Gak bisa nyetir aku kalo misalkan sampe kalap begini" ujar Erick yang menyeka rambutnya yang juga baru selesai keramas dengan handuk. Erick melempar asal handuk basahnya itu ke sudut tempat tidur, lalu bersiap tidur. Hal ini ternyata mengundang kekesalan pada Alaia. "Anduknya jangna di lempar ke situ dong" ujar Alaia sambil memungut handuk suaminya itu dan mengacungkanya pada Erick. "Yaudah, tolong taroin ya. Aku ngantuk banget" ujar Erick sambil menguap lalu menarik selimut hingga sebatas dagunya lalu mulai memejamkan matanya. **** Alaia terbangun dengan sisi tempat tidur Erick yang sudha rapih. Sudah biasa. Biasanya Erick akan melakukan ini jika ia mendapatkan telfon darurat dari rumah sakit dan harus segera melakukan tindakan operasi. Yang jelas, Alaia terbangun dengan perasaan bahagia. Tentu saja bahagia, karena ia kemarin bisa menghabiskan waktu berdua dengna Erick tanpa di ganggu dengan pekerjaan apapun. Makan bersamanya, jajan bersamanya, mengelilingi mall hingga bosan dan mengakhiri acara kencan mereka dengan makan malam di kaki lima yang sudah lama ia rindukan jelas membuat Alaia bahagia. "Sering-sering deh kayak begini" ujarnya sambil tersenyum sendiri. Namun sekejap, Alaia teringat kembali dengna perjanjiannya. Tahun ini adalah tahun terakhirnya dengan Erick menjadi suami istri. Tiba-tiba ia benaknya terlintas wajah kedua orang tua dan mertuanya. Kedua orang tuanya yang sudah menyayangi Erick seperti anak mereka sendiri, begitu juga dengan kedua orang tua Erick. Cantika, adik perempuan Erick juga sudah menganggap Alaia seperti kakaknya sendiri. Apalagi, impian memiliki kakak perempuan adalah harapan Cantika, yang akhirnya 'dikabulkan' oleh Erick, ketika menikah Alaia. Alaia tiba-tiba tidak bisa membayangkan jika ia harus benar-benar berpisah dengan keluarga Erick yang sudah sepeerti keluarganya sendiri ini. Namun pikirannya teralihkan ketika ia melihat jam di dinding kamarnya. Ia harus segera bersiap berangkat ke kantornya. Setelah selesai mandi dan tengah merias diri, asistennya mengirimkan jadwalnya hari ini - Meeting sama Head Chef Hotel Meriton  - Monthly internal meeting  - Review menu baru  Alaia hanya mengangguk sambil mengoleskan foundation di wajahnya sambil sesekali melirik iPad miliknya itu. "Nah udah selesai" ujarnya setelah selesai memakai lipstick berwarna nude di bibirnya itu. Ia lalu bergegas mengambil tas kerjanya dan memeriksa beberapa barang yang akan ia bawa hari ini. "iPad, charger, daily planner, pulpen, sun glasses, permen karet, personal pouch, dompet. Hmm apalagi ya" Alaia memeriksa isi tasnya sambil menyebutkan satu per satu barangnya sambil di masukkan ke dalam tasnya. "Botol minum!" Alaia langsung mengambil botol minumnya yang ada di meja nakasnya. Ia membuang sisa air kemarin di wastafel kamar mandinya. Begitu sampai meja makan, Alaia mendapati sarapannya sudah siap di atas meja. "Wah tumben banget nih si mbak bikinin roti bakar, kopi sama dim sum segala di panas. Asikk" ujar Alaia senang lalu segera duduk di kursi. Tepat sebelum Alaia mulai menyantap sarapannya, sebuah kertas putih terselip di bawah piring berisi dim sum, makanan favoritnya. "Sori ya aku tinggal, ada pasien darurat. Di abisin ya sarapannya, gak kau kasih sambel soalnya masih pagi. Gak lucu pagi-pagi sakit perut gara-gara sambel"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN