Perihal Meja Nakas

1500 Kata
Setelah selesai mengurus beberapa hal, Erick akhirnya bisa kembali membuka praktek ketika ia kembali ke Indonesia. Sekaligus ia bisa langsung menemati rumah barunya.   "Ya, kamu masak apa?" tanya Erick ketika baru sampai di rumah, sepulang praktek.   "Tuh, bejejer di meja makan. Khusus buat hari pertama kamu praktek" ujar Alaia sambil melihat-lihat pesan masuk di ponselnya.   Erick berjalan menuju ruang makan rumah barunya. Erick tidak bisa menahan decakan kagumnya melihat banyak makanan lezat di meja makan.   "Gak nyesel gue nikahin nih cewek" ujar Erick sambil tetap melihat-lihat makanan yang ada di atas meja.  "Udah, mendingan kamu mandi terus makan. Aku juga belom makan. Bareng yuk makannya" ujar Alaia menepuk pundak suaminya.  "Jadi gimana? First day kamu?" tanya Alaia.  "Alhamdulillah lancar" ujar Erick sambil tetap menyendokkan makanan ke mulutnya.   "Ya pasien masih sedikit, tapi gapapa. Namanya masih baru" ujar Erick optimis.  Alaia hanya mengangguk-angguk saja dengan ucapan Erick. "Kamu sendiri gimana di restoran?" tanya Erick pada istrinya.  "Baik-baik aja kok. Ya karena mau ada menu baru jadi seminggu ini kerjaannya testing menu baru terus" jawab Alaia.  Selesai makan malam, Alaia menaruh piring-piring kotor di wastafel dan membiarkan pembantu rumah tangga mereka mencuci semuanya. Sedangkan Erick, sibuk memperhatikan ruang tamu dan kamarnya yang masih kosong dan minim barang-barang.  "Ya, besok temenin ke Ikea yuk" ujar Erick sambil tetap memperhatikan ruang tamu mereka. "Oh iya, kita belom beli sofa" ujar Alaia sambil berjalan menuju suaminya itu.  "Kamar kita juga masih kosong. Gak ada jemuran anduk, terus meja nakas juga gak ada. Kamar mandi kamar kita juga perlu beberapa organizer" ujar Erick lagi.  "Sekalian deh beli yang lain juga. Itu tempat beras juga gak ada. Mau bawa yang dari apartemen gak muat di dapur" tambah Alaia.   "Kita ke kamar aja deh yuk. Biar jelas besok mau beli apaan aja" ujar Erick yang berbalik badan menuju lantai dua, kamar mereka.  "Meja nakas beli dua, terus jemuran anduk juga beli dua, tempat beras beli dua..." ujar Alaia sambil mengetik daftar barang yang akan ia beli besok.  "Ngapain tempat beras beli dua?" tanya Erick.  "Eh! Maap!" Alaia buru-buru meralat daftar belanjaannya.  "Tambahin juga gantungan kunci. Beli dua. Satu di kamar, satu di bawah" ujar Erick.   "Nanti pajang di sini" Erick menunujuk sudut tembok kamarnya untuk memajang gantungan kunci.  "Itu meja kok berantakan ya" ujar Erick yang tidak tahan dengan meja yang berantakan itu, lalu berjalan menuju meja nakas sementara itu dan duduk di tepi tempat tidur.  "Udah ah! Besok aku beresin!" omel Alaia ya g kemudian mengekor Erick.  "Besok kan kita mau pergi! Kapan mau beresin?!" omel Erick.  Selanjutnya yang terjadi adalah Erick dan Alaia berebut body lotion milik Alaia yang tergeletak di meja itu.  "Udah ah sini aku aja yang beresin!!" omel Alaia sambil menarik body lotion miliknya dari tangan suaminya.  "Kapan mau kamu beresin coba hah?!" omel Erick balik pada istrinya sambil menarik body lotion milik Alaia.  Karena tarikannya terlalu kuat, Erick malah terdorong ke tempat tidur, dan Alaia jatuh terjerambab tepat diatas tubuhnya.  