bc

Hi... Papa Tampan

book_age18+
832
IKUTI
9.4K
BACA
one-night stand
family
HE
boss
drama
bxg
bold
assistant
like
intro-logo
Uraian

Warning 18+

Di mohon dengan bijak, untuk pembaca di bawah umur di larang masuk ke dalam desa saya.

*****

Aarrghh..Rendi terbangun di tempat asing dan sangat berantakan. Matanya menyapu seisi ruangan itu, dan siapapun pasti akan mengerti, bahwa itu adalah kamar yang sangat mengerikan dan berbau menyengat yaitu alkohol.

"Astaga... Apa yang terjadi?!!" gumamnya. Ia memijat pelipisnya sendiri karena kepalanya terasa berat dan cenat cenut.

Braaakk...

Pintu kamar tersebut terbuka lebar dan masuklah kedua temannya dengan ekpresi wajah yang menyebalkan.

"Hey, hey... Piye Ren rasanya?" tanya salah satu di antara mereka.

"Apanya?"

"Itu loh..."

Mata Rendi menyipit sinis saat melihat tingkah temannya yang menggerakan pinggulnya maju mundur, seakan memberitahu apa yang mereka maksud.

"Ngapain kamu tuh?" ujar Rendi risih.

"Jiaah, buset nih anak. Abis belah duren, otaknya jalan-jalan." pekik salah satunya seakan tak terima dengan kepolosan Rendi.

"Kalian tu, otaknya m***m mulu." sahut Rendi kesal. "Siapa yang m***m?" tanya Gilang heran.

"Kalian lah." sahutnya.

"Kita nggak mesum...! Liat aja, lo sendiri. Siapa sekarang yang m***m?!"

Kedua teman Rendi menyeringai lantas melempar bantal serta pakaian miliknya ke arah Rendi.

"Woy, mau kemana?" seru Rendi.

"Kita bedua, balik... Lo mandi dulu, bau seks... Hahaha." sahut Toni sebelum menutup pintu kamar tersebut.

Rendi melotot.

Ia bergidik ngeri setelah kembali menatap keadaan seisi ruangan itu.

Tubuhnya masih polos, bahkan matanya menangkap c*****************a yang tergeletak di bawah kursi sebelah ranjangnya.

"Tu-tunggu...!" ujarnya gagap.

"A-aku sudah tak perjaka lagi...? Arrgghhh...."

Rendi menjerit heboh berusaha menutupi tubuhnya dengan selimut setelah menyadari bahwa dirinya sudah menyentuh wanita.

"Emaaakkk... Rendi wes ndak perjaka lagi, maaakkk...!!!"

chap-preview
Pratinjau gratis
Kuliah atau kerja?
Suara gemuruh ombak menerjang bebatuan karang seakan menemani rasa gundah siang ini, di mana dirinya merasa bimbang hanya karena, apa dia akan meneruskan kuliah atau bekerja saja. Baru beberapa jam yang lalu, Rendi dan kawan-kawan menerima pengumunan kelulusan sekolah. Dan dirinya telah menduduki peringkat pertama di seluruh SMA Negeri daerah Wonogiri. Memang senang kalau menjadi sesuatu yang sudah mampu membanggakan keluarga ataupun orang-orang di sekitarnya. Namun sekarang, lain ceritanya... "Hufftt..." Berkali-kali ia menghela nafas panjang. Kuliah hanya akan membebani orang tuanya, pikirnya. Apalagi mengingat sang kakak sibuk sembunyi di negara tetangga, di tambah pergi keadaan hamil lantas melahirkan di sana, yang membuat kedua keluarga besar kebingungan. Dan karena sikap nekat anak tertua dari pasangan Suprapto dan Yanti, menjadikan imbas kecemasan pada hati sepasang manusia paruh baya itu. Rendi tentu tak mau menjadi beban pikiran untuk mereka juga, kan? Sudahlah, cukup sudah dengan meratapi nasibnya sendiri, ia akhirnya memutuskan untuk kembali pulang ke rumah saja karena matahari begitu terik menyilau, hingga kini mulai terasa membakar kulitnya. "Pulang sekarang?" tanya Toni. Rendi mengangguk saja, lantas duduk memboceng di belakang temannya itu, meninggalkan salah satu pantai yang indah di daerah gunung kidul. "Mau kemana nih?" "Terserah." Toni mengangkat kedua alisnya heran, mendengar jawaban lesu dari sang juara yang biasanya paling aktif dan lebih heboh dari lainnya. "Lo kenapa?" "Nggak papa..." jawabnya lirih yang hanya bisa di dengar oleh Toni. "Ada masalah?" Rendi mengangguk lemah, matanya terpejam, lengannya melingkar memeluk perut Toni. Ia kini menyandarkan kepala di bahu pemuda berambut ikal itu, layaknya sepasang kekasih yang sedang kasmaran. Mereka melaju pelan membelah jalanan hingga membuat Rendi begitu menikmati terpaan angin yang seakan membelai manja kulit wajahnya. Keterdiamannya, rupanya menarik atensi gadis yang sedari tadi memperhatikannya. "Wajahmu galau banget Ren. Ada apa woy?" seru Yesi yang duduk berboncengan dengan Gilang. Gadis itu sudah lama menaruh rasa tertarik kepada Rendi, namun sayangnya adik dari Riana itu begitu kaku dan tak pernah menanggapi siapa saja yang mengenai lawan jenis. "Ck, sejak kapan tuh anak punya rasa galau?" sahut Gilang. "Ish Gilang, lihat aja deh Lang, lo nggak ngerasa kalo Rendi seharian ini bertingkah aneh?" Gilang sesekali melirik Rendi sebenarnya menyetujui ucapan Yesi, namun ia bersikap cuek seakan apa yang ia lihat adalah hal biasa. Teman Rendi yang satu itu sangat jengah dengan sikap para gadis yang selalu berlebihan. "Lo denger nggak sih?" "Denger... Dan jangan pukul punggung gue lagi, atau gue lempar lo ke jurang itu." geram Gilang. "Yaelaah, galak bener lo." Yesi memutar bola mata malas, namun kini gadis itu kembali fokus pada Rendi Pemuda yang ia kagumi sejak mereka duduk di bangku SMP. Motor mereka berhenti di tempat yang biasa Toni dan Gilang serta teman lainnya nongkrong, karena Rendi bukan tipekal pemuda yang sudah bercicit ria dan tampil wah agar terlihat keren. Karena tanpa begitu, Rendi selalu merasa bahwa dirinya paling tampan dan paling keren. Itu yang selalu ia pikirkan. "Ngapain kesini?" tanya Rendi heran setelah menyadari bahwa motor mereka sudah berhenti dan terparkir di area cafe tersebut. "Pulang aja, yuk..." rengeknya. Gilang mendecak, ia merangkul bahu Rendi lalu menggiringnya masuk tanpa peduli dorongan dan penolakan Rendi. Bahkan sekarang butuh dua orang untuk menahan tubuhnya agar menurut dan tak lagi memberontak seperti tadi. "Sialan..." gerutunya. Gilang, Toni serta Devian terkekeh geli melihat raut kesal Rendi. "Males aku sama kalian." ujarnya sengit sambil bersidekap memasang wajah ngambek layaknya gadis rumahan. "Sudahlah, lo tuh butuh hiburan..." ujar Devian sambil menoel ujung dagunya. "Apaan sih Depi, sayang... Aku nggak suka yach..." sahut Rendi dan tentu membuat mereka semua tertawa terbahak-bahak. "Sialan lo, Ren..." Devian medecak kesal karena Rendi selalu memanggil namanya dengan sebutan kata lain. Orang lain yang mendengarnya pasti mengira kalau Devian adalah seorang perempuan. Apalagi perawakannya yang tinggi putih bermata sipit, membuat wajahnya semakin terlihat imut cantik dan ganteng bersamaan. "Lagian ngapain di sini. Udah tau kalo aku tu males nongkrong." ujarnya. "Ayolah Ren... Sesekali juga." Toni mengangguk setuju lantas merangkul bahu Rendi. "Lo kenapa? Jarang-jarang liat lo kalem begini." "Tau ah... Pusing aku ni." "Kenapa, bro?" Gilang ikut merapat. "Iya, tumben lo nggak rame. Kayak kita sekarang, harusnya baju sudah beraneka warna, kenapa kita masih rapi dan wangi begini. Tanpa ikutan konvoi kayak anak lainnya." ujar Devian. "Jangan sampe kalian mengotori baju ku, itu konyol namanya bukan konvoi." ujar Rendi. Mereka bertiga saling pandang, Rendi benar-benar tampak lain. "Apa yang mengganggumu?" tanya Gilang. "Nanti aja ceritanya, ada dia males aku." jelasnya. Semua sontak menoleh ke arah belakang Devian, rupanya Yesi dan Mini datang di susul beberapa waitress dengan beraneka ragam makanan di tangan mereka. "Hari ini, gue yang traktir." seru Yesi. "Wuaaahhh..." Toni Gilang dan Devian, mata mereka berbinar terang tentu sangat antusias melihat apa yang terhidangkan. "Sumpah lo?" Yesi mengangguk yakin, "Ren, sini..." panggilnya pada pemuda pujaan hatinya. "Nggak usah Yes... Kalian saja yang makan." "Yaaaahhh... Kok gitu sih, gue udah bayar loh ini." ujar Yesi mencebik kecewa, dengan memandangi beberapa makanan yang sudah mulai di santap oleh teman-teman lainnya. Yesi melangkah menghampiri Rendi, ia duduk di sampingnya tentu posisi menghadap pemuda itu. "Ren..." "Yaa?!" Rendi mendongak sejenak, matanya kembali fokus pada layar ponselnya. "Liat gue, please..." pintanya. Rendi menghela nafas panjang, ia menyimpan kembali ponsel miliknya pada saku celana lantas menatap Yesi sesuai permintaan gadis itu. Namun Rendi menggeser tubuhnya memberi jarak diantara mereka. " Apa, Yes?" tanyanya. "Kenapa lo cuekin gue terus? Gue pengen lo tuh kasih sedikit perhatian ke gue." rengeknya. Rendi menatapnya datar, ia sangat malas dengan gadis kelahiran ibu kota itu. Bukan membencinya, melainkan dirinya hanya malas dengan sikapnya yang terlalu posesif kepada Rendi, meskipun diantara mereka tidak ada hubungan spesial. "Aku nggak bakal cuek sama siapapun, asal mereka waras dalam bertindak." jawabnya. "Emang gue ngapain? Gue nggak jahat sama elo, tapi kenapa lo cuek ke gue?!" protesnya. Rendi memutar bola mata malas, ia bangkit dari duduknya meninggalkan Yesi yang masih bersikap manja padanya. "Aku pulang dulu, bro." pamitnya. "Gimana sih lo, bro." gerutu Toni, ia menatap Rendi penuh protes sambil menjilat sepuluh jari tangan nya yang terdapat sedikit sisa sambal di sana. "Kalian makan saja." jawabnya sambil nyengir, ia mengedipkan satu mata ke arah Gilang sebagai isyarat agar Gilang menahan Yesi untuk tak bergelayut padanya. "Yes, sini." ujarnya malas. "Ngapain? Ogah..." Yesi semakin erat memeluk lengan Rendi, seolah bersikeukeuh untuk tak akan melepaskannya lagi. "Gue maunya sama Rendi." ujarnya sok imut. "Aku mau ke kamar mandi sebentar, Yes." "Nggak...!!!" sahut Yesi menggeleng cepat. "Pasti lo bohong lagi." Yesi sudah tak mau lagi mengambil resiko yang harus tertipu untuk ke sekian kalinya, karena setiap Rendi berada di dekatnya seperti sekarang, maka pemuda itu akan beralasan yang sama dan ujung-ujungnya tak kembali lagi dengan kata lain bahwa Rendi kabur darinya. "Ya udah ikut aja ke kamar mandi, terus bantuin Rendi pegang anunya." celetuk Toni yang membuat Rendi melotot tak terima. "Cangkemmu Ton..." serunya. Semua tergelak. Menggoda Rendi yang lagi kesal, rupanya semakin menyenangkan. "Haha.. Mau gimana lagi, orang do'i nggak mau lepas. Ya nggak Lang?!" Gilang mengangguk setuju, "mending lo ajaki Yesi foreplay sekalian, bro..." Lagi-lagi ketawa gemuruh terdengar riuh. "Sialan." umpat Rendi, "kalo gitu ayo...!" ujarnya sambil menatap gadis itu. "Kemana, Ren?" Rendi menyeringai, ia membawa Yesi semakin menempel padanya lantas membisikan sesuatu di telinga gadis itu. "Gimana? Masih mau ikut?" Yesi menggeleng cepat, wajahnya memerah malu yang tentu membuat semua teman-teman yang di sana bertanya-tanya, namun berlagak paham dengan apa yang Rendi bisikan. "Ikut aja, Yes..." seru Toni. "Iya ikut aja..." sahut Devian. "Nggak..." Yesi menggeleng cepat, "gu-gue balik dulu, ayo Mini." ujarnya gagap menarik cepat gadis yang masih belepotan makan ayam kecap. Rendi terkekeh geli, ia kembali duduk dan ikut menyomot makanan yang sudah hampir ludes itu. "Lo bisikin apa tu cewek?" tanya Gilang penasaran. Rendi mengulum bibirnya, ia tak menjawab dan kembali menyomot makanannya lagi. "Bro...?!" "Apa?" "Lo bisikin apa dia?" Rendi menaikan satu alisnya, "kenapa kepo?" "Sialan lo." "Iya, tadi lo ngomong apa Ren? Kok dia langsung kabur gitu?" Toni pun ikut penasaran. "Ck... Makan aja kenapa sih." ujar Rendi yang tak ingin menjawab. "Lo kenapa nyebelin sekarang, Ren?" Devian pun ikut penasaran. Rendi melangkah ke arah wastafel yang ada di dekat mereka duduk. Mencuci tangannya sampai bersih dan kembali duduk bergabung dengan mereka. "Bro...?!" "Apaan sih, Depi." ujar Rendi kesal. "Lo tu, yang apaan." sahut Devian. "Lagian kenapa kalian kepo, sih..." "Buruan ngomong." sahut Toni. "Yakin, kalian pengen tau?" Ketiganya mengangguk serempak. "Rahasia, hahaha..." Toni, Gilang serta Devian menatapnya malas. "Aku pulang dulu..." "Pulang bareng gue aja." Rendi menggeleng, "nggak Ton, aku udah di tungguin orang di bawah." "Siapa?" "Rahasia, hahaha..." Rendi kabur dari hadapan mereka, sebelum sepatu bau bangkai itu melayang ke wajahnya. Dirinya sekarang benar-benar sedang malas bersenda gurau, namun dia tak mungkin mengatakan itu kepada ketiga temannya tadi. "Mas..." sapanya pada seseorang yang duduk di dalam mobil. "Makasih mas, atas tumpangannya." ujar Rendi sambil menyengir. "Bukannya ini hari kelulusanmu Ren?" tanya David. "Iya mas." "Kenapa masih polos saja tu seragam?" "Haha, males aja mas. Nggak laik pokoknya." David terkekeh mendengarnya, "jadi kuliah dimana nanti?" "Nggak tau." "Loh kok nggak tau?" "Rendi masih bingung." "Kenapa?" "Rendi nggak mau nyusahin kalian." jawabnya sekenanya. "Nyusahin gimana maksudnya?" Pemuda itu menggeleng tak menjawab, ia tetap diam meskipun David menanyakan berulang kali.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.5K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.8K
bc

TERNODA

read
198.8K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.8K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
61.1K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook