Obsesi

1524 Kata
"Gue heran, dia tadi bilang kalo gue bakal di antar pulang asistennya, tapi kenapa malah jadi elo..!?" ujar Yesi ketus, ia duduk menatap jendela kaca mobil dengan kedua lengan bersilang di dadanya tampak kesal. "Sama saja, bukankah kita sudah saling mengenal?" "Tapi gue berharap, Rendi yang nganter gue pulang." rengeknya. "Untung gue cinta, meskipun dia selalu bersikap dingin ke gue." ujarnya lirih. Yesi menoleh ke arah Gilang yang masih fokus menyetir, "Lo temannya, lo dekat dengan dia, apa dia nggak memiliki perasaan sama gue sedikitpun gitu?!" Gilang hanya mengendikan kedua bahunya. "Gue juga yang harus mengejar dia lebih dulu, itu sangat memalukan. Apa lo nggak ngerasa sikap dia itu menyebalkan? Gue cantik, menarik, bahkan tak sedikit yang ingin menjadi kekasih gue, kurang apa coba?" Yesi terus saja menggerutu karena semua yang ia harapkan rupanya meleset. "Kau hanya terobsesi padanya." jawab Gilang begitu tenang. "Mana ada? Apa kurang jelas buat gue nungguin dia selama ini? Lo bayangin sendiri, itu lebih dari sepuluh tahun...!!!" ujarnya bersungut-sungut. "Itu yang di namakan obsesi, Yesi." Yesi mendelik kesal, "kalo gue cuma terobsesi sama dia. Nggak mungkin gue relain dia gitu aja setelah kita lulus, Lang." Gilang terkekeh pelan, "kau hanya kehabisan ide, waktu itu. Sikapmu yang berlebihan begitu, justru membuat seseorang yang kau sukai mungkin saja merasa risih." sahutnya sekaligus mengingatkan. "Siapa yang risih? Rendi? Oh, hey- Semalam gue bercinta dengannya. Dan lo harus tau, dia begitu mendambakan tubuh gue, bahkan kita berlanjut sampai pagi tadi." ujarnya bangga. Gilang tak habis pikir dengan wanita ini, demi laki-laki yang dia sukai, Yesi terus saja menghalalkan segala cara untuk menarik atensinya. "Jangan menjebaknya dengan hal kotor seperti itu Yesi..." lelaki itu tersenyum teduh kepadanya. "Yaaa... Biarpun akhirnya dia sudi menyetubuhimu bukan berarti dia akan menyukaimu atau membalas perasaanmu, meskipun kau terus saja menggodanya dengan berbagai seribu cara, seperti yang kau lakukan semalam." Deg... Ada rasa sakit menyeruak di dalam hati Yesi saat mendengar itu. Kalimat yang terlontar dari mulut lelaki yang duduk di sampingnya itu, seakan menamparnya. "Percaya sama aku, aku nggak ingin kau sakit hati akhirnya, karena tubuhmu itu tak akan mampu merubah cara pola pikirnya, Rendi tak seperti pria lain pada umumnya..." ujar Gilang lagi yang kini sedikit bersahabat. "Woaah..." Yesi bertepuk tangan, setelah menyadari sesuatu, "lo Gilang bukan sih? Sudah lama nggak ketemu, kenapa lo lembut dan manis begini? Kalo terus begini, hati gue bisa meleleh nantinya." "Lihat..." Yesi bertingkah mengipasi wajahnya sendiri dengan kedua tangannya, "sikap hangat lo yang barusan, membuat sekujur tubuh gue panas." "Aku berkata seperti ini karena peduli denganmu. Kau wanita dewasa yang harusnya mampu berfikir lebih jernih. Karir yang kau raih ini pun juga suatu kebanggaan menurutku, jangan hanya karena obsesimu ke Rendi sampai membuatmu tak terkendali nantinya." Yesi tergelak seakan mengejek, wanita itu geleng-geleng kepala masih tak menyangka, "Oke, oke... Gue paham maksud lo. Tapi serius kalian berempat memang berubah, sikap kalian lebih manis, namun nasib kalian yang berbeda. Lo sama Toni punya perusahaan sendiri, yaaa meskipun tak seberapa besar, setidaknya itu usaha lo sendiri. Devian, dia menjadi pengacara pun tak kalah keren. Hanya Rendi yang betah menganggur, parahnya dia lebih memilih menjadi guru les online. Benar-benar konyol, tak berguna... Kenapa pria yang gue suka tetap saja seperti itu? Tapi nggak papa sih, gue siap menampung hidup dia, asal dia menjadi suami gue kelak..." Gilang tak terprovokasi sama sekali, ia menyetir dalam diam tanpa berniat menjawab. "Oh iya... Kebetulann nih... Ada yang ingin gue sampein ke elo." Gilang menoleh sekilas, "perusahaan tempat gue kerja membutuhkan engine seperti elo, kalo lo minat datang aja kesana." Yesi menyimpan kartu namanya ke dalam dasboard mobil itu, "gue lihat, lo pun juga belum bergabung dengan perusahaan bokap lo, siapa tau lo tertarik." Gilang masih diam seribu bahasa, tanpa ada percakapan lagi di antara keduanya yang akhirnya membuat Yesi bosan. "Lo nggak pengen nanya, di mana gue ketemu Rendi semalam?" "Nggak." sahutnya. "Ck, gue ketemu dia di club Venus. Gue nggak nyangka kalo Rendi bakal pergi ke tempat semacam itu" Gilang tersenyum tipis, "mungkin dia butuh hiburan." "Semalam Rendi seperti sedang melakukan meeting, tapi melihat Rendi yang hanya diam dengan penampilan biasa tak seperti kedua pria lainnya. Gue rasa Rendi hanya duduk saja tanpa berniat mengganggu kegiatan kedua orang yang duduk di sampingnya dengan penampilan formal layaknya pegawai kantoran." jelasnya sambil menebak-nebak. Gilang hanya merespon dengan anggukan tipis, karena memang semalam Rendi bersama dirinya serta Toni dan Devian di tempat itu. Mereka lebih sering berkumpul di sana, karena Rendi lebih suka terlihat natural maka dia melakukan pertemuan kesepakatan bisnis di suasana keramaian. Di sana Rendi bisa di pastikan aman, mengingat pemilik club adalah sahabat Bimo, abang iparnya. Seperti pepatah, memukul dua burung dengan satu batu. Hal itu yang sering Rendi katakan pada ketiga temannya. "Gue kira Rendi memang berbicara dengan kedua pria itu, tapi setelah melihat telinga Rendi tersumpal headset maka bisa di pastikan kalo Rendi sedang berbicara dengan seseorang di dalam telepon." jelasnya, tanpa dia sadari Gilang ingin sekali tertawa. "Beri alamatmu, kita sedari tadi hanya berkeliling di sini." ujar Gilang yang mulai kesal. "Gue sedikit geli, sikap lo kayak ingin merayu gue saja." "Merayu?" tanya Gilang, kepalanya meneleng berfikir dengan alis menukik sempurna. Yesi mengangguk cepat, "lo bicara begitu lembut ama gue gitu loh, bahkan sekarang lo nanyain alamat tempat tinggal gue." ujarnya sambil menyila anak rambut ke belakang telinga bersikap manis di hadapan lelaki di sampingnya itu. Perlu di akui oleh Yesi. Gilang terlihat lebih matang sekarang. Dengan tubuhnya yang lebih atletis dengan berpakaian seksi, celana panjang kain berwarna hitam serta kemeja biru gelap panjang yang sudah tergulung sampai ke setengah siku lengannya. Itu sangat menggoda, uratan otot kekar yang menonjol serta buku-buku tangan yang menggenggam setir kemudi, entah kenapa membuat Yesi ingin sekali di remas manja olehnya. Hanya membayangkan ini saja, dirinya sudah basah. Yesi meliriknya sambil menggigit bibir bawahnya dengan gerakan sensual, "Gue tau, lo dulu tertarik sama gue, Lang... Tapi- ayolah, lo tau kan kalo gue sukanya sama Rendi." ujarnya lembut. "Bahkan lo melihat pengorbanan gue semasa kita sekolah dulu, masa lo lupa sih?!" Yesi berkata demikian seakan ia iba pada lelaki di sebelahnya. Gilang hanya menghela nafas panjang, bicara terlalu lama dengan wanita yang duduk di sampingnya ini sungguh membuatnya jengah. Kali ini ia setuju dengan pendapat Toni mengenai Yesi 'si betina gila'. "Aku tidak akan merayumu." "Kenapa? Nggak usah malu, gue paham kok." Yesi tersenyum tipis begitu menawan, yang tentu akan menarik perhatian lawan jenisnya. Dia cantik dan tampak sempurna dari penampilannya. "Itu cincin lo, indah banget." Yesi menangkap sesuatu yang melingkar di jari manis sebelah kanan, saat Gilang menyandarkan lengan sikunya di jendela mobilnya. "Emas putih?" "Platinum." sahut Gilang. "Woah, pasti mahal." Gilang hanya tersenyum tipis, namun tak urun ia mengangguk bukan membenarkan kata mahal dari wanita itu, hanya kata 'woah' yang mulai terngiang-ngiang di telinganya. Rupanya lelaki itu mendadak merindukan wanita pujaan hatinya. "Tapi kenapa lo pakai cincin? Lo masih bujang kan?!" "Turunlah, sudah sampai." Wanita itu sontak menoleh ke arah luar jendela, "kok lo tau, gue tinggal di sini?" ujarnya heran. "Turun, waktuku menipis." perintah Gilang. "Jadi bener, lo naksir gue?" seru Yesi, "ya ampun Gilang, gue nggak nyangka lo-" Yesi menutup mulutnya seakan terkejut, "lo bahkan mencari tau alamat gue, lo bikin gue takjub dengan usaha lo, Lang." Gilang menatapnya datar, ia keluar lantas memutari mobil hingga membuka pintu mobil sebelah kiri, "turun...!" Yesi terkekeh pelan, lantas menyodorkan jari lentiknya agar Gilang menyambutnya, namun rupanya lelaki itu hanya menatapnya datar tanpa ada pergerakan lain. "Sebegitu terobsesinya lo ke gue." ujarnya bangga. Gilang menutup pintunya, lantas berbalik arah hendak kembali masuk ke dalam mobil. "Eh, mau kemana?" Yesi menahan lengan kekarnya, "ayo mampir dulu." "Lain kali saja." Gilang melepas genggaman tangan Yesi dan berlalu begitu saja. "Hati-hati di jalan..." seru Yesi sambil melambaikan tangannya saat mobil itu mulai melaju meninggalkannya. ***** "Semalam, siapa wanita yang mengganggu rapat kita?" Herman menatap Rendi penuh selidik, yang sedang sibuk dengan beberapa berkas di hadapannya. "Bukan siapa-siapa." "Kau sekarang nakal, tak seperti Rendi yang aku kenal." Rendi mengerutkan alis tak paham, "memangnya aku ngapain?" Herman mendeham, ia mengambil duduk di kursi seberang meja kerja Rendi. "Melihat adanya kissmark di tulang selangkamu, semua orang pasti bisa menebaknya." Rendi diam sesaat, namun tergelak setelah detik berikutnya. "Aku terpaksa, dan semalam kelepasan." "Kelepasan dalam hal beginian, semua orang pun mau." gerutu Herman. "Kau juga bisa, Herman tampan. Istrimu jauh, dia tak akan tau apa yang kau lakukan di sini." Herman melempar apa saja karena kesal dengan ucapan Rendi, "aku sangat mencintai istriku, jangan meracuni otakku dengan hal mesuum itu." Lelaki yang usianya lebih tua darinya enam tahun itu, selalu beranggapan bahwa sikap dan perilaku Rendi melebihi usianya. Ting... "Siapa yang kirim pesan?" tanya Herman cepat. "Kenapa, apa sebegitu penasaran kau dengan hidupku?" Herman mencebik, "pasti wanita semalam, apa tebakanku benar?" Rendi tergelak sambil geleng kepala, "kau salah, ini dari Gilang." "Ya sudah, aku pergi dulu. Jangan lupa nanti sore akan ada meeting di villa, sesuai permintaan klien kita." Rendi mengangguk, matanya masih terfokus dengan isi pesan Gilang yang menampilkan kartu nama seseorang. Jesica Jody Buana Chief Financial Officer (CFO) Huangfei Digital Group Rendi membaca setiap kata disana. Senyum terulas tipis pada bibir lelaki itu, "terima kasih telah datang tanpa di undang." ujarnya puas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN