Udah, Gak Usah di Dengerin

1500 Kata
"Selamat pagi dunia tipu-tipu" Erick bangun sambil nerenggangkan kedua tangannya, lalu tersenyum sambil melihat ke sekeliling kamarnya. Ia mendapati Alaia yang sudah bangun terlebih dahulu karena istrinya itu tidak ada di tempat tidurnya. Erick berdiri dan berjalan keluar dari kamarnya. Ketika sampai di dapur, ia melihat Alaia yang sibuk mempersiapkan untuk sarapan mereka. Sama seperti kemarin, pagi ini Alaia masih dengan sikap diamnya. Ia ogah bersuara sedikit pun.  Erick yang melihat istrinya sibuk memilih untuk langsung mandi dan segera menyantap sarapan. Rasa bahagia karena bisa lulus tepat waktu masih melingkupi suasana hati Erick. Tidak ada habisnya pria itu tersenyum. "Ya, abis ini jalan-jalan yuk" ujar Erick sambil memandang wajah istrinya itu. Alaia hanya menjawab dengan anggukan dan tetap mengunyah sarapan yang ia masak. Selesai sarapan, Alaia langsung mencuci piring kotornya dan segera mengganti pakaiannya untuk segera bersiap pergi dengan Erick. Sepanjang jalan, Alaia hanya diam, diam, dan diam. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut wanita itu. Hal ini mulai disadari oleh Erick. Jika dirinya dengan riang menikmati jalanan kota Amsterdam, lain dengan Alaia yang lebih banyak diam.  Padahal tadinya, sudah terbayang dibenaknya akan mengajak Alaia. Bahkan Alaia tidak ragu membuang muka. Kenapa diem aja sih? Diajakin jalan kenapa malah diem begini, orang mah seneng diajak jalan batin Erick ketika ia melirik Alaia. "Ya, makan yuk" ujar Erick sambil menggandeng tangan istrinya. "Dimana?" tanya Alaia tanpa mengelak gandengan tangan Erick.  "Depan sana kayaknya ada restoran. Yuk" ujar Erick sambil menuntun Alaia untuk ikut berjalan. Setelah makanan yang mereka pesan datang, Alaia langsung menyantap waffle yang masih panas itu. Erick memperhatikan Alaia yang menyantap waffle tersebut dengan santai dan tidak terburu-buru. Cewek tuh kenapa sih kalo ngambek diem aja, ngomong kek. Emang cowok cenayang apa batin Erick sambil menatap Alaia. "Kenapa gak di makan itu wafflenya?" tanya Alaia sambil sedikit mengunyah pada Erick. Erick langsung buyar dari lamunannya. "Masih panas" jawabnya ala kadar. "Justru enakan pas masih panas, kalo udah dingin gak enak" sahut Alaia, lalu lanjut menikmati makanannya itu. Selesai makan, Erick dan Alaia kembali lanjut berjalan-jalan. Erick mengajak Alaia untuk duduk-duduk sebentar di sebuah taman yang tidak begitu ramai. "Ya" panggil Erick saat Alaia sibuk dengan ponselnya. "Apa?" tanya Alaia sambil memasukkan ponsel ke dalam saku dalam jaketnya itu. "Kok dari kemaren diem aja?" tanya Erick langsung to the point. Alaia langsung menoleh ketika ditanya pertanyaan itu oleh Erick. Istrinya itu hanya menghela napas ketika Erick bertanya. "Aku perhatiin dari dari kamu diem aja" ujar Erick. "Dari tadi?" tanya Alaia balik. Erick mengangguk. "Dari kemaren kali" ujar Alaia lagi. "Yaudah, mau dari kemaren, dari tadi pagi kek. Kenapa sih?" tanya Erik yang tidak nyaman dengan sikap diam Alaia. Alaia hanya menghela napasnya dan teridam. "You know, aku tipe orang yang cuek aja. Gak mau dengerin omongan orang lain. Tapi gimana pun juga, sekeras apapun aku coba buat cuek, dan gak masukin ke hati tentang omongan orang lain, aku jgua manusia biasa. Bisa ngerasain sakit hati" ujar Alaia. "Kemaren waktu kamu wisudam waktu kamu lagi di asik ngobrol sama temen-temen kamu. There's a group of girls, talking about me" ujar Alaia sambil berusah amenahan kekecewaannya. Erick terus menatap ke arah Alaia. Menunggu lanjutan yang akan diceritakan oleh Alaia. "They talks so many things about me. What hurts the most is waktu mereka gnon stop ngomongin kalo aku hamil duluan makanya nikah sama kamu buru-buru begitu" ujar Alaia menahan air matanya. Kedua bola mata Erick melebar mendengar ucapan Alaia. Tidak percaya jika tidak hanya dirinya yang menerima perguncingan serupa ketika ia baru menikah, namuan Alaia juga kini menerima hal serupa. "Makanya kemaren aku ngajak kamu buat pulang tapi kamu masih asik ngobrol sama yang lain" ujar Alaia. "Waktu mereka mulai ngomongin aku, bodo amat. Udah sering kok aku diomongin di belakang begitu. Tapi lama-lama keterlaluan. Kenal aku juga enggak, kok bisa-bisanya ngomongin kayak begitu. Mulut kayak gak pernah disekolahin" ujar Alaia. Erick mengelap air mata Alaia dengna sapu tangannya. Emang b******k bener punya temen, muka dua semua batin Erick yang melihat Alaia sesunggukan di sampingnya. Tanpa ancang-ancang, Erick merangkul Alaia yang sedih itu. "Udah-udah. Abis ini kamu gak bakalan ketemu sama mereka lagi kok" ujar Erick sambil menepuk-nepuk pundak Alaia.  Mencoba untuk menenangkan istrinya itu. "Waktu aku balik ke sini, pas abis kita nikah. Aku juga nerima omongna kayak begitu. Ya pastinya, ngomongnya di belakang aku" ujar Erick. "Awalnya juga kaget, kok bisa-bisanya ngomong begitu. Apa gka terima aku gak undang apa gimana, tapi akhirnya bodo amat deh. Just like what I used to say, kalo emang kamu hamil duluan sini buktiin. Aku kasih 1 Milyar cash, kalo sampe bisa buktiin" ujar Erick. Ada rasa bersalah yang menyelinap di hati Erick ketika Alaia menceritakan kegelisahannya itu. Entah apa yang membuatnya merasa bersalah, namun yang jelas Erick bisa merasakan sakit yang dirasakan oleh Alaia. BUkan krena ia juga pernah menerima hal serupa, namun karena ia tahu sakitnya seorang perempuan ketika ia dituduh melakukan hal tidak terpuji yang tidak pernah ia lakukan.  "Udah-udah. Gausah di dengerin lagi orang ngomong kayak begiitu" ujar Erick. **** Alaia hanya bisa menghela napasnya saja ketika harus ebrtemu lagi dengna beberapa teman-teman Erick yang membicarakan dirinya kemarin.  Kalo gue megang piso, udah gue cincang-cincang terus sodorin ke anjing jalanan batin Alaia yang kesal. Hari ini, Alaia ikut dengan Erick yang datang ke acara wisuda salah seorang temannya. Jika kemarin Erick sibuk sendiri dengan teman-temannya, kali ini Erick tidak begitu banyak bicara. Kalaupun ia asyik mengobrol dengan teman-temannya, ia tidak akan bergerak jauh dari Alaia. Sebenarnaya juga Erick tidak mau mengajak Alaia. Takut-takut jika istrinya itu kembali down mendengar omongan dibalik punggung teman-temannya. Namun di sisi lain, erick kasihan jika Alaia harus mendekam di rumah sendirian hanya ditemani oleh serial Netflix yang biasa Alaia tonton itu. "Tapi kalo emang dia hamil ya, kok perutnya gak keliatan?" tanya seorang wanita di belakang Alaia. "Iya, juga ya. Kenapa gak keliatan? Eh tapi kan emang gitu, kao hamil duluan perutnya eamgn gak keliatan. Sengaja 'ditutupin' dari sananya" "Bener juga tuh! Banyak yang bilang begitu!" "Tapi kalo diitung-itung, istrinya seharusnya udah melahirkan dong. Udah setahun loh, yakali hamil ampe setaun gini"  "Atau gak anak mereka sengaja di sembunyiin!" "Bener! Keliatan banget istrinya belum siap punya anak, pasti anaknya di titipin ke suster di Jakarta!"  "Keliatan banget istrinya itu masih pengen seneng-seneng cuman udah keduluan makanya dia mau gak mau nikah, terus ankanya di urus aja sama suster. Punya duit ini" "Udah belom ngomongin istri gue?" tanya Erick sambil berbalik badan tiba-tiba. Mengejutkan teman-temannya yang asyik menggunjingkna istrinya itu. Empat wanita itu langsung kikuk ketika semua yang mereka ucapkan di dengar oleh Erick. "Dari awal gue nikah, kalian ngomongin hal itu. Kenapa sih? Gak teirma gka gue undang?" tanya Erick. Ia sebenarnya tidak ingin membuat kegaduhan di acara wisuda temannya, namun rasanya sudah cukup daritadi ia harus mendengar istrinya itu di tuduh dengan segala tuduhan palsu. Dua temannya yang berada di sisinya, berusaha menanangkan Erick. "Kalian gak kenal loh sama istri gue. Kalian bahkan gak tau apa-apa tentang hubungan gue sama istri gue sebelum nikah. Terus kok bisa-bisanya kalian punya banyak banget spekulasi sampe bikin teori sendiri begitu?" tanya Erick dengan wajah dingin. "Kalian padahal juga perempuan loh. Kok bisa sih ngomong kayak begitu? Bener-bener kebalikan banget sama yang selama ini kalian tegasin. Woman support woman" ujar Erick lagi. Keempat wanita itu semakin mati kutu dibuat Erick. "Mampus! Rasain! Makanya kalo ngomong tuh diperhatiin! Jangan sembarangan!" celetuk salah seorang temna Erick yang ternyata juga sudah tidak tahan dengan ucapan Erick. "Ngapain kuliah jauh-jauh ke sini kalo attitude kayak begitu" ujar Erick. "Udah, udah. Wisuda temen kamu loh ini" ujar Alaia mencoba untuk meredam emosi Erick sambil mengelus-elus punggung bidang Erick. "Gak apa-apa kali. Biarin aja, sekali-sekali di gertak biar mulutnya ada yang negdidik. Abis yang punya mulut gak bsia ngedidik" ujar tmean Erick yang hari merayakan wisudanya. "Asal lu tau ya, istri gue kemaren down banget di tuduh segala macem sam akalian" ujar Erick. "Kalo sampe dia stres, depresi gara-gara diomongin begitu. Kalian mau nanggung? Gak kan?" tanya Erick. "Kalo gak tau apa-apa mendingna diem aja. You guys better shut up if you have nothing nice to say" ujar Erick yang sudah kesal. "Sekarang gue tnaya, punya bukti valid gak kalo istri gue hamil duluan? Punya bukti kalo gue udah punya anak dan anak gue sengaja ditinggalin di Jakarta?" tantang erick. "Punya gak?!" gertak Erick pada teman-temannya itu. "Gue sih gak peduli sama sekali kalopun habis inis temen gue berkurang empat. Bersyukur malah gue" ujar Erick. Haduh nekat juga nih orang batin Alaia. Alaia benar-benar tidak nyaman dengan situasi seperit ini, apalagi pada teman Erick yang hari wisuda. Namun justru teman suaminya itu malah memperbolehkan hari kelulusannya dijadikan ajang bagi Erick untuk melampiaskan emosinya. "Gue diemin daritadi, kirian bajalan berhenti. Gak taunya malah lanjut. Emang enak banget ya ngomongin orang. Bener-bener asik banget ya nuduh orang" keempat wanita itu benar-benar malu dengan apa yang Erick lakukan. Belum lagi, banyak mata yang memperhatikan mereka dari berbagai arah.  "Jagan sampe semua tuduhan kalian ke istri gue, malah balik ke kalian"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN