Marcel tidak bisa menutupi ekspresi tidak sukanya ketika melihat Laras berada di loby rumah sakit.
"Kalo Alaia tau, bisa pecah perang kayaknya ini" ujar Marcel yang melihat mantan kekasih temannya dari kejauhan.
Marcel saja yang hanya teman dari mantan kekasih Laras merasa jijik dengan penampilan Laras yang ingin terlihat menggoda namun justru lebih terlihat memaksakan.
"Dok, operasinya nanti jangan lupa ya jam delapan malem" ujar seorang perawat yang menghampirinya sambil membawa rekam medsi salah satu pasein marcel.
"Iya" jawab Marcel yang masih memperhatikan Laras.
"Dipikir si Erick bakalan napsu kali ngeliat dia begitu? Napsu kagak, geli malah iya" ujar Marcel kegelian sendiri.
Marcel pun berbalik badan dan mengambil ponselnya dari saku celananya.
"Halo Sus, dokter Erick masih praktek?" tanya Marcel.
"Iya. Ini dari siapa ya?" tanya perawat yang bertugas di poli tempat Erick bertugas.
"Saya dokter Marcel. Yaudah, sampe jam berapa prakteknya?" tanya Marcel lagi.
"Hari ini agak lama dok, kayaknya sih jam dua baru kelar prakteknya. Istirahat sebentar, terus kalo gak salah ada operasi deh. Tapi gak ada visit hari ini. Dokter mau nitip pesen apa?" jawab perawat itu.
"Oke kalo gitu. Saya cuman nanya aja jadwal dia hari ini. Makasih ya" Marcel langsung memutuskan panggilan tersebut.
"Gue musti mastiin dia ke sini mau ngapain. Biarpun sebenernya udah kebaca banget kalo dia pengen ketemu sama Erick. Mana pakeannya lebih mirip baju kekecilan begitu" ujar Marcel.
Ia berpura-pura berjalan menuju loby. Sebisa mungkin ia berjalan sedekat mungkin agar Laras dengan mudah melihatnya.
"Eh Marcel" panggil Laras ketika melihatnya,
Yes!
Pancingan Marcel rupanya berhasil!
Ia menoleh ke arah Laras.
"Lu mau kemana?" tanya Laras.
"Mau cari kopi" ujar Marcel datar.
"Gak sama Erick?" tanya Laras.
Marcel menggeleng pelan.
"Erick seharian ini sibuk, abis praktek nanti dia ada visit bentar teus operasi" ujar Marcel.
Kan, gue bilang juga apa!
"Lu sendiri ke sini mau ngapain?" tanya Marcel pura-pura bodoh.
Laras hanya diam sambil memalingkan wajahnya ke arah lain.
Seakan-akan tidak mendengar pertanyaan Marcel.
"Udah ya, gue mau keluar dulu" Marcel langsugn melongos pergi meninggalkan Laras.
"Nah kan!" ujar Marcel setelah berjalan agak jauh.
***
"Serius lu? Dia nekad nyamperin ke sini?" tanya Erick sambil mengancingkan kancing paling bawah kemejanya.
"Iya, tadi dia kemari pas siang. Gue bilang aja lu seharian ini. Ada praktek, terus visit, terus operasi" ujar Marcel.
Erick tersenyum miring sambil merapihkan pakaiannya.
"Paket lengkap" ujarnya.
"Sengaja dia cuy pake baju ketat banget" ujar Marcel.
"Gue napsu kagak, kesian malah iya. Nyesek tau gak pake baju ngetat begitu" ujar Erick.
"Gue sebenernya dari awal ngeliat dia, apalagi make pakean kayak begitu, gue udah prediksi dia mau keemu sama elu. Eh bener aja kan" ujar Marcel.
"Masih aja usaha. Udah tau gue udah nikah begini. Bener-bener pengen jadi pelakor nih cewek" ujar Erick.
"Biarpun lu sama Aya nikahnya cuman dua tahun, tapi gue jujur gka sudi banget kalo orang ketiganya Laras" ujar Marcel.
Ucapan Marcel seketika membuat Erick teringat.
Waktunya dan Alaia hanay tersisa setahun lagi sebagai suami istri. Sedangkan ia sudah jatuh cinta pada istrinya itu. Perpisahan mereka akan menjadi sulit jika ia masih mencintai Alaia.
"Udah ya Cel, gue mau balik" ujar Erick.
Marcel pun berdiri dari sofa di ruang kerja Erick, lalu keluar dari ruangan bersama dengan Erick.
Di perjalanan pulang, Erick hanya memikirkan tentnag nasib rumah tangganya dengan Alaia.
Setiap hari, ia semakin jauth hati pada Alaia.
Semakin bertambahnya hari, semakin dekat juga tenggat waktu pernikahan mereka.
"Kalo gue pisah sama dia, apa iya, gue bisa nemuin yang lebih baik daripada dia?" tanya Erick.
Ia tidak pernah menyangka, ia akan jatuh hati pada Alaia.
Padahal Alaia bukanlah tipenya.
Erick lebih menyukai wanita yang feminin dan lembut.
Berbeda dengan Alaia yang bar-bar dan terkesan cuek dengan penampilannya.
Ia tidak mau memusingkan kehadirna Laras kembali ke hidupnya.
Selama wanita itu tidak mengganggu rumah tangganya dengan Alaia, ia tidak akan bereaksi apa-apa. Ia malah senang melihat Laras bertingkah seperti itu.
Laras benar-benar membuktikan kebodohannya.
****
Jika Alaia sudah turun tangan mengawasi kegiatan masak memasak di dapur, sudah pasti seluruhr chef yang ada di dapur akan bekerja semaksimal mungkin.
Meskipun bukan tipikal atasan yang doyan marah-marah, namun Alaia terkenal tegas dan tidak bisa memberi toleransi pada kesalahan yang diulang.
"Salmonnya di iris lebih tipis ya" ujar Alaia dalam sekali melihat irisan salmon.
"Chef, ini untuk list di private kitchen" seorang karyawannya memberikan list orang-orang yang sudah melakukan reservasi di private kitchen miliknya.
Alaia menatap laya iPad itu dengan seksama.
"Okay kalo gitu kalian atur kebutuhan memasaknya per tamu ya, biar nanti saya tinggal masak aja" ujar Alaia dengan nada santai.
Setelah melihat-lihat keadaan di dapur, Alaia berkeliling sekitar restorannya. Memastikan jika pelanggannya mendapatkan pelayanan terbaik darinya.
Hampir sleuruh karyawan yang bekerja di restoran ini bergidik gneri ketika meliaht Alaia tiba-tiba melakukan inspeksi mendadak.
Salah-salah, mereka bisa-bisa di panggil ke kantor Alaia.
Meski tidak pernah asal memecat karyawannya, namun aura Alaia yang membuat karyawan-karyawannya ini bisa tiba-tiba stress sendiri jika ai sudah memanggil mereka ke kantor.
Alaia kemudian kembali ke ruang kerjanya setelah puas melakukan inspeksi dadakan.
Ia membuka iPad miliknya dan melihat-lihat jadwal pekerjaannya.
"Tumben banget gue bisa sesanti jadwalnya" ujar Alaia.
Tiba-tiba terbesit di pikirannya untuk mengunjungi Erick di rumah sakit tempatnya bekerja.
Sejak Erick akhirnya mendapatkan pekerjaan di rumah sakit, Alaia belum pernah mengunjungi tempat kerja suaminya itu.
"Gue modusin apa ya nih anak. Makan siang bareng?" Alaia memikirkan alasan agar bisa mengunjungi rumah sakit suaminya.
"Ah, gue kan istrinya. Gue ajak makan siang aja deh. kemaren dia juga sempet ngomongin restoran yang baru buka di deket rumah sakit, yang katanya sayur asemnya enak itu" Aliaa pun semakin yakin untuk mengunjungi Erick.
"Tapi kapan?" Alaia kembali melihat ke kalender di iPad miliknya.
Alaia menimbang-nimbang kapan ia bisa menemui Erick.
"Apa dadakan aja kali ya? Yang dadakan biasanya pasti jadi" ujar Alaia lalu menutup layar ipadnya dan kembali bekerja.
****
"Ya makan yuk, laper nih" uajr Erick sambil mengelus-elus perutnya yang sudah lapar ini.
"Ini juga aku nyari restoran, aku juga laper daritadi kita tawaf Sogo nemu baju kagak, laper malah iya" ujar Alaia.
Keduanya pun menaiki eskalator untuk turun ke lantai bawah, dimana food court terletak.
"Kamu emangnya perlunya buat apaan kemejanya?" tanya Alaia.
"Buat sehari-hari aja" ujar Erick.
"Aku kirain kamu mau ada acara apaan gitu" ujar Alaia.
"Emangnaya kalo buat ngantor biasa aku gak boleh pake yang bagus gitu?" tanya Erick sambil melangkah menuruni eskalator terakhir.
Gak bisa, ntar kamu malah makin ganteng batin Alaia.
"Udah deh kita makan Hoka-Hoka Bento aja deh" ujar Erick yang sudah kelaparan.
Alaia hanya menurut saja kemana Erick ingin makan.
Keduanya mengantri di antrian ayng tidak begitu panjang.
Setelah giliran mereka tiba, Erick dan Alaia langsung memesan makanan mereka.
Tanpa membuang waktu lagi, Alaia dan Erick langsugn menyantap makanan mereka begitu mereka mendapatkan tempat duduk.
"Alhamdulillah makan juga akhirnya" Erick akhirnya kenyang juga dengan makanannya.
Sedari tadi menahan lapar karena mencari kemeja untuknya, akhirnya seluruh rasa laparnya terbayarkan juga.
"Kita jalan-jalan dulu yuk, itung-itung biar makanannya turun" ujar Alaia sambil berjalan-jalan menggandeng tangna Erick dengan luwes.
Erick menurut saja ketika istrinya itu menggandeng lalu mengamit lengannya.
Kapan lagi Alaia tanpa sadar bergelayut mesra dengannya.
"Ke Mango aja mau gak? Kita cari kemeja kamu, kali aja nemu" ujar Alaia.
Erick hanya berdeham tanda ia setuju.
Begitu sampai di bagiana pakaian pria, Alaia membantu Erick mencari kemaja untuknya.
"Eh Erick ya?" sapa seorang wanita ketika Erick dan Alaia tengah sibuk memili baju.
Erick menoleh dan mendapati seorang wanita yang tengah membawa tas belanja.
"Eh lu!" Erick dnegan riang menyapa wanita itu yang ternyata merupakan teman kuliahnya dulu.
"Eh, kenalin ini istri gue" ujar Erick memperkenalkan Alaia pada temannya itu.
Alaia dan teman kuliah Erick itu berjabat dengan hangat.
"Gila kemana aja lu abis lulus" uajr temannya yang takjub dnegan perubahannya.
"Ya koas abis kuliah" jawab Erick.
Keduanya bertukar cerita sedikit.
Alaia membiarkan suaminya mengobrol dengan teman lamanya itu, sedangkan ia sibuk mencari-cari pakaian yang cocok dengan Erick.
"Rick, gue ngobrol begini sama lu gak apa-apa? Istri lu gimana?" tanya temannya yang merasa tidak enak 'mengganggu' Erick dan Alaia.
"Gak apa-apa kok, dia juga lagi bantuin gue buat nyari kemeja kerja gue" ujar Erick.
"Eh ngomong-ngomong kapan nikahnya lu? Gak ngundang-ngundang nih" uajr temannya itu menggoda.
"Udah setaun gue nikah. Pas nikah gue masih kuliah spesialis, jadinay nikahnya simple-simple aja, gak macem-macem" ujar Erick.
Bahkan setelah setahun menikah, ia masih harus menerima pertanyaan-pertanyaan seperti ini. Entah teman-temannya memang peduli dengannya, atau mereka hanya sekedar ingin tahu, lalu menggunjing tentang pernikahannya yang dadakan dan tidak mangundang banyak orang ini.
Namun seperti yang sudah Erick tegaskan dari awala apda istrinya.
Ia tidak mau mengambil pusing dengan anggapan orang-orang di luar sana.
Yang penting ia tidak merugikan orang lain di pernikahannya ini.
Alaia sibuk sendiri mencari kemeja kerja untuk suaminya itu.
Ia ingin merasakan rasanya pusing sendiri mencari kemeja kerja yang pas untuk suaminya ini.
"Eh iya terus gimana? Lu sekarang jadi dokter apa?" tanya temannya.
"Gue dokter tulang sekarang" jawab Erick.
Temannya hanya mengangguk-angguk mendengar jawabannya.
Tepat saat Alaia hendak kembali ke Erick,
"Eh iya Rick, gue denger-denger, katanya lu sama Laras deket lagi ya?"