"Lu kenapa gak ngomong aja sih ke Rama kalo lu udah nikah?" tanya Gadis pada Alaia.
"Paling gak, dia gak bakalan gangguin lu lagi Ya" ujar Gadis lagi.
"Gak, gue justru pengen bikin dia malu Dis" ujar Alaia mantap.
"Biarin aja, demi bikin dia malu karena ngejilat ludah sendiri" tambahnya lagi dengan mantap.
"Ngomong-ngomong lu kenapa jadi rajin begini masak buat suami lu?" tanya Gadis sambil menatap meja makan Alaia yang penuh dengan berbagai macam makanan.
"Ya gue berapa minggu ke depan bakalan sibuk. Jadi gue bikin bumbu dulu biar kalo mau masak cepet, sama masak beberapa makanan yang bsai di frozen, biar kalo pembantu atau suami gue mau masak gampang. Gak ribet" ujar Alaia.
"Bukan karena cinta nih?" tanya Gadis menggoda.
"Kagaklah!" ujar Alaia dengan cepat.
Meskipun aslinya ingin sekali Alaia mengelaknya dengan keras.
Tentu saja ia mencintai Erick.
Meskipun ia tidak tahu apakah Erick mencintainya atau tidak.
"Sebenernya beruntung juga dia nikahin lu, gak usah pusing soal masakan. Emaknya juga pasti tenanglah anaknya nikah sama lu" ujar Gadis membanggakan temannya ini.
Memang betul, salah satu alasan mengapa ibu mertuanya merestuinya dengan Erick karena ia yang pandai memasak.
Meski sibuk memasak, dan meladeni pertanyaan temannya, sebenarnya ada satu hal yang terus memenjarakan pikirannya.
Erick yang di kabarkan dekat kembali dengan Laras.
Sejujurnya, Alaia mulai overthinking sendiri ketika mendengar pertanyaan itu.
Tidak mungkin Erick kembali berhubungan dengan Laras.
Dari cerita yang ia dapat dari Marcel, Erick sudah tidak mau peduli dengan mantan kekasihnya itu.
"Ya, gue mau balik ya. Beosk gue ada meeting, gue mau siapin materinya dulu"
Sejak Gadis pulang, Alaia semakin tidak berhenti memikirkan hal itu.
"Apa karena gak lama lagi kita berdua cerai, terus Erick udah mulai nyari istri baru?" Alaia mulai berspekulasi dengan berbagai teori-teorinya.
"Tapi kalo iya, kenapa harus balikan sama Laras? Padahal dia dulu sakit hati bukan main sama Laras"
"Ya" panggil Erick tiba-tiba saat Alaia sibuk berpikir tentang kemungkinan Erick dan Laras kembali.
Alaia kaget bukan main.
"Kamu nih ngagetin aja!" omel Alaia pad asuaminya.
"Ya abis dari tadi orang udah assalamualaikum sampe tiga kali gak di jawab juga. Gataunya kamu lagi duduk diem aja di sini. Mikirin apaan sih?" ujar Erick.
Ya mikirin kamu yang katanya balik lagi sama Laras batin Alaia sambil menatap lurus ke arah Erick.
"Malem ini makan apa?" tanya Erick yang kemudian duduk di sebelahnya.
"Makan ati" jawab Alaia sewot.
Erick langsung menoleh ke arah istrinya yang menjawab dengan nada sewot.
"Kamu kenapa sih?" tanya Erick.
"Lagi badmood?" tanya suaminya itu lagi.
"Gak" jawab Alaia sewot lagi.
"Terus kalo gak badmood kenapa sewot begitu jawabnya?" tanya Erick yang membalikkan badannya ke arah Alaia.
"Ya lagi gak mood aja" ujar Alaia.
Pulang kantor begini aja masih ganteng
Di tengah keheningan mereka, ponsle Erick berdering dengan kencangnya.
Erick langsung mengambil ponselnya dari saku celananya.
"Halo?" Erick langsung berdiri dan berjalan menjauh dari ALiaa sambil mengangkat telfon itu.
Alaia menatap Erick yang berjalan menjauh dairnya, menuju area kolam renang yang terdapat di bagian belakang rumah.
Tanpa berpikir panjang, Alaia langsung bergerak cepat untuk mendengarkan pembicaraan suaminya dengan penelfon.
Alaia mengendap-endap dari belakang pintu yang membatasi antara bagian dalam dan luar rumahnya.
"Udah gila emang tuh cewek. Segala nyebar berita kagak begitu" ujar Erick kesal.
"Makanya Cel. Gue gak abis pikir. Dia gak bisa ngedapetin gue kenapa segitunya banget ya" lanjut Eirck.
Ohh dia lagi telfonan sama Marcel toh batin Alaia sambil thetap fokus mendengarkan tentang apa yang mereka bicarakan.
"Gila aja lu, kemaren gue gak sengaja ketemu temen kuliah gue, terus dia bilang hal yang sama" ujar Erick ngotot.
"Nah gue bilang juga apa Cel, gila ini cewek!" ujar Erick lagi.
Alaia mencoba menerka-nerka apa yang di bicarakan oleh Erick dan Marcel.
"Freak abis sih. baru kali gue punya mantan freak kayak begini" ujar Erick sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Untungnya gak banyak yang percaya sama omongannya si Laras. Untung banget mereka ngerti gue udah bodo amat ama dia" ujar Erick lagi.
Mendengar nama mantan kekasih suaminya di ucapkan, kedua bola mata Alaia langsung membulat.
Ia menyiapkan pendengarannya dengan sempurna.
"Ya kali gue balikan ama cewek haus pamor macem dia. Gausah ngarep ya gue mau balikan sama dia Gausah pokoknya. Buang jauh-jauh tuh harapan. Gue udah punya Alaia. Bahkan gue belom nikah pun gue gak mau sama dia" ujar Erick.
Ucapan Erick barusan memberikan angin segar untuk Alaia.
Sekaligus membuat senyum di bibir Alaia melengkung dengan indahnya.
Ia tidak bisa menyembunyikan kebahagiannya karena ucapan Erick barusan.
Rasa bahagia membuncah di hatinya.
Sebelum Erick sadar ia tengah menguping pembicaraanya dengan Marcel, Alaia langsung berlari-lari kecil menuju kamarnya.
****
Setelah selesai dengan operasinya, Erick memilih untuk kembali ke ruangannya.
Perutnya yang sudah lapar.
Ia membuat mie instant yang sudah di siapkan oleh Alaia.
Setelah makananya siap di sajikan, tanpa membuang waktu, Erick langsung menyantap makanannya.
Di tengah makannya, Erick terus terbayang dengan nasib pernikahannya dengan Alaia.
Sekian banyak hari yang ia habiskan dengan Alaia, Erick berpikir awalnya ia tidak akan jatuh cinta dengan wanita itu, namun ternyata dugaannya salah.
Ia justru jatuh cinta, bahkan bingung bagaimana caranya agar ia tidak semakin jatuh hati pada istrinya itu.
Setiap kali ia mengingat tentang perjanjian mereka, Erick selalu cemas.
Tak jarang ia merasa begitu jahat pada Alaia, karena menjebak wanita itu untuk hidup bersamanya selama dua tahun. Bertahan dalam sebuah pernikahan palsu.
Ia melirik ke arah meja kerjanya.
Tidak seperti teman-teman atau rekan kerjanya yang lain yang menaruh foto mereka dengan istri, Erick tidak menaruh fotonya dengan Alaia di atas meja kerjanya.
Hal ini sering kali membuat rekan kerja lawan jenisnya yang masih melajang berpkir bahwa Erick masih melajang juga.
Padahal ia sudah berstatus sebagai suami orang.
Ia memperhatikan cincin nikahnya yang melingkar di jari manis tangan kanannya.
Cincin yang ia sengaja pesan custom dengan temannya yang bekerja sebagai seorang pengusaha perhiasan.
Meski bukan cincin dari brand mahal, namun Erick merasa senang ketika ia bisa mewujudkan Alaia agar bisa bisa memakai cincin nikah dengan desain sederhana namun berarti.
Belum lagi tentang mantan kekasihnya yang semakin hari semakin bertingkah.
Sampai-sampai menyebarkan berita bohong kepada banyak orang, mengatakan mereka dekat kembali, padahal sudah jelas-jelas Erick sudah beristri.
Beruntung tidak ada yang mempercayai omong kosong Laras.
"Gini amat sih punya mantan" ujarnaya lalu menyuap suapan terakhir dari makanannya itu.
"Gila aja sih kalo sampe banyak yang percaya gue deket lagi sama mak lampir itu" ujar Erick lalu bergidik sendiri.
****
Alaia merapihkan kamarnya.
Sudah menjadi kegaian rutin tiap akhir pekan, Alaia membersihkan rumahnya.
Meski memiliki pembantu, namun Alaia tetap tidak gengsi untuk menyapu, mengepel bahkan memotong rumput di taman rumahnya ini.
"Aya!!!!" teriak Erick dari dalam kamar.
Alaia yang tengah sibuk menyapu di lantai satu , mau tidak mau harus menghentikan aktifitasnya sejenak dan menghampiri Erick di lantai dua.
"Kenapa?" tanya Alaia dengna nada risih karena suaminya itu berteriak sangat kencang.
"Celana kerja aku mana?" tanya Erick dengan ekspresi binung.
Alaia megnerutkan keningnya. "Iya celana kerja yang warna ijo tua ituloh" ujar Erick.
"Aku cuci" jawab Alaia polos.
"Emang kenapa?" tanya Alaia dengan nada yang lebih polos dari sebelumnya.
"Ada flash disk aku!!!!!" ujar Erick menahan emosinya.
Alaia hanya bisa melotot kaget mendengar ucapan suaminya itu.
Erick yang mengetahui flash disk yang berisi file tentang pekerjaannya ini langsung berlari keluar kamar meningglakan Alaia yang masih shock itu.
Alaia kemudian menuruni anak tangga lalu melanjutkan aktifitasnya itu.
"Alaia" panggil Erick dingin.
Seumur-umur menikah, ini adalah pertama kalinya Alaia menerima panggilan dengan nada dingin dari Erick.
Ia pun berpikir keras mengapa tiba-tiba suaminya memanggilnya dengan nada itu.
Alaia menghampiri Erick yang berada di kamar.
Erick beralih menatapnya dengan tatapan dingin.
"Nih liat gara-gara kamu nyuci celana aku gak di periksa dulu kantongnya sekarang flashdisk aku rusak" ujar Erick.
Nampak sekali Erick mencoba menahan amarahnya.
"Lagian kamu ya, celana baru sekali pake ngapain di cuci segala sih? Biasanya kan tiga kali pake baru kamu cuci" ujar Erick lagi.
"Sekarang kalo udah begini gimana?" Erick melempar flashdisk miliknya yang sudah tidka berfungis itu di atas kasur, ke arah Alaia.
Alaia hanya terdiam melihat benda elektronik mungil itu.
"Lain kali kalo mau nyuci celanaku tuh di periksa dulu kenapa kanotngnya" ujar Erick kesal.
"Tadi aku udah cek tapi gak ada" jawba Alaia membela diirnya.
"Lah ini buktinya ada di celanaku di dalem mesin cuci, udah kerendem aer lagi" ujar Erick sambil menunjuk ke flashdisk miliknya.
"Lain kali, periksa lagi. Sana! " Erick mengusir Alaia dari hadapannya.
Selama menikah, ini adalah kali pertama Erick marah padanya.
Biasanya hanya perdebatan kecil yang sesaat kemudian mereda.
Alaia sadar, apa yang ia lakukan memang salah, namun sesungguhnya baru kali ini ia melihat Erick semarah ini padanya.
Alaia berbalik badan dan melihat betapa frustasinya Erick ketika flashdisk miliknya tidak bisa berfungsi, sednagka ada beberapa pekerjaan yang harus ia kerjakan.
Alaia pun berlalu begitu saja dan menutup pintu kamarnya, ia memilih untuk duduk-duduk di taman kecil di belakang rumahnya.
Melihat Erick yang kesusahan karena dirinya membuat Alaia merasa sangat bersalah.
Padahal sebelum memasukkannya ke dalam mesin cuci Alaia sudah memastikan bahwa seluruh kantong di celana sudah kosong dan tidak ada isinya, barulah ia memasukkan celana tersebut ke dalam mesin cuci.