Tiba-Tiba Diem

1500 Kata
Setelah memastikan jadwal pekerjaannya luar biasa, Alaia akhirnya memutuskan untuk menghadiri wisuda suaminya di Belanda. Ia mengambil paspor miliknya di safety box dan segera mencari-cari masakapai untuk keberangkatannya ke Belanda. "Halo, Siska, tolong urus visa saya untuk ke Belanda ya. Suami saya mau wisuda dua bulan lagi, jadi tolong diurus secepatnya" ujar Alaia pada sekretarisnya lewat telefon. "Untuk tiket pesawat biar saya yang pesan sendiri" tambahnya. Setelah selesai memberi mandat pada sekretarisnya, Alaia melanjutkan beberapa pekerjaannya. **** Alaia akhirnya mendarat dengan selamat di Bandar Udara Schipol, Amsterdam, Belanda. Kedatangannya sudah ditunggu oleh Erick. "Hi!!!" sapa Alaia sambil melambaikan tangannya pada Erick yang senyuman mengembang ketika melihat Alaia yang sampai dengan selamat. Senyuman Erick membuat Alaia jadi salah tingkah sendiri. Gak, gak boleh terpesona!  "Gimana tadi flight-nya?" tanya Erick sambil menarik koper Alaia. "Ya capek sih, tapi enak kok makanannya. Aku juga jajan melulu di Dubai pas transit" ujar Alia riang. "Kamu cuman bawa satu koper?" tanya Erick yang tidak percaya Alaia hanya membawa koper berukuran sedang. "Iya. Emang mau bawa koper berapa?" tanya Alaia bingung.  Tanpa disadari, Erick menggandeng tangan Alaia sejak mereka bertemu tadi, Alaia bahkan dengan luwesnya mengamit lengan Erick. "Baru kali ngeliat cewek bawa koper cuman satu begini. Biasanya temen-temen aku yang cewek bawa kopernya gede-gede udah kayak mau pindahan" ujar Erick. "Males aku  bawa gede-gede gitu. Kalo mau liburan keliling Eropa mah gapapa deh. Ini kan aku cuman mau dateng ke wisuda kamu aja. Bawaan aku emang agak banyak, tapi aku ringkas aja masukin ke koper ukuran medium begini. Aku aja tas cuman bawa dua. Satu yang ini, satu lagi yang kecil buat jalan-jalan. Hand bag buat pas wisuda" ujar Alaia. "Alhamdulillah punya istri ringkas begini orangnya" jawab Erick. "Udah yuk kita cari taksi" ujar Erick sambil menutun Alaia berjalan keluar dari bandara.  Alaia memasuki rumah yang dihuni Erick beberapa tahun terakhir ini. "Kamu sewa sendiri nih rumahnya?" tanya Alaia sambil melihat-lihat isi rumah sewaan Erick. "Iya, gak begitu gede juga kok. Biaya sewa gak terlalu mahal juga" jawab Erick. "Murah? Jangan-jangan ......" Alaia terkisap kaget dengan sahutan menggantung. "Gak. Gak horror kok" jawab Erick santai sambil mengambilkan gelas berisi air putih untuk Alaia. Alai menneggak air putih tersebut dengan rakus karena sudah benar-benar kehausan. "Yuk kita ke kamar"  "Imut banget" ujar Alaia ketika melihat kamar yang ditempati oleh Erick. "Ya gak imut-imut amat kali. Ini kasur kita tidur bedua masih nyisa space lumayan" jawba Erick sambil mendorong koper istrinya ke sudut kamar. "Kamar mandinya di luar ya, deket dapur" ujar Erick. Alaia langsung membongkar kopernya karena ia ingin segera membersihkan diri. "Terus, kamu kalo nyuci baju gimana?" tanya Alaia. "Ya di laundry" jawab Erick sambil mengeluarkan selimut yang ukurannya lebih besar dari yang biasa ia pakai. "Jauh dari sini?" tanya Alaia sambil mengeluarkan baju gantinya. "Enggak kok, jalan kaki sebentar juga sampe" sahut suaminya itu. "Kamu mandi, abis ini kita makan ya" ujar Erick sambil keluar kamar dan menutup pintu kamar mereka. Alaia melahap habis masakan yang dibuat oleh Erick. "Enak juga amsakan kamu" puji Alaia setelah selesai menyantap makan malamnya. "Biasalah" jawab Erick dengan nada khas. "Ya mau gak mau aku harus masak sendiri buat hemat pengeluaran juga. Gak bisa beli-beli melulu" ujar Erick yang ebrdiri lalu membereskan piring kotor. Alaia buru-buru berdiri dan ikut membereskan meja makan dan dapur sisa memasak tadi. "Udah aku aja cuci piring, kamu beresin meja makan aja" Alaia langsung menuangkan sabun cuci piring ke spons dan membasahinya dengan air mengalir. Erick dan Alaia berkerja sama dalam membereskan sisa makan malam mereka. Setelah selesai, keduanya bersantai di sofa. "Kamu besok kemana?" tanya Alaia sambil melihat-lihat sekeliling rumah tersebut. "Gak ngapa-ngapain. Besok jalan-jalan aja mau? Ya sekitaran aja" tanya Erick. "Boleh" jawab Alaia riang. "Besok sekalian nemenin aku cair kemeja buat wisuda ya. DI mall sekitar sini aja carinya" ujar Erick yang sudah mulai mengantuk. "Ya. Ayaa, bangun Ya" ujar Erick sambil membuka tirai jendela kamarnya. Alaia masih terlelap didalam selimut tebal. Erick berjalan ke sisi tempat tidur, dan berjongkok tepat dihadapan wajah Alaia. Karena harus langsung berangkat setelah menikah, Erick tidak menghabiskan banyak waktu dengan Alaia di Jakarta. Ia memperhatikan wajah polos Alaia yang terlelap dengan nyenyaknya. "Yaaa. Ayaaa, banugn udha pagi" ucap Erick lembut, sambil menepuk-nepuk pundak Alaia. Alaia mengerang sedikit. "Yaaa, bangun yuk. Udah pagi nih" Erick spontan menglus pipi Alaia. Alus banget kayak kulit bayi batin Erick. Alaia pun perlahan membuka kedua matanya. "Ya, bangun yuk. Katanya mau jalan-jalan" ucap Erick begitu lembut. Seolah-olah Alaia adalah anak kecil yang sulit bangun tidur, dan di beri 'sogokan' agar mau bangun. Kedua bola mata Alaia sukses terbuka dan yang pertama kali ia lihat pagi ini adalah Erick. "Aku mau mandi dulu. Nanti abis itu kita sarapan" ujar Erick sambil berdiri dan berlalu meninggalkannya. Alaia bangun terduduk di tempat tidur yang super empuk itu. "Gila nih kasur. Empuk banget! Bisa telat ke kantor kalo punya kasur kayak begini" ujar Alaia sambil menepuk-nepuk kasur yang didudukinya ini. Setelah merenggangkan tubuh sebentar, Alaia bergegas membuka kopernya untuk memilih pakaianyang akan ia kenakan hari ini. **** Hari ini adalah hari kelulusan Erick. Setelah kemarin ditemani oleh Alaia untuk membeli kemaja yang cocok ia gunakan di acara wisudanya, Erick dengan mantap mengenakan kemaja tersebut. "Ya, dandannya udah belom?" tanya Erick yang sedikit berteriak. "Lagi pake lipstick" teriak Alaia dari dalam kaamr mandi. Setelah dirinya selesai, Erick langsung keluar bersiap untuk memakai jas dan sepatunya. "Nah udah  hayok jalan" uajr Alaia sambil keluar dari kamar mandi. Melihat Alaia dengan balutan blazer dan celana panjang bahan membuat Erick terpaku sendiri. "Oy! Ayok jalan!" ujar Alaia sambil memakai sepatu. Setelah acara kelulusan selesai, Erick dan Alaia berjalan menuju halaman kampus. Dimana banyak mahasiswa saling mengcuapkan selamat kepada satu sama lain atas kelulusan mereka.  Beberapa teman-teman Erick dari luar kampusnya datang dan mengucapkan selamat pada Erick. "Congrats ya Rick!" ujar seorang temannya sambil memeluk Erick dengan erat. "Selamat ya Rick, sukses terus!" ujar seorang temannya yang lain sambil memberikan hadiah atas kelulusannya. Alaia yang berdiri disamping Erick hanya tersenyum ramah pada teman-teman suaminya itu. "Eh iya, ini istri gue, Alaia" ujar Erick memperkenalkan Alaia pada teman-temannya. Teman-temannya dengan ramah memberikan senyuman pada Alaia sebagai tanda perkenalanan. Erick kebanjiran ucapan selamat dan juga kado dari beberapa teman-temannya. Tidak disangka ia akan menerima begitu banyak hadiah  di hari kelulusannya ini. Karena terlalu asyik meladeni teman-temannya, Erick jadi tidak memperhatikan istrinya. Alaia nampaknya membiarkan Erick untuk bercengkrama dengan teman-temannya. "Rick, pulang yuk?" bisik Alaia. "Bentar dong, aku masih mau ngobrol sama yang lain" bisik Erick lagi. Alaia hanya dapat mengehela napas dan kemudian menunggu Erick yang semakin asyik mengobrol dengan temannya, padahal dirinya sudah sangat ingin pulang. Diperjalanan pulang, Alaia lebih banyak diam. Ia hanya sesekali menimpali Erick dan kemudian lanjut diam. Alaia bahkan tidak menikmati pemandangan Amsterdam seperti kemarin-kemarin. Ia begitu menikmati suasana kota ini. Begitu sampai di rumah, Alaia langsung menaruh seluruh hadiah milik Erick di sofa ruang tengah. Ia bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan riasan dan mengganti pakaiannya. Sedangkan Erick yang begitu pulang sibuk dengan kegiatan unobixng setumpuk hadiah yang ia terima hari ini. Melihat Erick yang asyik sendiri, Alaia memilih untuk memasak makan siang uuntuk mereka ketimbang membantu Erick membuka seluruh isi kado. Selesai dengan kegiatannya, Erick langsung membersihkan diri dan mengganti pakaiannya. "Masak apa Ya?" tanya Erick sambil mengunyah cokelat pemberian temannya tadi. "Ayam panggang" jawab Alia singkat. "Mau cokelat gak?" tawar Erick. Alaia hanya menggeleng pelan dan tetap fokus memasak saja.  Erick pun kembali ke kaamr dan menonton serial Netflix di laptopnya. Sebelum nanti ia akan sibuk dengan mengurus beberapa hal, ia harus emnikmati waktu senggang yang ia miliki saat ini. "Rick, makan yuk. Udah siap makanannya" teriak Alaia dari luar kamar. Erick pun berdiri dan keluar dari kamarnya. Alangkah terkejutnya ia ketika melihat Alaia menghidangkan makanan yang begitu lezat.  Alaia benar-benar pintar dalam memanfaatkan bahan masakan yang seadanya di kulkasnya, di sulap menjadi hidangan mewah. Erick benar-benar takjub dengan skill memasak Alaia. Tidak salah jika istrinya ini diajak kerjasama oleh restoran dari hotel bintang lima. "Buruan makan, mumpung masih panas" ujar Alaia sambil menaruh garpu dan pisau di atas piring suaminya. Dengan antusias Erick menarik kursi di meja makan dan segera menyantap masakan istrinya itu. Hal yang sama terjadi juga ketika mereka hendak makan malam. Alaia masih tetap dengan sikap diamnya. Setelah makan malam pun, Alaia tanpa banyak perbicara langsung membereskan sisa makan malamnya dengan Erick.  Erick yang masih terlalu bahagia dengna hari ini jadi lupa tugasnya yang seharusnya membantu istrinya membereskan ruang makan. Alaia hanya bisa menghela napas melihat tingkah suaminya itu. Tanpa mau memusingkan tingkah suaminya hari ini, Alaia memilih untuk segera membereskan dapur, sedangkan Erick memilih langsung masuk ke kamar. Selesai dengan urusan dapur, Alaia langsung menggosok gigi dan kemudian bersiap untuk tidur. Tanpa menghiraukan Erick yang asyik, sendiri, Alaia tahu-tahu sudah selesai dengan urusan gosok gigi dan ritual skincare rutin sebelum tidur yang tidak boleh di lewatkan olehnya. "Rick, kecilin dong voulmenya. Aku mau tidur" ujar Alaia sambil menarik selimut dan mematikan lampu kamar. "Iya iya" jawab Erick sambil tetap terfokus pada layar laptopnya itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN