Setelah puas menumpahkan segala emosinya pada teman-temannya, Erick bergegas pulang bersama Alaia.
Jika Alaia berpikir teman-teman lain yang menyaksikan akan menghakimi Erick tidak bisa menghargai hari kelulusan temannya, justru teman-teman yang lain sangat mendukung dengan apa yang dilakukan oleh Erick dan sama sekali tidak merasa keberatan.
"Kamu mustinya gak harus pas tadi juga dong. Itu kan acara wisuda temen kamu" ujar Alaia sambil masuk ke dalam rumah.
"Terus aku musti diem aja gitu?" tanya Erick kesal karena Alaia malah tidak menghargai apa yang ia lakukan.
"Ya tapi apa gak bisa kamu sabar sedikit sampe kita keluar dari area kampusnya? Baru deh abis itu kamu labrak abis-abisan juga gapap deh. Aku gak enak sama temen-temen kamu yang lain" balas Alaia.
"Yang lain aja biasa aja, malahan ngedukung aku kok tadi" jawab Erick tidak terima.
Alaia hanya menghela napas kasar melihat apa yang dilakukan oleh suaminya tadi.
"Aku jadi musti diem-diem aja gitu kamu di injek-injek gitu harga dirinya?" tanay Erick kesal.
Kenapa gue jadi marah banget dia di gituin ya?
Erick bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Mengapa bisa ia semarah itu pada teman-temannya yang sudah berbicara seenaknya tentang Alaia tanpa ada satupun fakta yang benar.
"Ya bukan berarti diem-diem aja. Aku gak bilang dan maksud begitu kok. Tapi liat situasi dong" ujar Alaia.
"Gak bisa. Masih mending tadi aku ngomongnya biasa-biasa aja. Belom aja aku ngomongnya sambil teriak-teriak, malahan kalo udah gak bisa nahan emosi bisa aja aku main tangan ke mereka. Bodo amat mau mereka cewek, aku bisa aja mukul mereka" ujar Erick yang sudah kesal setengah mati.
Alaia yang sudah kesal memilih untuk membersihkan wajahnya dari riasan yang ia gunakan, lalu mengganti pakaiannya.
Ia membiarkan Erick meredam emosinya di kamar, sedangkan Alaia menyibukkan diri dengan memasak untuk makan siang mereka.
Keduanya memilih untuk saling diam, dan sibuk dengan pikiran masing-masing.
Marah sih marah, ya tapi jangan sampe begitunya juga dong. Acara wisuda orang jadi kacau begitu. Biar temennya udah biasa aja tapi bukan berarti bisa semau dia juga
Alaia berkutar sendiri dengan pikirannya sambil memotong-motong bahan makanan yang akan dimasaknya.
Atau mungkin dia lagi sandiwara aja?
Tapi kalo emang sandiwara doang seharusnya dia gak sampe segininya dong? Kita sampe diem-dieman begini
Jika memang benar Erick hanya bersandiwara saja di hadapan teman-temannya karena tidak ada seorang pun yang tahu jika dirinya dan Erick hanya pura-pura menikah.
Gak mungkin kan Erick beneran jatuh cinta sama gue? Dan dia marah, gak teria gue diginiian?
Kenapa sih dia gak bisa ngerti? Gue tuh gak bisa nahan emosi kalo ada yang berani nyakitin dia.
Erick sibuk dengan pikirannya sendiri.
Heran sendiri mengapa Alaia tidak bisa mengerti bahwa dirinya tidak bisa terima jika wanita itu disakiti siapapun, sekalipun pernikahan ini hanyalah fiktif.
Sedari tadi, Alaia mendiamkannya, dan memilih untuk menglaihkan pikirannya ke masakan.
Sedangkan Erick hanya duduk termenung dengan pikirannya sendiri di sofa ruang tengah.
Keduanya tidak mau saling melihat, atau bertegur sapa.
****
Hari sudah berganti malam, keduanya masih saja sibuk dengan pikiran masing-masing.
Alaia yang kukuh dengan pendiriannya, bahwa Erick tidak seharusnya mengacaukan hari kelulusan temannya, dan Erick yang kukuh karena ia tidak bisa menahan emosinya ketika da yang berani menghina Alaia.
Saat makan malam pun keduanya lebih banyak diam.
Erick hanya menurut saja diambilkan nasi, dan lauk pauknya oleh Alaia.
Selesai makan, Erick bahkan langsung mencuci bpiringnya sendiri, lalu masuk ke kamar.
Alaia yang seharian itu lelah karena membereskan rumah juga, hanya bisa menghela napas karena suaminya itu bukannya membantunya membereskan, malah main masuk ke dalam kamar.
"Bantuin kek. Udah tau banyak begini cuciannya. Dari tadi pagi juga masak, beres-beres sendiri" keluh Alaia sambil mengangkat piring-piring kotor di atas meja makan mereka.
Mau tidak mau Alaia mengerjakannya semua sendirian.
Meskipun memang terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah sendirian, namun harus Alaia akui ia kelelahan karena Erick tidak berinisiatif untuk membantunya.
Setelah selesai dengne pekerjaann rumahnya ini, Alaia langsung masuk ke kamar dengan wjaah yang sangat letih.
"Aku mau tidur. Plis kecilin volume laptopnya" ujarnya sambil menarik selimut sampai dagu lalu perlahana tertidur dengan pulas dengna nafas yang teratur itu.
erick menururti permintaan istirnya itu.
Ketika Alaia sudah benar-benar tertidur untuk beberapa saat, Erick pun mematikan laptopnya itu da nbersiap untuk tidur juga karena sudah mengantuk.
Erick memperhatikan wajah Alaia yang sedang tertidur dengan damainya di sampingnya itu.
Maaf ya, mungkin kalo aku gak maksa kamu buat nikah buru-buru ini semua juga gak bakalan terjadi
Erick menyadari bahwa insiden tadi pagi juga tidak akan terjadi jika ia tidak terburu-buru memaksa Alaia untuk menikah dengannya.
Erick terbangun lebih dulu dari Alaia.
Ia menatao istrinya yang masih terlelap itu.
Pasti dia kecapean kemaren gue tinggalin beresin dapur sendirian
Erick merasa bersalah atas apa yang ia lakukan kemarin pada istrinya.
Ia pun bangun lebih dulu untuk menyiapkan sarapan.
Alaia terbangun karena mencium baru omellete yang baru saja matang.
Ia berjalan menuju dapur sambil berajalan gontai dengan mata yang masih mengantuk.
"Mandi gih sana, abis itu sarapan" ujar Erick yang sibuk sendiri menata piring diatas meja ketika menyadari Alaia sudah bangun.
Alaia kemudian berbalik badan dan bersiap untuk mandi.
Keduanya menghabiskan pagi dengna sarapan bersama.
Baik Alaia atau Erick masih tetap kukuh dengan sikap dinginnya.
Selesai sarapan, Alaia yang selesai lebih dulu dan hendka mencuci piring, langsung dicegah oleh Erick.
"Aku aja yang cuci, udah kamu santai-santai aja" ujar Erick sambil menahan Alaia yang hendak membuka kran air di wastafel.
Alaia pun langsung menaruh piring kotornya di wastafel, dan meninggalkan Erick sendirian di dapur untuk membereskan sisa sarapan mereka itu.
"Ya, sini" Erick akhirnya memanggil Alaia untuk membicarakan masalah kemarin yang membuat keduanya larut dalam diam.
Alaia menurut saja, dan duduk di kursi meja makan disebrang Erick.
"Soal kemaren, kamu keselnya kenapa?" tanya Erick pelan-pelan.
Ia ingin mendengarkan keluh kesah Alaia.
"Ya bagian kamu ngerusak acara temenmu aja. Biar dia juga ngijinin ya tetep aja, kamu harusnya ngerti dong kalo itu tuh hari bahagia dia, gak seharusnya juga kamu ngerusak suasana begitu" ujar Alaia.
"Kamu bukannya gak boleh marah sama temen-temen kamu itu. Boleh, tapi ya liat sikon dong" ujar Alaia kesal.
Erick hanya mengangguk-angguk dengan ucapan Alaia.
"Okay-okay, soal itu aku minta maaf karena kemaren ngotot sama kamu" ujar Erick engan pelan.
Sebisa mungkin ia tidak ingin melibatkan emosi seperti kemarin. Bisa-bisa semuanya malah semakin runyam.
"Kamu juga marahnya, kok marah banget gitu?" tanya Alaia pada Erick.
Alaia sendiri juga heran dengan dirinya yang bisa semarah itu pada teman-temannya yang telah sembarang menuduh Alaia.
"Gak tau, aku rasanya marah banget kamu di gituin" ujar Erick enteng.
Baik Erick maupun Alaia, sebenarnya sadar keduanya sudah mulai jatuh hati pada satu sama lain.
Keduanya juga sadar, waktu mereka bersama sudah tidak banyak lagi. Ditahun kedua pernikahan, keduanya sudah sepakat untuk bercerai.
"Ya, biarpun kita nikah cuman 2 tahun begini ....." ucap Erick menggantung.
"Sedihnya kamu, itu sedihnya aku. Jadi kalo kamu kayak kemaren gitu, ya cerita sama aku. Jangan dipendem sendiri" ujar Erick.
Alaia terpana dengan ucapan suaminya itu.
"Apalagi kalo yang nyeplos gitu temen aku, ya ngomong aj akali. Gausha segen cuman karena itu temen aku" tambah Erick lagi.
"Ngerti?" tanya Erick lembut.
Seolah terhipnotis, Alaia mengangguk dengan ucapan suaminya.
"Yaudah kalo gitu, sekalian ada yang mau aku omongin" ujar Erick.
"Apa?" tanya Alaia.
"Aku rencananya mau beli rumah di Jakarta nanti" ujar Erick.
"Dana buat beli rumah udah ada. Ya aku sih gak mau beli rumah yang mewah-mewah banget, targetnya antara perumahan cluster atau ya perumahan biasa dikomplek gitu" ujar Erick.
"Kalo bisa sih carinya aku yang full furnished, biar tinggal bawa koper aja" tambahnya.
"Kamu lagi nyari rumah? Kayaknya temen SMP aku dulu ada yang kerja diperusahaan properti gitu deh" ujar Alaia sambil mengeluarkan ponslenya.
"Aku coba cek dulu ya, kalo emang bener dia masih kerja di properti nanti aku kirimin ke kamu" ujar Alaia sambil sibuk mencari kontak temannya itu.
"Nah ketemu!" pekik Alaia senang, dan langsung mengirimnya pada Erick.
Ketika menerima notifikasi dari istrinya itu, Erick langsung melihat-lihat rumah-rumah yang dijual di lama sosial media perusahaan properti tempat teman dari Alaia bekerja.
"Kamu rencana kapan balik ke Jakarta? Perlu di lobi dulu gak orangnya?" tanya Alaia antusias.
"Mungkin masih beberapa bulan lagi" ujar Erick.
"Boleh aja sih kalo kamu mau ngelobi. Kayaknya ada beberapa rumah yang aku taksir deh" ujar Erick sambil tetap serius melihat rumah-rumah tersebut.
"Kalo bisa bebeas banjir ya" imbuhnya lagi.
"Nih, aku kirimin ke kamu ya rumah yang aku taksir yang mana aja" ujar Erick sambil mengirimkan gambar beberapa rumah itu.
"Boleh juga nih rumahnya" Alaia melihat-lihat gambar-gamabr tersebut, membantu Erick mencari rumah yang nyaman.
"Kalo kamu misalkan datengin rumahnya terus bikin vidoe house tour gitu, mau gak?" tanya Erick.
Alaia mengangguk tanpa berpikir panjang.
"Boleh aja, kamu tinggal bilang aja mau rumah yang mana yang mau di liat-liat" ujar Alaia.
Erick hanya tersenyum mendengar Alaia yang cepat respon ini.
"Jadi abis beli rumah nanti, kita pindah ke rumah itu gitu?" tanya Alaia sambil beralih menatap suaminya.
Erick mengangguk.
"Kamu gak apa-apa ninggalin apartemen kamu?" tanya Erick.
"Gak apa-apa kok" ujar Alaia enteng.
"Kamu kok kepikiran buat beli rumah?" tanya Alaia.
"Ya, nanti abis kita pisah, aku udah punya rumah sendiri gitu"