Kaori bersiap untuk mengadiri pemakamannya sendiri. Kaori memilih menggunakan dress berwarna hitam yang tersedia di dalam lemari pakaiannya.
"Jake pasti menyiapkan pakaian ini untuk aku" kata Kaori dalam hati,
Kaori segera menggunakan dress yang dia ambil dari dalam lemari. Kemudian Kaori memoles wajahnya dengan natural. Kaori menggerai rambutnya. Dia ingin menunjukkan kepada Selina dan Lara, jika dirinya baik-baik saja. Kaori mengepal tangannya, tiba-tiba saja Kaori mengingat pengkhianatan yang dilakukan kekasihnya, Bastian. Bastian juga harus merasakan apa yang Kaori rasakan. Kaori tidak akan melepas orang-orang yang menyakiti keluarganya. Mereka harus membayar kejahatan yang mereka lakukan dengan darah mereka.
Kaori segera keluar dari kamarnya. Kemudian dia menghampiri Jake di meja makan. Sebelum berangkat ke lokasi pemakaman Kaori, mereka berdua menikmati makan pagi bersama.
"Apakah kamu yakin akan menunjukkan diri di sana?" tanya Jake tanpa menatap Kaori dan menikmati sandwich di piringnya,
"Tentu saja. Aku sangat menantikan datangnya hari ini. Selina, Lara dan Bastian harus membayar apa yang mereka lakukan" jawab Kaori tanpa ragu.
Jake hanya bisa mengikuti keingian Kaori. Setidaknya, Jake ingin melihat Kaori bisa melampiaskan rasa dendam yang Kaori simpan dalam hatinya.
"Baiklah. Kita habiskan makan pagi kita terlebih dahulu, setelah itu kita akan segera berangkat ke lokasi pemakaman kamu" kata Jake yang membuat Kaori menganggukkan kepala," terima kasih, Jake. Aku pasti akan membalas semua kebaikan kamu," ungkap Kaori.
**
Hamparan rumput hijau terbentang luas di depan Kaori. Lokasi pemakaman Kaori berada di sebuah kompleks pemakaman elit yang lahan pemakamannya bisa berharga jutaan bahkan milyaran. Kaori merasa ditampar dengan kenyataan yang membuat dia merasakan kemewahan yang ditukar dengan kematian. Jika saja, Kaori bisa memilih, dia lebih memilih untuk hidup dan lahir dari keluarga sederhana dengan keluarga yang lengkap, bukan seperti saat ini, Kaori berdiri sendiri, tanpa kedua orang tuanya.
"Apakah kamu sudah siap dengan kejutan yang akan kita berikan ke pada mereka?" tanya Jake yang menyadarkan Kaori akan lamunannya.
"Tentu saja" jawab Kaori.
"Kalau begitu, kamu bisa menggunakan aku sebagai pelindung kamu" tandas Jake sembari menggenggam tangan Kaori yang gemetar.
"Aku pasti menggunakan kamu dengan baik. Karena aku akan membayar kebaikan kamu, Jake,"
Jake tersenyum. Kaori dan Jake berjalan ke arah kerumunan para pelayat yang sedang berkumpul menantikan peti mati Kaori terkubur di dalam tanah. Suara isak tangis Selina dan Lara terdengar pilu. Seolah-olah mereka bersedih dengan kematian Kaori.
"Aku rasa mereka layak mendapatkan piala penghargaan. Mereka berdua sangat menjiwai peran mereka berdua" bisik Jake membuat Kaori tersenyum sinis.
"Aku juga merasa sependapat dengan kamu" Kaori menggunakan topi lebar berwarna hitam yang menutupi sebagian wajahnya. Jake dan Kaori menembus kerumunan massa dan mendekat ke tempat Selina dan Lara. Selina dan Lara menatap kedatangan Jake yang tidak lain masih saudara sepupu Kaori, mereka berdua belum menyadari keberadaan Kaori yang berada di sisi Jake.
"Aku turut berduka" kata Jake seakan prihatin dengan apa yang terjadi di sana,
"Terima kasih. Kaori seorang anak yang baik, Tuhan pasti menempatkan Kaori di surga" ucap Selina sembari menatap peti Kaori yang bertaburan bunga.
"Aku tidak berduka untuk Kaori" jawab Jake yang membuat Selina kebingungan.
"Apa maksud mu?" tanya Selina,
"Untuk apa aku berduka untuk orang yang masih hidup" jawab Jake membuat Selina pucat.
Apakah Jake mengetahui sesuatu? Bagaimana bisa, seseorang yang berada di luar negeri mengetahui kebenaran yang tertutup dengan rapat.
"Jangan bercanda. Aku melihat dengan jelas jenazah Kaori" Kata Selina penuh keyakinan. Selina tidak ingin kebohongan yang dia bangun terbongkar begitu saja. Lara yang berada di sisi Selina merasa Jake menyebalkan.
"Apakah kamu sedang mempermainkan kami?" tanya Lara yang kini ikut bersuara,
"Tidak" jawab Jake,"Kao, lebih baik kamu segera menunjukkan wajah kamu. Sepertinya mereka menganggap aku membual" kata Jake sembari menghadap ke arah Kaori.
Kaori mengikuti apa yang Jake katakan. Apa yang Kaori lakukan membuat orang-orang yang menghadiri pemakaman Kaori tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Bahkan para wartawan berebut untuk menggambil gambar Kaori.
"Apa kabar Ibu, Lara" sapa Kaori membuat wajah Selina dan Lara tampak pucat.
"Kaori! Syukurlah kamu masih hidup!" teriak Selena sembari berlari ke arah Kaori dan memeluk Kaori. Selena membawa Kaori ke dalam pelukannya. Selina berusaha menyembunyikan kepanikan di dalam hatinya.
"Tentu saja aku harus tetap hidup, Ibu. Aku akan membuat kamu dan Lara membayar perbuatan yang kalian lakukan ke padaku" bisik Kaori membuat Selina membelalakkan kedua matanya.
**
Kaori memeluk tubuh Jake, Dia sangat senang dengan apa yang dia lakukan kepada Selena dan Lara. Jake membalas pelukan Kaori. Jake dapat merasakan aroma strawberry yang tercium dari dalam tubuh Kaori. Wangi tubuh Kaori sangat memabukkan. Jake mencoba meredam keinginannya untuk memiliki Kaori. Setidaknya, Jake mencoba untuk bersabar.
"Terima kasih, Jake. Kamu membuat aku merasa bahagia hari ini" ungkap Kaori,
"Aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan untuk kamu. Kamu tau kan?" tanya Jake yang mencoba menegaskan maksud kebaikan yang dilakukan Jake untuk Kaori.
"Aku tau, aku harus membayar mahal untuk itu" jawab Kaori yang kini melepas pelukannya. Jake tampak kecewa dengan apa yang Kaori lakukan, namun Jake memilih untuk diam dan bersabar, karena semua akan datang dengan sendirinya,"jadi, katakan apa keinginan kamu?" tanya Kaori tanpa mempertimbangkan konsekuensi dari pertanyaan yang akan membuat Kaori cukup kesulitan.
"Kamu yakin akan melakukannya sekarang?" tanya Jake balik,
"Tentu" jawab Kaori dengan penuh keyakinan.
"Apakah kamu ingat yang aku katakan saat itu?" tanya Jake lagi,
"Maksud kamu?"
"Imbalan yang aku inginkan" kata Jake yang dengan sengaja berbisik di telinga Kaori. Kaori tampak berpikir dengan keras, dia mencoba mengingat apa yang Jake katakan hari itu. Kaori membelakkan kedua matanya, menatap Jake dengan tatapan yang sulit dia artikan. Benar, Kaori mengingat apa yang Jake inginkan darinya.
"Kamu sedang bercanda?" Kaori cukup terkejut.
Awalnya Kaori mengira Jake hanya ingin mengerjainya saja.
"Tidak. Aku memang menginginkan diri kamu. Tidak harus sekarang, hanya jika kamu menginginkannya," jawab Jake santai,
"Tapi-"
"Ingat Kaori, aku sudah melakukan bagian aku. Kamu seharusnya menunjukkan rasa terima kasih kamu" kata Jake seolah memperingatkan Kaori akan kewajiban Kaori untuk membalas kebaikan Jake.
"Apakah kamu menginginkan tubuhku?" tanya Kaori hati hati,
"Secara tidak langsung, iya. Selain itu, aku juga menginginkan kedudukan di keluarga kita. Aku hanya seorang anak angkat. Tidak sepadan dengan kamu. Jika aku menikah dengan kamu, aku bisa menjadi kepala keluarga. Benar kan?" tanya Jake yang membuat Kaori tersenyum getir, dia tidak menyangka Jake akan menginginkan hal itu dari dirinya. Tapi, Kaori tidak peduli. Jake hanya menginginkan tubuhnya, Jake tidak akan membuat Kaori mati. Jake akan menjaga Kaori dan membantu Kaori membalas rasa sakit yang diberikan Selina, Lara dan Bastian.
"Baiklah. Lakukan apa yang kamu mau" kata Kaori pasrah.
Jake tersenyum. Dia menghampiri Kaori. Jake membawa tubuh Kaori untuk lebih dekat dengann tubuhnya, tidak ada jarak antara tubuh mereka. Kaori menutup kedua matanya, mencoba pasrah dengan apa yang terjadi selanjutnya. Di dalam pikiran Kaori, tubuhnya adalah milik Jake.
"Untuk apa kamu menutup kedua mata kamu?" tanya Jake yang kebingungan dengan sikap Kaori yang tiba tiba memejamkan kedua matanya.
"Aku hanya mencoba pasrah dengan keadaan aku" jawab Kaori.
"Aku tidak akan melakukannya tanpa rasa suka sama suka diantara kita berdua. Jika aku mampu mengendalikan diriku, maka hal itu akan berlaku," ungkap Jake yang membuat Kaori terperangah.
"Ha?"
"Sudahlah! Lupakan saja. Aku harus pergi bekerja. Kita akan bertemu saat jam makan malam" kata Jake sembari mengecup kening Kaori.
"Jake" panggil Kaori dan membuat Jake menghentikan langkahnya dan berbalik menatap ke arah Kaori.
"Terima kasih" gumam Kaori lirih, namun Jake bisa mendengar ucapan terima kasih yang Koari ucapkan.
"Aku akan membuat kamu bahagia" kata Jake," tapi semua itu berlaku, jika kamu menjadi milik aku" imbuh Jake.
Kaori hanya bisa menatap kepergian Jake. Kaori tidak mengerti dengan apa yang Jake katakan. Jika memang tujuan Jake untuk mendapatkan pengakuan dari keluarga besarnya, untuk apa dia mau membantu Kaori sampai sejauh ini?