Bete

1500 Kata
Alaia melempar kasar tas miliknya sepulang dari supermarket tadi. Hari ini ia benar-benar menjengkelkan baginya karena bisa-bisanya ia bertemu dengan mantan kekasihnya itu. "Ih! Bikin orang bete aja!" Alaia kesal dan menghentakkan kakinya ke lantai.  "Mbak!!" teriak Alaia. Pembantu rumah tangganya dengna sigap menghampiri Alaia. "Ambil belanjaan terus langsung taor di posnya masing-masing"ujar Alaia sambil memberikan kunci mobilnya pada pembantunya itu. Mengerti jika majikannya tengah memiliki mood yang tidak baik, pembantunya itu segera melaksakan tugasnya. Sedangkan Alaia langsung menuju kamarnya dan mengganti pakaiannya. Tadinya, Alaia berencana untuk segera memasak begitu sampai di rumah. Beberapa hari kedepan ia akan sangat sibuk dengan restorannya, namun karena pertemuan tidak terduganya dengan Rama, Alaia jadi benar-benar bad mood seharian ini. Ia melirik jam di dinding ruang tengah rumahnya. Waktu menunjukkan pukul empat sore. "Erick lagi operasi jam segini mah" ujarnya. Alaia hanya bisa menghela napas. Seharusnya sore yang indah ini dapat ia nikmati. Namun Rama benar-benar membuat moodnya turun seketika. Sungguh, bertemu dengan Rama adalah hal paling buruk dan menyusahkan yang pernah Alaia alami.  Belum lagi dengan penuh percaya diri Rama ingin kembali merajut tali asmara dengannya. Sudah jelas Alaia menolak mantannya itu mentah-mentah. Bahkan tanpa ia bertemu san menikah dengna Erick sekalipun, Alaia tidak akan pernah sudi kembali ke pelukan Rama. "Nyah, jadi masak gak?" tanya pembantunya pada Alaia yang duduk santia di sofa ruang tengah. Alaia menoleh ke arah pembantunya dengan ekspresi bete bukan main. Pembantunya ini sudah takut-takut jika ia akan di marahi oleh Alaia. "Mbak aja yang masak, saya lagi gak mood buat masak" jawab Alaia. Mendengar jawaban Alaia, pembantunya itu bisa bernafas lega. Ia sudah was-was Alaia akan meledakkan amarahnya. "Mau dimasak apa Nyah? Biar saya aj ayang masak" ujar pembanutnya. "Terserah Mbak aja, apa aja pokoknya jangan lupa sambelnya" ujar ALiaa. Tanpa di suruh lagi, pembantunya itu langsung bergegas menuju dapur untuk memasak makan malam. **** "Jangan di tekuk kenapa tuh muka" ujar Marcel ketika melihat temannya ini masih saja cemberut selepas bertemu dengan mantan kekasihnya itu. "Asli freak bener tuh cewek!" ujar Erick sambil melepaskan maskernya dengan kasar. "Gue aja gak nyaman dia kayak begitu. Gue yang bukan siapa-siapanya dia. Gimana elu ya" ujar Marcel. Laras nampaknya masih belum menyerah untuk mendapatkan perhatiannya. Mantan kekasihnya itu sepertinya masih terus berjuang untuk mendapatkan hatinya kembali. "Lu mau kemana Rick?" tanya Marcel setelah ia menakan tombol lift. "Mau balik aja gue, capek" jawab Erick. Erick berjalan menuju ruang kerjanya, mengambil tas dan kunci mobil lalu mematikan lampu ruang kerjanya sebelum alhirnya keluar dari ruangannya dan menguncinya. Hari ini benar-benar melelahkan. Dua operasi dengan jarak waktu yang berdekatan, dan ia bertemu dengan mantan kekasihnya yang masih masih berusaha untuk bisa balikannya dengannya. Apa Laras benar-benar sudah putus urat malunya? Sampai-sampai wanita itu merendahkan harga dirinya sendiri agar bisa kembali dengannya? Apa sebenarnya motivasi Laras mendekatinya kembali? Padahal Erick sejak awal sudah terang-terangan memberi tahunya jika ia sudah menikah, Laras bahkan diam-diam menemui Alaia di waktu terpisah. Sampai di mobilnya, Erick langsung menyalakan mesin dan mengarahkan mobilnya keluar dari parkiran. Tiin tinnn Suara klakson mobil yang begitu nyaring membuat Alaia terperanjat. Ia mengintip dari tirai dan melihat Erick yang baru pulang. Sebanrnya Alaia masih jengkel dengan pertemuannya dengan Rama, ia masih kesal dengan Rama yang terlalu percaya diri. "Gak, gue gak boleh cemberut depan Erick. Kasian dia pulang kerja ngeliat istrinya mukanya cemberut. Biarpun cuman istri sementara paling gak, gue gak boleh bikin dia makin susah" ujar Alaia sambil berjalan ke arah pintu samping untuk menyambut Erick. Begitu melihat bayangan Erick yang hendak membuka pintu, Alaia buru-buru membuka pintu tersebut dan memberikan senyum termanisnya. Rasa lelah dan jengkel setengah mati pada Erick seketika hilang begitu saja melihat Alaia yang tersenyum manis di hadapannya, menyambut kedatangannya. "Halo, gimana hari ini?" tanya Alaia sambil mengambil alih tas kerja suaminya itu. Erick hanya terdiam menatap istrinya itu. "Hoy" Alaia menepuk lengan Erick, mencoba menyadarkan suaminya itu. Erick yang tersadar karena tepukan Alaia itu menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. "Kamu udah makan belom?" tanya Alaia sambil berjalan mendului Erick. "Belom, aku belom makan, tapi abis visit sebentar aku langsung pulang. Capek" ujar Erick. "Kamu mandi gih, nanti aku siapin makan malemnya. Aku juga belom makan, tadi sore nyemil batagor agak banyak, jadinya agak kenyang juga" ujar Alaia. Suaminya itu menurut dan langsung menuju kamar mereka untuk segera mandi. Sedangkan Alaia menuju dapur untuk menyiapkan makan malam ia dan suaminya itu. Selesai mandi, Erick langsung menuju ruang makan. Alaia dengan telaten mempersiapkan segala kebutuhan Erick untuk makan malam. Erick benar-benar dilayani dengan sepenuh hati oleh istrinya ini. Ada rasa bersalah yang terselip di hati Alaia. Karena rasa jengkelnya terhadap Rama, Alaia tidak memasak hari ini. Padahal Erick nampaknya melewati hari yang cukup berat hari ini. Erick selesai makan terlebih dahulu, baru kemudian Alaia menyusul. Alaia bergegas mengangkat piring kotor bekas suaminya dan mencucinya bersama dengan cucian piring lainnya. Erick duduk du ruang tengah sambil mencari-cari saluran televisi untuk di tontonnya. Setelah mencuci piring, Alaia ikut menimbrung dengannya. "Ini acara gak ada yang bagus apa gimana sih" keluh Erick sambil sibuk mengganti saluran televisinya. "Mendingan nonton Netflix aja yuk di kamar" ujar Alaia. "Aku mau nonton Crash Landing On You, kamu mau juga?" tawar Alaia. "Itu acara Barat?" tanya Erick. "Gak, Korea" ujar Alaia. "Gak mau, aku gka suka Korea" ujar Erick. "Jadi Cheol Gang yang bunuh kakaknya Ri Jeong Hyeok?!" Erick tidak percaya dengan fakta yang baru ia temukan. Jangan bilang abis ini dia frustasi sendiri, mikirin teorinya sendiri batin Alaia. "Ini drama on going apa udah tamat?" tanya Erick yang masih asyik menonton.  "Udah tamat kok" ujar Alaia. "Kamu mau es krim gak? Aku mau nyemil es krim nih" ujar Alaia yang sudah berdiri dari tempat tidur untuk mengambil es krim di kulkas.  Erick hanya mengangguk dan tetap foksu menonton. "Yaudah aku ambil dulu ya" uajr Alaia. Baru saja membalikkan badan, lengan Alaia di tahan oleh Erick.  "Kamu duduk aja, aku yang ambilin tap ini aku pause, di play lagi kalo aku udha balik" ujar Erick lalu bergegas beranjak dair tempat tidurnya dan berjalan keluar kamar untuk mengambil es krim.  "So sweet" ujar Alaia ketika Erick menutup pintu kamarnya. Beberapa saat kemudian Erick masuk ke dalam kamar. Tidak hanya membawa es krim, namun juga cemilan lainnya. "Kamu bawa banyak banget" ujar Alaia sambil berjalan menuju suaminya dan membantu membawa beberapa makanan lainnya. "Aku udah tau pasti bakalan maraton, jadi bawa sekalian banyak" ujar Erick. "Ngapain bawa kompor mini?!" tanya Alaia. "Ya buat bikin ramyeon lah! Es krimnya gak aku  bawa, kita makan ramyeon aja. Nih aku bawa lengkap sama sosis, ama frozen foods lainnya" ujar Erick bersemangat. Selanjutnya, keduanya sibuk sendiri mempersiapkan kompor mini dan yang lainnya. Yang demen nonton Korea gue, yang Korea banget malah dia batin Alaia sambil menatap Erick yang sibuk memasak ramyeon untuk mereka berdua. Tiba-tiba Alaia teringat sesuatu. Kalo lu ngajak orang makan ramyeon artinya itu rayuan buat ngelakuin kegiatan dewasa!  Alaia tercekat sendiri. Apa dia diem-diem mau ngajakin gue buat .......  Alaia buru-buru menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat. Secepat mungkin agar pikiran buruknya itu seketika hilang. "Ya, aku ambil telornya dulu ya, tadi mau bawa tapi aku taku pecah" ujar Erick sambil berdiri dan kemudian berjalan keluar kamar menuju dapur. Tidak di sangka olehnya, Erick menikmati serial drama Korea.  Padahal sejam yang lalu bilang gak suka drama Korea, sekarang malah anteng sendiri. "Jadi Yoon Se Ri enak banget kayaknya ya, gak bakalan habis itu harta sampe sepuluh turunan" ujar Erick yang terkagum melihat kesuksesan perusahaan Yoon Se Ri. "Ya makan dong ramyeonnya" ujar Erick. "Iya-iya ini aku makan" ujar Alaia sambil mengaduk panci yang berisi rameyon yang masih panas. Benar-benar sesuai seperti di drama Korea. "Makan yang banyak, gausah takut gendut. Nanti kita olah raga biar kurus bareng" ujar Erick yang dengan lahapnya menyantap ramyeon itu. Olahraga bareng? Maksudnya?  Alaia semakin tercekat sendiri dengan ucapan suaminya itu. Apa malam ini ia benar-benar akan menyerahan dirinya sepenuhnya pada Erick? Alaia kalut sendiri dengan teori-teori di benaknya. "Demi apapun, kakkanya Yoon Se ri kenapa pada mat aduitan begitu sih" komentar Erick. "Ya makanya, jadi orang kaya gak selalu enak. Apalagi kalo punya saudara yang iri begitu" sahut Alaia. Alaia menatap Erick yang fokus dengan tontonannya.  Ada satu hal yang baru Alaia sadari, rasa jengkelnya terhadap mantna kekasihnya tadi seketika meluap entah kemana ketika Erick datang. Bahkan ia tidak menyadari bahwa sedari tadi ada rasa jengkel yang meliputi dirinya. Saking asyiknya ia dan Erick makan dan menonton bersama. "Ya, kalo udah ngantuk tidur duluan aja gih, nanti aku kecilin volumenya" ujar Erick yang matanya tidak teralihkan dari layar televisi. "Iya" sahut Alaia yang tidak melepaskan pandangan matanya dari suaminya itu. Erick sampai saat itu masih belum sadar Alaia meperhatikannya. Jika di pikir-pikir, Erick tidak terlalu buruk untuk dinikahi. Ia sudah mapan, dan memiliki masa depan yang jelas jika menikah dengannya.  Dan (ternyata) rupawan. Plis banget Alaia Taraya, jangan jatuh cinta makin dalam. Tahun depan kalian cerai, kalo masih ada perasaan repot ceritanya  Alaia hanya menghela napasnya saja mengingatnya. Jika nanti ia dan Erick benar-benar bercerai, mampukah ia menemukan pengganti, yang seperti Erick? 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN