Sejak mengikuti Erick seharian di rumah sakit, Alaia jadi ketagihan sendiri mengunjungi suaminya itu.
Beberapa kali Alaia menyemaptkan diri menghampiri Erick di rumah sakit, biasanya pada jam makan siang. Begitu juga Erick yang menyempatkan diri untuk mengunjungi Alaia di restorannya.
Keduanya saling mengunjungi.
Hari ini Alaia berencana mengajak Erick untuk makan siang di restoran temannya yang baru saja buka. Letaknya tidak jauh dari rumah sakit Erick.
Dengan bergumam ria, Alaia menyetir mobilnya menuju rumah sakit Erick.
Ia sudah membayangkan makanan apa saja yang akan ia pesan untuknya dan Erick nanti.
Dengan penuh keriangan Alaia berjalan keluar kantornya untuk menunggu mobilnya di lobi.
Setelah mobilnya sampai, ia langsung masuk dan meluncur menuju rumah sakit Erick.
****
Dengan langkah penuh keyakinan, Laras masuk ke dalam lobi megah rumah sakit Erick bekerja.
Kali ini pokoknya ia harus bisa mendapatkan perhatian Erick.
Bagus-bagus kalau Erick tergoda dan memilih meninggalkan istrinya, lalu kembali ke pelukannya.
Oh tentu saja kehadirannya ini tidak di ketahui oleh Erick maupun Marcel.
Ia mencari tahu sendiri ruang praktek Erick dengan modal papan-papan nama dan petunjuk di rumah sakit.
Sempat beberapa kali salah jalan, Laras akhirnya berhasil menemukan ruang praktek Erick.
Ia bahkan berhasil mengetahui bahwa hari ini Erick memang memiliki jadwal praktek rawat jalan dari pembicaraan pasien-pasien yang menunggu di ruang tunggu.
Ia menunggu agak jauh dari ruang tunggu.
"Gila lama juga ya dokter kalo praktek" ujarnya yang sudah bosan menunggu dari tadi.
Tidak akan menyangka ia harus menunggu selama ini.
Laras bangkit dan mencoba mengintip apakah pasien yang duduk di ruang tunggu tersebut sudah mulai berkurang atau belum.
"Sus, pasien dokter Erick tinggal berapa lagi? Saya yang nomor berapa?" tanya seorang pria paruh baya pada seorang suster.
"Tinggal empat lagi, Bapak yang abis ini" ujar suster tersebut sambil menghitung rekam medis yang tersisa di tangannya.
Empat lagi, seenggaknya satu sampe satu jam setengah gue harus nungguin Erick sampe dia kelar praktek
Laras mau tidak mau harus menunggu Erick dengan waktu yang cukup lama.
Sembari menunggu, Laras berusaha mati-matian untuk menutup wajahnya dengan maskernya. Ia sangat berharap Marcel tidak tiba-tiba melintas dan mengenali dirinya.
Setelah menunggu beberapa saat, Erick akhirnya selesai praktek dan Laras yang mendengar suara Erick yang tengah berbicara dengan suster itu langsung mempersiapkan diri untuk segera mencegat Erick.
"Halo Rick, kamu sibuk gak?" tanya Laras dengan penuh kelembutan sambil menonjolkan lekuk tubuhnya yang dibalut dengan pakaian seksi ini.
Erick terkejut begitu melihat Laras yang begitu sensual di hadapannya.
Bukannya tertarik, Erick justru jijik dengan tingkah mantan kekasihnya ini.
Laras tidak segan merapatkan tubuhnya ke Erick.
"Udah mau jam makan siang nih, kita makan siang yuk? Di restoran belakang rumah sakit aja gimana? Aku denger-denger enak nih" ujar Laras merayu dengan suara sesensual mungkin.
"Makan aja sana sendiri" ujar Erick yang mencoba untuk menepis tangan Laras yang hendak mendarat di bahunya.
Erick juga risih dengan tatapan orang-orang yang membuantya tidak nyaman ketika Laras mencoba untuk merayu.
Tanpa di duga-duga, Laras memeluk Erick dengan mesra di muka umum.
Sungguh Laras benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya.
Erick berusaha sekuat tenaga untuk melepask pelukan Laras, namun seprtinya wanita itu malah semakin mempererat pelukannya pada Erick.
Erick akhirnya menyerah dan diam ketika Laras memeluknya dengan kencang.
Tepat ketika ia baru saja berhenti, Alaia melihat pemandangan yang membuat hatinya begitu terbakar.
"Ngapain peluk-peluk suami orang?!" gertak Alaia sambil menjambak rambut Laras yang tergerai itu.
Laras langsung melepaskan pelukannya karena jambakan Alaia yang begitu kuat.
Alaia melepaskan jambakannya karena Laras sudah melepas pelukannya dari Erick.
"Ngapain situ meluk-meluk suami orang heh!" teriak Alaia kasar pada Laras.
Ini pertama kalinya sejak menikah, Erick melihat Alaia begitu marah.
"Haduh apaan sih!!" keluh Laras sambil memegangi kepalanya karena kesakitna dijambak oleh Alaia.
"Apaan sih? Heh harusnya saya yang ngomong kayak gitu!" Alaia mendorong Laras hingga ke tembok.
Pergulatan pun tidak bisa di hindari, Alaia tidak ada habisnya memukul, menampar dan menjambak Laras.
Laras yang tidak siap dengan serangan Alaia itu tidak bisa melawan pukulan, jambakan dna tamparan Alaia yang membabi buta.
Erick berusaha untuk memisahkan kedua wanita itu.
"Ada apa sus ribut-ribut?" tanya Marcel ketika melihat keributan tersebut.
"Itu dok, istrinya dokter Erick.." belum sempat suster tersebut melanjutkan ucapannya, Marcel yang sudah melihat dengan siapa Alaia bergulat langsung berlari membantu Erick memisahkan Alaia dan Laras.
"Udah-udah, Ya udah!!" Erick menarik Alaia agar tidak lagi menyerang Laras, Marcel menarik Laras agar tidak semakin babak belur di hajar oleh Alaia.
Setelah berhasil memisahan kedua wanita tersebut, Marcel segera membawa Laras menjauh dari jangkauan Alaia agar wanita itu tidak di hajar lagi, dan ia bisa membersihkan luka yang dialami oleh Laras.
Sebelum keadaan semakin runyam, Erick pun menarik Alaia menjauh dair seua orang yang melihat mereka.
Erick menyeret Alaia ke dalam ruang kerjanya.
"Ya, kamu tuh kenapa sih?" tanya Eric.
"AKU KENAPA? MENURUT KAMU? APA BSA AKU TINGGAL DIEM KAMU DI PELUK-PELUK SAMA LARAS?" ujar Alaia dengan amarah yang membumbung tinggi itu.
Erick tidak percaya bagaimana ceritanya Alaia bisa mengetahui tentang Laras.
"Ya, dengerin aku dulu. GIni ceritnaya ..." Erick pun menceritakan bagaimana bisa Laras memeluk dirinya.
Untungnya Alaia masih bisa menahan emosinya dan tidak langsung memberondong Erick dengan berbagai tuduhan tidak berdasarnya.
"Aku bener-bener gak ada apa-apa sama Laras. benerna deh" Erick mencoba meyakinkan Alaia bahwa ia dan Laras sudah tidak ada apa-apa lagi.
"Gimana bisa aku percaya? Kalo dia bisa tiba-tiba datengin kamu terus meluk segala! Makan bajunya seksi bukan main!" ujar Alaia lagi.
Rencana makan siang yang sudah ia susun dengan Erick, menguap begitu saja.
Pemandangan menjijikan tadi sudah membuat seluruh rencana yang Alaia susun hangus seketika terbakar api cemburunya.
"Kamu juga mustinya bisa langsung menghindar dong. Atau gak kalo udah di peluk gitu ya buru-buru menghindar dong" ujar Alaia yang masih kesal.
Tiba-tiba ponsel Erick berdering di tengah percekcokan antara ia dan Alaia.
"Halo" ujar Erick menjawab panggilan tersebut.
"Okay okay yaudah kalo gitu" ujar Erick sambil melirik Alaia yang duduk melipat tangannya di sofa ruang kerjanya.
Istrinya itu masih berusaha untuk mengatur emosinya.
Moodnya benar-benar berantakan hari ini.
"Ya, please percaya sama aku. Gak ada hubungan apa-apa kok aku sama dia. Okay iya, aku ngaku dia emang coba buat deketin aku lagi, tapi kau gka pernah peduli sama dia" ujar Erick.
"Nahkan! Dia emang udah usaha buat deketin kamu!" ujar Alaia dengan nada tinggi.
"Jangan-jangan dia sering dateng ke sini ya?" tuduh Alaia tiba-tiba.
"Gak Aya! Beneran deh! Dia cobanya dari temen-temen aku!" ujar Erick membantha tuduhan Alaia.
Berarti marcel tua dong kalo Laras deketin Erick batin Alaia.
Jika sudah dalam situasi seperti ini overthinking Alaia akan semakin menjadi.
Akan muncul berbagai macam pikiran bahkan tuduhan-tudahan yang tidak berdasar yang siap ia lemparkan ke suaminya ini.
***
Setelah keadaan agak mereda, Erick masih berada di dalam ruangannya. Ia tidak berani keluar dari ruangannya karena belum siap dengan tatapan aneh rekansejawatnya itu.
Suara ketukan di pintu ruan gkerjanya membuat Erick langusng menoleh.
Marcel langsung masuk dan segera mengunci pintu runag kerja temannya itu.
"Sekarang lu jelasin semuanya ke gue!" uajr MArcel ayng langsung duduk di hadapan Erick dnegan raut wajah serius.
Erick pun menceritakan dari A sampai Z kepada Marcel.
Temannya itu tidak habis pikir bagaimana bisa Laras senekad itu mendatangi Erick dan 'menerkam' dengan begitu tiba-tiba.
"Gila juga tuh ewek ya. Demi deh" ujar Marcel.
"Terus tuh mak lampir udah lu obatin belum lukanya?" tanya Erick.
"Udah. Luka sih sedikit. Banyakan memar aja gara-gara di tmapar Alaia. Sama dia ngeluh sakit kepalanya gara-gara di jambak. Kencang juga kayaknya Alaia ngejambaknya" ujar Marcel.
Erick hanya bsia megnhela napas frustasi.
"Jangan ampe gue di panggil kepala departemen" ujar Erick.
Ia baru saja memulai kariernya sebagai dokter spesialis oprtopedi selama satu tahun, dan sekarnag mantan kekasihnya bisa-bisa menghancurkan kariernya dalam seketika.
"b******k banget gue punya mantan!" keluh Erick.
"Terus Aya gimana?" tanya Marcel.
"Langsung gue seret ke sini, marah-maran abis itu. Gue gak bisa ngitung ada berapa tuduhan dia ke gue. Bener-bener deh Cel. Pusing gue sekarang" ujar Erick yang frustasi setengah mati.
Marcel hanya bisa menghela napas melihat temannya yang kebingungan ini.
****
"Jadi begitu Dok ceritanya. Saya benar-benar minta maaf atas ketidak nayaman dan kegaduhan yang terjadi hari ini" ujar Erick dengan penuh penyesalan.
Seorang dokter senior yang menjabat sebagia ketua departemen bedha ortopedi ini bisa menyikapi dengan dewasa dan bijak.
Benar-benar mengerti apa yangterjadi di luar kuasa Erick, ia bahkan meminta rekaman CCTV di sekitar ruang praktik Erick agar ia bisa megnambil keputusan yang adil dengan melihat dari bukti yang konkrit yaitu dari CCTV.
Setelah diskusi tersebut berakhir, Erick diperbolehkan keluar dari ruangan tersebut dan kmebali ke ruangannya.
Ada rasa lega di hatinya karena kariernya masih selamat, namun masih ada setengah lagi yang terasa berat karena Alaia masih belum selsai dengan kesalah pahamannya dengan kejadian tadi.
Ia tidak tahu sekarang harus bersikap seperti apa pada istirnya ini jika nanti ia pulang.
Biasa saja?
Mengajak Alaia berbicara dengan pikiran tenang?
Apa Alaia sudah menyiapkan bantal, guling dan selimut di depan kamar mereka untuknya tidur di luar kamar?
Atau Alaia kembali ke apartmennya untuk menenangkan dirinya?
Atau yang paing parah, Alaia kembali ke rumah orang tuanya dan menceritakan apa yang terjadi hari ini pada kedua orang tuanya?