bc

My soul's TKW

book_age18+
1.7K
IKUTI
7.8K
BACA
possessive
goodgirl
CEO
maid
billionairess
comedy
bxg
office/work place
virgin
love at the first sight
like
intro-logo
Uraian

Warning 18+

Di mohon dengan bijak, untuk pembaca di bawah umur di larang masuk ke dalam desa saya.

*****

Apa jadinya, bila menolak tawaran orangtua untuk

memilih salah satu gadis gadis yang sudah memenuhi syarat bibit bebet bobot sesuai kriteria mama tercintanya yang penuh drama. Tetapi malah jatuh cinta dengan gadis desa yang menolongnya dari amukan warga, karena salah sasaran.

Iya Bimo tergila gila dengan gadis aneh, yang ternyata calon TKW.

"Mama nggak peduli, pokoknya tahun ini kamu harus nikah. Titik!"

"Mama... please deh. ini menikah ma, bukan kaya beli nasi pecel."

***********************************************************

"Makasih sudah mau nolong saya. Maukah kamu menikah dengan saya?"

"Sama-sama pak. Boleh saja, asal bapak nunggu saya dua tahun."

"Ma-maksudnya?"

Gadis itu beranjak meninggalkan Bimo yang bertanya tanya.

chap-preview
Pratinjau gratis
prolog
hiks... hiks... hiks... Tangisan pilu terdengar seisi ruang keluarga. "Sudah lah ma, sedih apalagi sih?" ujar papa begitu sabar kepada istrinya. "Papa nggak ngerti perasaan mama, David aja anaknya sudah berusia satu bulan. Sedangkan Bimo, huaaaa...." pecah lagi tangisan mama. Lelaki paruh baya itu langsung mendekapnya, dengan ekspresi wajah yang bingung namun tetap setia menenangkan mama Mira. "Cup, cup, cup... Yang namanya jodoh kan nggak bisa dipaksain, sayang." ujar papa lembut, sambil menepuk-nepuk punggung mama. "Tapi anaknya David pa, anaknya David." "Kenapa dengan anaknya David?" heran dan tak mengerti dengan apa yang istrinya maksud, "Bukankah mama kemarin pas jenguk mereka, pas aqiqahan anaknya, mama bilang mama bahagia?" "Mama bahagia pa, tapi masalahnya bukan itu...." Ibnu menghela nafas panjang, kenapa sulit sekali menyelami wanita yang terus saja menangis ini, "Apa sih ma, ngomong donk sayang." ia merengkuh tubuhnya lalu mengusap punggung Mira. "Kenapa hmm?" tanyanya lagi. "Gara-gara anaknya David mama jadi ingat sama Bimo." "Bimo?" Mira mengangguk cepat. "Iya Bimo, pa... Mama malu karena perbuatan Bimo pa." "Maksudnya?" papa semakin bingung. "Sebulan yang lalu, pas mama ngajak Bimo makan siang. Mama mau kenalin dia ke anaknya teman arisan mama, tapi pas lagi asik-asik ngobrol." mama menjeda omongan karena sesenggukan. "Bimo pa Bimo." adunya merengek. "Iya Bimo kenapa?" "Masa dia mendadak pamit ke rumah sakit katanya ada yang melahirkan. hiks hiks." "Lah terus masalahnya dimana?" tanya papa yang semakin bingung dan penasaran. "Ya teman arisan mama serta anaknya kaget lah pa. Sampe-sampe mereka langsung ikutan pamit setelah mendengar omongan Bimo, kalo ada yang lahiran." Ibnu diam karena masih menyimak cerita Mira. "Mereka mengira kalo yang melahirkan itu istri Bimo pa." "Padahal kan... Padahal kan, yang melahirkan kan, istrinya David pa, huuuaaaa....." Suasana hening tanpa obrolan, hanya terdengar isakan Mira yang masih betah menangis. Ibnu yang sejenak meresapi perkataan istrinya. Namun detik berikutnya. "HAHAHAHAHA." "Papa jangan gitu donk, mama masih sedih ni." ujar Mira kesal lantas beranjak sambil menghentakan kaki. "Loh sayang mau kemana?" "Ke kamar! Awas aja kalo nyusul!" ancam mama berlalu meninggalkan papa. "Laaah terus papa tidur di mana ma?" tanya papa memelas. "TIDUR DILUAR!" teriak mama dari lantai atas dan BLAAMM menutup kencang pintu kamar. "Nasib." Ibnu mengacak rambutnya sendiri sambil memandangi pintu kamar yang sudah tertutup rapat. ***** Keesokan harinya di kediaman keluarga