Kok kayak ada yang ganjel ya batin Alaia ketika terasa sesuatu mengganjal di perutnya.  Kenapa pake acara jatoh di bagian situ sih Erick berusaha mati-matian agar tidak menciptakan gerakan tidak terduga.  "Ya Ya Yaaa bangun Ya" ujar Erick sambil menepuk-nepuk lengan Alaia. Istrinya itu buru-buru bangun dari posisinya.  Setelah Alaia bangun, Erick pun bangkit dari posisinya. "Kalo gitu, beresin sekarang, besok kita pergi. Bisa-bisa kita lama disana Kamu kapan beres-beresnya coba?" ujar Erick menaruh body lotion Alaia di meja itu lagi.  Alaia salah tingkah sendiri karena inside jatuh tadi.  ****  Dengan luwesnya Erick menggandeng Alaia masuk ke dalam toko furniture asal Swedia itu. "Kita langsung cari aja ya, gausah jalan-jalan kesana kemari. Kita pasit butuh waktu juga buat masang ini itu segala macem" ujar Erick yang dengan santainya menggandeng Alaia kemana pun. Alaia menurut saja digandeng dengan mesra oleh Erick seperti itu. "Kamu mau yang kayak gimana?" tanya Erick sambil melihat-lihat sofa yang berjejer. "Apanya yang kayak gimana?" tanya Alaia bingung. "Ya Kamu mau yang kayak gimana sofanya?" tanya Erick. "Loh? Itukan buat rumah kamu" tanay Alaia. "Aku gak ngerti soal model-modelan sofa Ya. Kamu aja yang pilihin" ujar Erick santai sambil tetap melihat-lihat sekitarnya. "Ya kamu pikir emangnya aku ngerti?" tanya Alaia balik. "Kalo kamu suruh aku buat milih perlatan dapur, kamu nanya ke orang yang tepat. Lah kamu nanya soal sofa begini, ya mana aku tau" tambah istrinya lagi. Erick hanya tersenyum simpul sambil menoleh sebentar ke arah istrinya itu. Paling gak, setelah kita pisah nanti, kalo aku kangen kamu, tinggal liat sofa aja biar kangenku ilang  Keduanya melihat-lihat dan sesekali mencoba beberapa sofa. "Kalo aku sukanya sih, sofa yang ini, sma sofa yang tadi tuh yang warna broken white" ujar Alaia. "Aku juga suka yang tadi. Udah satu set sama meja, terus desain mejanya juga keren" ujar erick. "Balik ke sana lagi kali ya?" tanya Alaia. Erick pun mengangguk setuju lalu kembali ke sofa yang tadi mereka coba. Setelah selesai berbelanja kebutuhan rumah mereka, Erick dan Alaia memilih untuk berjalan-jalan sebentar sebelum pulang. "Mau makan apa?" tanya Erick sambil mengarahkan setir mobilnya keluar dari area parkiran. "Makan es krim! Aku udha lama banget gak makan es krim" ujar Alaia. "Bukannya direstoran kamu ada menu es krim ya? Kamu kan bisa langsung pesen" ujar Erick. "Ya aku kan sibuk! Kemaren ada acara, terus sekarang lagi product testing buat menu baru. Terus nanti ngurusin kerjaan di restoran lain" ujar Alaia. "Ya kan bisa gitu mesen teruus kirim. Apalagi kamu juga lagi bolak balik dapur begini, bisa bangetlah pasti" ujar Erick. "Udah ah! Pokoknya aku mau makan es krim! Terus makan junk food abis ini" ujar Alaia. "Tumben. Biasanya kamu gak mau makan junk food" ujar Erick. "Ini kan lagi weekend. Itung-itung cheat day" ujar Alaia. "Okay okay, kita cari yang kamu mau" ujar Erick menuruti keinginan Alaia. "Mau kulitnya boleh gak?" tanya Alaia pada Erick yang memisahkan kuliat ayam dengan dagingnya. Erick langsung menoleh kearah istrinya ketika kelimat itu terlontar. "Gak" jawab Erick singkat, padat, jelas dengan nada dingin. "Yahh aku mau" Alaia mencoba merayu Erick dengan mengeluarkan jurus puppy face iandalannya. Hish! Kalo begini pengen gue cium aja rasanya  "Gak Aya. Plis, dokter juga manusia, butuh energi buat operasi tulang" ujarErick menarik tempat makan berisi kulit ayam itu dari jangkauan pandangan mata Alaia. "Yahh, plisss sekali aja" ujar Alaia dengan nada sangat memohon. "Gak" sahut Erick cepat. "Ahh kamu mah gitu. Aku kan jarang-jarang minta kulit ayam sama kamu" ujar Alaia dengan nada merajuk. "Ya iyalah jarang, orang kita berdua jarang makan beginian bareng" ujar Erick yang dnegan lahap menyantap ayam gorengnya itu. Alaia mengerucutkan bibirnya. Sebal karena suaminya ini tidak juga mengiyakan permintaannya itu. Melihat Alaia yang aga sedih, Erick luluh sendiri. "Okay aku kasih nih, tapi cuman segini" Erick pun menaruh sedikit potongan kulit ayam di wadah tempat makan Alaia. "Kok sedikit banget?" tanya Alaia dengan nada memelas. "Ya kan aku juga mau! Lagian siapa suruh mesennya burger" ujar Erick kesal karena Alaia malah melunjak begitu. "Take it or leave it" tanya Erick sambil menatap lurus ke arah istrinya itu. Tanpa ditanya untuk kedua kalinya, Alaia akhirnya mengambil potongan kulit ayam yang sudah di berikan oleh Erick dengan ekspresi wajah kesal karena ternyata suaminya itu termasuk pelit untuk urusan kulit ayam goreng.  **** "Ya ampun, capek juga ya" ujar Alaia ketika selesai membersihkan diri. Sepulang dari Ikea, Alaia dan Erick langsung merakit meja nakas untuk segera digunakan. Erick sudah tidak tahan melihat meja nakan sementara yang berantkan itu. "Hufftt akhirnya kelar juga" Erick menepuk-nepuk meja nakas di samping tempat tidurnya. Keduanya membeli dua meja nakas. Satu di sisi kiri, sisi Alaia tidur dan satu di sini kanan, di sisi Erick tidur. "Nah besok mejanya di lipet terus taro di gudang" ujar Erick. Ia teringat dengan berantakannya meja itu tadi pagi. "Iya iyaaa" jawab Alaia. "Kamu udah isi meja nakasnya?" tanya Erick pada istrinya yang tengah mengisi baterai ponselnya. "Udah" jawab Alaia singkat. "Aku mau naro tapi bingung mau naro apaan" ujar Erick. "Ya taro aja, hape, terus misalkan jam tangan kamu atau apa gitu yang emang bikin kamu gampang nyari barangnya" ujar Alaia. "Di laci, bukan di permukaannya" ujar Erick. "Ya di laci terserah kamu, yang kamu butuhin aja dan kamu mau ambilnya gampang, gak susah" ujar Alaia. "Kayak kondom gitu?" tanya Erick. "KONDOM?" tanya Alaia sambil menoleh kearah suaminya. Dengan ekspresi tidak mengerti, Erick mengangguk. "Ngapain coba nyimpen gituan?" tanya Alaia dengan ekspresi geli. "Kan kamu sendiri udah mutusin kalo ada apa-apa, kita pake kondom aja" ujar Erick dengan santainya. Alaia mencoba untuk mengingat-ingat percakapannya dengan Erick tentang ini. "Ya tapi emang kamu benerna mau beli terus simpen di situ?" tanya Alaia memastikan. "Ya iyalah" ujar Erick. "Yang bener aja kamu ih!" Alaia memukul lengan Erick, yang mengakibatkan suaminya tu terlonjak kaget. "Heh! Kamu sendiri yang mutusin kan? Aku mah ikut aja. Kenapa sekarang kamu yang jijik sendiri?" Erick tidak mengerti dengan yang di bicarakan oleh istirnya ini. "Ya iya, itu emang sendiri aku yang mutusin, cuman .." ujar Aliaa menggantung. "Cuman apaan?" sahut Erick. "Kamu pengen kita beneran begitu ya?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN