just a cold girl dari salah satu kota kecil provinsi Jawa Tengah.. tak ada yang spesial dan menulis karena hobi.
Hai teman teman....
Selamat datang di duniaku.
Semoga suka dengan karya kecilku.
Warning 18+
Di mohon dengan bijak, untuk pembaca di bawah umur di larang masuk ke dalam desa saya.
*****
Doris, sosok wanita yang merasa paling bahagia di dunia ini dalam hidupnya. Dia yang pada akhirnya di nikahi lelaki pujaan hatinya setelah menjalin kasih lebih dari lima tahun. Namun dunia yang sebelumnya bermekaran penuh bunga nan bahagia, harus runtuh setelah kekasih yang baru saja sehari menjadi suami bagi Doris telah mengatakan perasaan sesungguhnya kepadanya.
"Aku tidak pernah mencintaimu." sesal Abi.
"Ma-maksud kamu?" Doris terkejut, tubuhnya terhuyung melihat jemari sang suami tampak menggenggam erat jemari wanita asing yang berdiri sembunyi di balik punggungnya.
"Setelah tiga bulan, aku akan menceraikanmu." Kepergian Abi meninggalkan dirinya di kamar hotel khusus di sediakan untuk mereka sebagai kamar pengantin, membuat Doris sangat membenci dengan segala hal yang berhubungan pernikahan serta lelaki yang bermulut manis.
Warning 18+
Di mohon dengan bijak, untuk pembaca di bawah umur di larang masuk ke dalam desa saya.
*****
Apa jadinya, bila menolak tawaran orangtua untuk
memilih salah satu gadis gadis yang sudah memenuhi syarat bibit bebet bobot sesuai kriteria mama tercintanya yang penuh drama. Tetapi malah jatuh cinta dengan gadis desa yang menolongnya dari amukan warga, karena salah sasaran.
Iya Bimo tergila gila dengan gadis aneh, yang ternyata calon TKW.
"Mama nggak peduli, pokoknya tahun ini kamu harus nikah. Titik!"
"Mama... please deh. ini menikah ma, bukan kaya beli nasi pecel."
***********************************************************
"Makasih sudah mau nolong saya. Maukah kamu menikah dengan saya?"
"Sama-sama pak. Boleh saja, asal bapak nunggu saya dua tahun."
"Ma-maksudnya?"
Gadis itu beranjak meninggalkan Bimo yang bertanya tanya.
Warning 18+
Di mohon dengan bijak, untuk pembaca di bawah umur di larang masuk ke dalam desa saya.
*****
Aarrghh..Rendi terbangun di tempat asing dan sangat berantakan. Matanya menyapu seisi ruangan itu, dan siapapun pasti akan mengerti, bahwa itu adalah kamar yang sangat mengerikan dan berbau menyengat yaitu alkohol.
"Astaga... Apa yang terjadi?!!" gumamnya. Ia memijat pelipisnya sendiri karena kepalanya terasa berat dan cenat cenut.
Braaakk...
Pintu kamar tersebut terbuka lebar dan masuklah kedua temannya dengan ekpresi wajah yang menyebalkan.
"Hey, hey... Piye Ren rasanya?" tanya salah satu di antara mereka.
"Apanya?"
"Itu loh..."
Mata Rendi menyipit sinis saat melihat tingkah temannya yang menggerakan pinggulnya maju mundur, seakan memberitahu apa yang mereka maksud.
"Ngapain kamu tuh?" ujar Rendi risih.
"Jiaah, buset nih anak. Abis belah duren, otaknya jalan-jalan." pekik salah satunya seakan tak terima dengan kepolosan Rendi.
"Kalian tu, otaknya mesum mulu." sahut Rendi kesal. "Siapa yang mesum?" tanya Gilang heran.
"Kalian lah." sahutnya.
"Kita nggak mesum...! Liat aja, lo sendiri. Siapa sekarang yang mesum?!"
Kedua teman Rendi menyeringai lantas melempar bantal serta pakaian miliknya ke arah Rendi.
"Woy, mau kemana?" seru Rendi.
"Kita bedua, balik... Lo mandi dulu, bau seks... Hahaha." sahut Toni sebelum menutup pintu kamar tersebut.
Rendi melotot.
Ia bergidik ngeri setelah kembali menatap keadaan seisi ruangan itu.
Tubuhnya masih polos, bahkan matanya menangkap celana dalam wanita yang tergeletak di bawah kursi sebelah ranjangnya.
"Tu-tunggu...!" ujarnya gagap.
"A-aku sudah tak perjaka lagi...? Arrgghhh...."
Rendi menjerit heboh berusaha menutupi tubuhnya dengan selimut setelah menyadari bahwa dirinya sudah menyentuh wanita.
"Emaaakkk... Rendi wes ndak perjaka lagi, maaakkk...!!!"
Warning 18+
Di mohon dengan bijak, untuk pembaca di bawah umur di larang masuk ke dalam desa saya.
*****
Dalam kehidupannya, tak ada kata ampun untuk seseorang yang memiliki kesalahan besar yang mengakibatkan orang lain harus menanggung sengsara.
Sampai di saat dirinya menerima kasus yang memaksanya untuk menghabisi satu keluarga tapi dirinya masih menyisakan seorang gadis kecil yang begitu ringkih dan kurus kering.
"Dengan begini, kehidupan baru saya akan lebih berwarna."
Gadis itu nampak bahagia memandangi batu nisan di hadapannya tertuliskan nama-nama anggota keluarganya yang telah di bantai oleh sekelompok lelaki asing yang berpakaian serba hitam hari itu.
Warning 18+
Di mohon dengan bijak, untuk pembaca di bawah umur di larang masuk ke dalam desa saya.
*****
"All your gudgets papa sita."
"What?"
"Paa, ini nggak lucu pa." rengek Bara.
"Peringkatmu turun menjadi urutan ketiga, dan kalo sampai kenaikan kelas nanti semua tidak kembali ke semula, maka papa serius mengirimmu ke England ikut dengan om Beni di sana."
"Pa... Are you kidding me, ini tak adil. Bara selalu menjadi yang pertama di sekolah, hanya karena tahun ini merosot terus papa mengirim Bara ke sana? Bara nggak mau paaaa...." rengeknya tak setuju dengan keputusan papanya.
"Terserah, itu semua demi kebaikanmu."
Entah kenapa Bara sangat benci setelah hari itu.
Setelah takdir mempertemukan dia dengan gadis culun berkaca mata tebal hingga ia merasa muak, karena setiap hari dirinya seperti ketiban sial.
Warning 18+
Di mohon dengan bijak, untuk pembaca di bawah umur di larang masuk ke dalam desa saya.
*****
"Hey you...!" dengan tubuh sempoyongan mendekati seorang lelaki tampan yang sedari tadi ia perhatikan, benar-benar dingin tak menggubris para penggoda yang silir berganti menyapanya.
"Apa kau tak tertarik padaku juga?" ujarnya dengan suara sensual, namun lelaki itu juga tak mempedulikannya, malah asik menggoyangkan gelas kristalnya berisikan cairan coklat beraroma pekat serta beberapa es balok.
"Ck, kau pasti pria penyuka pisang."
Pruuutttt.....
Lelaki itu menyemburkan minumannya karena terkejut mendengar olokan dari perempuan asing yang tertawa terbahak-bahak dan merebut gelasnya yang masih sedikit, lalu menghabiskannya berniat langsung pergi begitu saja.
"Jangan main-main denganku nona!" desisnya di sela-sela gigi yang tak terima, tangannya mencengkram lengan perempuan asing itu.
"Kalo begitu bermainlah denganku tuan." Cindy mengedipkan satu matanya, lalu berbalik meninggalkan William yang merasa terhina dengan perilakunya.