besar Ibnu Prasodjo, di pagi yang masih gelap berselimutkan embun, mereka senantiasa melaksanakan ibadah berjama'ah sholat subuh di salah satu ruangan khusus untuk beribadah. "Papa nanti bilang sama Bimo, suruh dia nemui mama di restoran IPA. Mama mau kenalin dia sama putri dari kolega papa yang kebetulan istrinya teman mama arisan." ujar Mira sambil mencium punggung tangan sang suami setelah selesai melipat kain mukena miliknya. "Iya nanti papa sampein." "Tapi jangan di paksain Bimo nya ma. Mama nggak lupa kan kenapa sekarang Bimo tinggal di apartemen hanya untuk menghindar dari kegigihan mama." ujar Ibnu mengingatkan. Mira bukan tak mendengar atau tak paham dengan penjelasan itu. Wanita itu hanya melengos tanpa niat menjawab lagi. Namun kediaman Mira justru membuat Ibnu merasa was-was. Kalau- kalau sang istri marah, ia pun segera mencari Mira yang ternyata sudah berada di dapur bersama beberapa asisten rumah tangganya yang sedang menyiapkan sarapan untuk mereka. "Mama masak apa?" tanyanya. "Ini apa namanya?" Mira bukanya menjawab tetapi malah tanya balik dengan nada ketus. "Nasi goreng?" jawab papa ragu. "Kalo udah tau ngapain nanya? Udah sana keluar, tumben-tumbenan masuk ke dapur." Kaaannn...!!! Dengan langkah lesu Ibnu pun keluar dari dapur. Namun detik berikutnya, tiba-tiba langkah nya tergesa-gesa menaiki tangga untuk masuk ke dalam kamarnya. Sesampainya di kamar, diraihnya ponsel yang tergeletak di atas nakas. tutt... tuuttt... Meski tak mendapat jawaban, dengan gigih ia berkali-kali menelepon seseorang diseberang dan berharap ada yang mengangkat. Dan di tempat lain di waktu yang sama, terlihat sepasang anak manusia yang masih membungkus tubuh polos mereka pun harus merasa terusik dengan adanya suara dering ponsel yang tak henti-henti menggema. Dengan malas mata masih tertutup, lelaki itu meraba raba atas nakas untuk meraih ponselnya. "Halo." jawabnya dengan suara khas bangun tidur. Halo assalamualaikum... Deg... Dia melotot memandangi layar ponsel setelah mendengar siapa yang meneleponnya. Tapi dengan bodohnya, panggilan itu diputus sepihak olehnya. "Siapa sih sayang, pagi-pagi ganggu aja." tanya seseorang yang berada disampingnya. "Ssssttt, lo diem dulu gue mau angkat telepon." ujarnya yang masih panik, lelaki itu berdeham untuk menjernihkan suara beratnya, lalu menelepon balik papa setelah nada dering kedua terdengar suara helaan lega dari seberang. Halo assalamualaikum. Darimana saja sih nak, ditelepon dari tadi angkatnya lama, giliran udah diangkat malah dimati. "Walaikumsalam pa, maaf tadi Bimo mandi." dusta lelaki itu. "Ada perlu apa papa pagi-pagi menelepon Bimo?" tanya Bimo heran, pasalnya nanti mereka berdua juga akan bertemu di kantor. Buruan pulang, sarapan di rumah. Papa tunggu! perintah papa telak. "Hah." Bimo terhenyak, di pandangnya layar ponsel dengan dengan ekspresi aneh, "maksudnya pa?" tanya Bimo yang masih belum paham. Pokoknya kamu harus pulang sekarang. "Iya tapi kenapa, kalo mau membahas proyek Jogja nanti Bimo bisa berangkat lebih awal ke kantor pa." ujar Bimo, yang mengira sang ayah sedang ingin membahas urusan pekerjaan. Papa nggak mau gara-gara kamu, papa nanti malam harus tidur di luar lagi! tut-tut-tut Panggilan di tutup secara sepihak, dan itu membuat Bimo berkali-kali heran. Tersadar dengan kondisinya sekarang, dia menoleh menatap seseorang disampingnya. "Lo sekarang balik!" perintah Bimo pada wanita itu. "Hah ini baru jam lima lebih." ujar wanita itu protes. "Gue mau pergi karena urusan mendadak, jadi lo sekarang keluar dari apartement gue." ujarnya lantas menyibak selimut dan melompat dari ranjang, "dan jangan membantah!" tegasnya. Selepas mandi, Bimo tampak kesal karena masih melihat seseorang membungkus badannya dengan selimut diranjang miliknya. "Nih." Wanita itu mengerutkan alis, dia meraih sesuatu yang Bimo taruh di atas selimut. "Ini apa?" tanyanya heran. "Cek buat lo." "Maksudnya?" "Cek buat lo, karena udah cukup memuaskan gue." "Tapi-" "Nggak ada tapi-tapian dan lo sekarang balik, karena gue ada urusan sekarang..." Dengan malas wanita itu pun meraih satu per satu pakaiannya yang berserakan di lantai melangkah masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tanpa menunggu lama Bimo lantas menggiring wanita itu keluar apartementnya. ***** "Oh ada tamu rupanya." sindir mama setelah mengetahui siapa yang datang. Bimo menggaruk pipinya yang tidak gatal karena bisa merasakan sang mama sedang dalam mode ngambek. "Silakan masuk, semoga nyaman ya." ujarnya berlalu, tanpa melihat ataupun melirik Bimo. "Mama kenapa pa?" bisik lelaki itu setelah duduk di samping sang papa. "Dari semalam kaya gitu, papa sampe kena imbasnya." adu Ibnu. "Ini tu gara-gara kamu tau nggak." papa pun beranjak meninggalkan Bimo yang semakin heran dan melongo melihat tingkah kedua orangtuanya. "Salah gue apa ya?!" Tak urun Bimo pun mengikuti langkah orangtuanya ke meja makan. "Nanti siang tolong temenin mama ke restoran IPA." Mira berbicara tanpa menatap sang putra sulung, tapi jangan lupa ia tentu menyenggol lengan suaminya agar sudi menyampaikan maksudnya ke Bimo. "Bimo nanti kamu ikut mama ke restoran ya!" begitu cepat Ibnu mengatakan itu. Lelaki paruh baya dengan senyum lebarnya menoleh ke arah sang istri, "udah ma udah papa sampein." sambil mengedipkan satu matanya demi menggoda Mira. "Baik pa, ma." jawab Bimo begitu patuh. Setelah di rasa istrinya tenang, Ibnu pun menanyakan hal serius pada Bimo. "Papa dapat laporan dari David, gudang rempah kebobolan ya Bim?" Bimo menghela nafas panjang, ia meraih gelas air putih lantas meminumnya. "Iya pa, rencananya besok atau lusa Bimo akan meninjau lokasi secara langsung." jelas Bimo lesu. "Jangan lupa mampir ke tempat David, kamu minggu lalu tidak ikut menghadiri aqiqah anaknya." "Iya pa." "Jangan cuma ingat mampirnya, tapi susul juga biar cepet dapat momongan seperti David." setelah lama berdiam diri akhirnya sang mama buka suara. "Bimo belum siap ma." Brakkk Mereka yang ada di meja makan pun tersentak, wajah Mira memerah karena marah. "Mama nggak peduli, pokoknya tahun ini kamu harus nikah. Titik!" "Mama, please deh. Ini hal mengenai pernikahan ma, bukan kaya beli nasi pecel aja, Bimo harus nyiapin mental Bimo untuk memiliki seorang pasangan yang nantinya akan menemani Bimo sampai Bimo menua lanyaknya mama sama papa." gerutu Bimo kesal, karena dirinya benar-benar belum siap berkomitmen. "Papa tu dengerin anak kamu, dia udah nggak sayang mama lagi. hiks, hiks." dengan sigap merangkul istrinya, papa pun memberi isyarat pada putranya untuk menuruti keinginan mamanya. "Baiklah nanti siang Bimo datang." putus Bimo jengah. "Beneran lho ya, awas kalo nggak datang. hiks." ancam mama dengan suara cengengnya. "Sudah sudah, kalo gitu kita berangkat Bim." ujar papa mencoba menengahi. Papa berangkat dengan supirnya, sedangkan Bimo berangkat mengendarai mobilnya sendiri, masing-masing menuju ke kantor pusat.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.8K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

TERNODA

read
198.8K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.8K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.5K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
61.1K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook