Sesuai dengan permintannya, keesokan harinya Alaia ikut dengan Erick.
Sehari bersama Erick, dan melihat kegiatan suaminya sebagai seorang dokter bedah ortopedi.
"Kamu parkirnya khusus dokter apa umum?" tanya Alaia ketika turun dari mobil dan menunggu Erick.
"Khusus dokter" ujar Erick lalu dengan santainya menggandeng tangan Alaia.
Alaia hanya mengangguk saja mendengar jawaban Erick.
Jika di awal pernikahan mereka Erick dan Alaia lebih menjaga jarak dan kontak fisik satu sama lain, sekarang keduanya lebih leluasa.
Erick menekan tombol lift, lalu menunggu lift terbuka.
Ketika pintu lift terbuka, keduanya langsung masuk ke dalam lift.
"Dari sini kita ke ruang praktek apa ke ruangan kamu?" tanya Alaia seperti anak kecil yang sedang di ajak ayahnya pergi ke tempat baru.
"Ruangan aku. Naro tas, ganti baju" jawab Erick.
Alaia memperhatikan videotron tentang kesehatan dan bahaya merokok.
"Beda ya, kalo di restoran aku lift isinya promo dinner sama menu baru" ujarnya sambil tetap memperhatikan videotron.
"Ada juga kok yang isinya promo paket medical chek up" ujar Erick.
Saat pintu lift terbuka, keduanya langsung keluar dan berjalan.
Alaia bisa melihat lorong rumah sakit yang luas.
Rumah sakit di pusat kota Jakarta ini memang tidak tanggung-tanggung dalam hal memberikan fasilitas. Baik untuk pasien, maupun dokter dan perawatnya.
"Gede juga rumah sakitnya" ujar Alaia sambil melihat-lihat ke sekeliling rumah sakit.
Sedangkan Erick tetap berjalan menuju ruangannya.
"Pagi Pak" ujar Erick pada seorang satpam yang bertugas ketika membuka ruangan utama dokter bedah.
"Pagi dokter" ujar satpam tersebut.
"Ngajak istri dok?" tanya satpam tersebut.
"Dia yang mau di ajak. Bosen di rumah katanya" jawab Erick singkat lalu berjalan ke arah ruangannya.
Sepanjang lorong ruang kerja dokter, Alaia tidak berhenti melihat-lihat papan nama di tiap-tiap pintu.
"Marcel ruangannya dimana?" tanya Alaia.
"Di di lorong sebelah" ujar Erick.
Sampailah ia di ruang kerja suaminya.
dr. Erick Hardianto Sp. OT
Dokter Spesialis Bedah Orthopedi dan Traumatologi
Bersih dan nyaman.
Dua kata yang menggambarkan ruang kerja suaminya ini.
Tidak terlalu banyak barang-barang, hanya ada beberapa barang pribadi Erick yang dibutuhkannya jika harus menginap di rumah sakit.
Begitu duduk di sofa, Alaia merasa begitu nyaman.
"Kamu kalo tidur di sofa ini dong" ujar Alaia sambil menepuk sofa tersebut.
Erick menjawabnya dengan mengangguk, sambil bersiap-siap untuk segera praktek di jadwal rawat jalannya.
Rasanya ingin sekali Alaia mengganti sofa di ruang kerjanya dengan sofa yang ia duduki ini. Ia tentu bisa tidur dengan pulas jika masih berada di kantornya.
"Cemilan kamu taro di ......" belum sempat Alaia melanjutkan pertanyaannya, kedua bola matanya sudah terpaku pada Erick yang sedang mengganti bajunya ke scrub.
Alaia hanya bisa diam dan menelan ludahnya sendiri melihat pemandangan ini.
Setelah mengganti atasannya, Erick mengganti bawahannya tanpa mempedulikan Alaia.
Bisa-bisanya dia tenang ganti baju begitu depan gue
Setelah selesai mengganti baju, Erick berbalik badan dan mendapati Alaia yang terpaku pada dirinya.
Ia pun kaget dan menyadari apa yang baru saja ia lakukan.
Tentu saja Erick tidak terpikir untuk mengganti bajunya di toilet. Ia dan Alaia sudah suami istri dan hal wajar jika ia mengganti pakaiannya di depan Alaia.
"Udah yuk, aku ada rawat jalan" ujar Erick sambil mengambil name tag dan jas dokternya yang tersampir di kurisnya.
"Udah hayuk" Erick menarik Alaia yang masih duduk mematung di tempatnya.
****
Alaia tidak pernah melihat keramaian seperti ini sebelumnya.
Pasien-pasien duduk dan beberapa berdiri di depan ruang tunggu, menunggu giliran mereka untuk menjalani rawat jalan dengan dokter masing-masing.
"Pagi Bapak Ibu" ujar Erick tersenyum ke kanan dan kiri sambil berjalan membelah pasien-pasien yang tengah menunggu.
"Pagi dokter" jawab pasien-pasien tersebut sambil tersenyum ramah.
Alaia hanya tersenyum simpul pada beberapa psien dan terus mengekor kemana Erick pergi.
Untuk pertama kalinya, Alaia akhirnya menyambangi ruang praktek Erick di rumah sakit.
Sama seperti ruang praktek dokter lainnya, tidak ada yang berbeda.
"Duduk situ aja kamu" ujar Erick sambil menujuk sebuah kursi kosong di salah satu sudut ruangan.
"Kayak anak di hukum aja" ujar Alaia sambil duduk di kursi tersebut.
"Dok, ini rekam medisnya" ujar suster sambil masuk ke ruangannya, sekaligus kaget dengan kehadiran Alaia.
"Gak, ini bukan pasien kok. Ini istri saya" ujar Erick pada suster yang bingung.
Suster tersebut langsung tersenyum ramha pada Alaia.
"Aku mendingan di luar aja deh, gak enak kamu lagi praktek aku di sini. Privasi pasiennya gak ada" ujar Alaia yang langsung berdiri.
"Terus kamu mau kemana?" tanya Erick.
"Di ruangan kamu aja" ujar Alaia.
"Kesambet apa lu tiba-tiba mau ke sini?" tanya Marcel pada Alaia sambil menjilat es krimnya.
"Gak boleh emangnya?" tanya Alaia.
"Ya gapapa sih" ujar Marcel.
Halah, bilang aja pengen tau kantor lakiknya kayak apa
"Iya iya. Percaya gue" ujar Marcel.
"Ngomong-ngomong kalo rawat jalan tuh lama ya?" tanya Alaia.
"Hooh. Biasanya pasien pasti bakalan nanya macem-macem sama dokter. Ada beberapa yang emang butuh tindakan pas rawat jalan" ujar Marcel.
Alaia hanya berdeham saja mendengar jawaban Marcel.
"Lu hari ini gak masuk kantor dong" ujar Alaia.
Alaia menggelengkan kepalanya.
"Enak ye kalo jadi bos" ujar Marcel.
"Ya gue juga bolos begini sekali-sekali. Ini pertama kalinya gue bolos sejak nikah. Sebelumnya gak pernah" ujar Alaia.
Ponsel Alaia tiba-tiba bergetar, membuat pemiliknya langsung mengeluarkannya dari saku celananya.
Erick
Kamu sama Marcel dulu ya. Ajak aja anaknya main kek atau gak minta traktir makan juga gapapa. Aku ada operasi dulu
"Cel ajakin gue makan di restoran belakang sini dong. Kata Erick enak makanannya" ujar Alaia.
"Ntar aja ini belom jam makan siang" ujar Marcel.
"Hih! Justru mumpung belom jam makan siang, kita kudu ke sana biar kagak ngantri" ujar Alaia sambil menepuk lengan Marcel cukup keras.
"Aduh Aya! Sakit anjir!" ujar Marcel meringins sambil mengusap-usap lengannya.
"Bisa ya Erick tahan di pukulin kayak begini ama lu" ujar Marcel.
"Erick gak pernah tuh kena pukul begitu sama gue" ujar Alaia sambil berjalan dan melihat-lihat suasana sekitar rumah sakit.
"Masa?" tanya Marcel sangsi.
"Iyalah. Dia soalnya gak rese kayak lu begini"
****
"Udah tunggu sini aja, ntar juga keluar anaknya. Tadi gue udah bilang suster lu nungguin si Erick" ujar Marcel yang bersiap akan melaksanakan operasi.
"Lu kalo pake pakean begini kok baru keliatan dokternya gitu" ujar Alaia sambil memperhatikan Marcel dari atas hingga bawah.
"Keliatannya gimana?" tanya Marcel dengan pernuh percaya diri.
"Baru keliatan punya wibawa gitu" ujar Alaia sekenannya.
"Udah duduk yang manis di sini" ujar Marcel sebelum masuk ke dalam ruang operasi, meninggalkan Alaia yang menunggu Erick.
Alaia memperhatikan orang-orang yang berdiri di sekitar ruang operasi.
Kebanyakan dari mereka menunggu sanak keluarga mereka yang sedang di operasi.
Sedangkan Alaia menunggu suaminya yang mengoperasi, mungkin salah satu dari keluarga mereka yang tengah menunggu sekarang.
Ketika pintu utama ruang operasi terbuka, ternyata Erick baru saja selesai dengan operasinya, dan hendak menemui keluarga dari pasiennya.
Ini pertama kalinya sejak menikah, Alaia melihat Erick yang sangat berbeda saat menjadi seorang dokter.
Begitu berwibawa dan cerdas. Cara bicaranya juga sangat sopan dan sebisa mungkin Erick memberikan penjelasan semudah mungkin agar keluarga pasien mudah mengerti.
Setelah berpamitan dengan keluarga pasien, Erick menghampiri Alaia yang duduk menunggu dirinya.
"Udah di jajanin apa aja sama Marcel?" tanya Erick sambil duduk di sebelahnya.
"Es krim, sayur asem empal sama ayam bakar" ujar Alaia.
"Udah cobain restoran di belakang rumah sakit?" tanya Erick.
"Itu tadi makan sayur asem empal sama ayam bakar di situ. Juara banget sambelnya, sayur asem empalnya apalagi" ujar Alaia yang masih terngiang-ngiang dengan kelezatan sayur asem empal tersebut.
Pantas saja Erick suka makan di restoran itu, ternyata memang lezat.
"Abis ini kamu mau kemana?" tanya Alaia lagi.
Alaia menatap wajah Erick yang tampak lelah setelah selesai operasi.
"Aku ada jadwal visit pasien. Kamu tunggu di ruangan aku aja gih" ujar Erick.
"Lama gak?" tanya Alaia.
"Agak lama" ujar Erick.
"Yaudah, aku ke ruangan kamu aja" ujar Alaia.
"Yuk pulang" ujar Erick setelah selesai mandi dan sudah mengganti pakaiannya.
"Sini kunci mobilnya" ujar Alaia sambil menadahkan tangan.
"Mau ngapain?" tanya Erick heran.
"Aku aja yang nyetir" ujar Alaia cepat.
"Ngapain? Udah aku aja" ujar Erick.
"Gak. Kamu keliatan banget capeknya. Gak bisa di bohongin" ujar Alaia tegas.
"Just give me the key, and I'm going to drive home" ujar Alaia.
"Jadi gimana? Mau ngikutin aku lagi seharian?" tanya Erick ketika Alaia sedang fokus menyetir.
"Mau dong. Seru juga ngikutin kamu seharian" ujar Alaia riang.
Ini pertama kalinya Alaia menyupiri Erick.
Suaminya itu diam-diam tersentuh dengan perhatian kecil Alaia.
Padahal Alaia mungkin juga lelah dan bosan karena beberapa kali ia tinggal untuk operasi dan visit pasiennya.
"Mbak udah di suruh masak belom?" tanya Alaia pada Erick.
"Udah. Udah siap juga katanya tinggal nunggu kita pulang" ujar Erick.
Alaia hanya mengangguk setuju saja.
"Kamu sering ya operasi dadakan gitu?" tanya Alaia sambil merebahkan dirinya ke headboard.
"Gak juga. Yang udah terjadwla juga ada kok" ujar Erick santai sambil membalas pesan-pesan.
"Kalo rawat jalan selama itu ya?" tanya Alaia lagi.
Erick menjawabnya hanya dengan dehaman.
Alaia pun terdiam setelah Erick menjawab.
"Kamu bosen ya nungguin aku tadi?" tanya Erick tiba-tiba sambil menoleh kearah Alaia.
"Gak kok. Cuman mungkin karena baru pertama kali aja" ujar Alaia.
"Ya kalo ngandelin Marcel, anak itu gak selalu bisa juga" ujar Erick.
"Tapi masih mau ngikutin aku di rumah sakit" tanya Erick.
"Mau dong!"