bc

Jodoh nakal

book_age18+
4.7K
IKUTI
34.6K
BACA
possessive
one-night stand
escape while being pregnant
playboy
CEO
doctor
comedy
sweet
bxg
office/work place
like
intro-logo
Uraian

Warning 18+

Di mohon dengan bijak, untuk pembaca di bawah umur di larang masuk ke dalam desa saya.

*****

"Hey you...!" dengan tubuh sempoyongan mendekati seorang lelaki tampan yang sedari tadi ia perhatikan, benar-benar dingin tak menggubris para penggoda yang silir berganti menyapanya.

"Apa kau tak tertarik padaku juga?" ujarnya dengan suara sensual, namun lelaki itu juga tak mempedulikannya, malah asik menggoyangkan gelas kristalnya berisikan cairan coklat beraroma pekat serta beberapa es balok.

"Ck, kau pasti pria penyuka pisang."

Pruuutttt.....

Lelaki itu menyemburkan minumannya karena terkejut mendengar olokan dari perempuan asing yang tertawa terbahak-bahak dan merebut gelasnya yang masih sedikit, lalu menghabiskannya berniat langsung pergi begitu saja.

"Jangan main-main denganku nona!" desisnya di sela-sela gigi yang tak terima, tangannya mencengkram lengan perempuan asing itu.

"Kalo begitu bermainlah denganku tuan." Cindy mengedipkan satu matanya, lalu berbalik meninggalkan William yang merasa terhina dengan perilakunya.

chap-preview
Pratinjau gratis
Prolog
"Apa ada jadwal operasi untuk saya setelah ini?" "Tidak ada dok, Apa ada yang ingin anda butuhkan sekarang...?" William duduk di kursi kerjanya, lantas mengecek kembali beberapa rekam medis pasiennya pada hari ini. "Mmm.. Begini mbak, apa besok saya bisa berlibur?" ujarnya sambil merenges membuat wanita paruh baya yang bekerja menjadi asistennya itu tersenyum menatapnya. "Di rumah sakit ini tidak kekurangan tenaga medis, tapi hanya anda saja yang selalu serius dan ambisius dalam bekerja." William terkekeh mendengarnya. "Saya hanya melakukan pekerjaan saya mbak Sifa." "Ya tapi ingat pacaran juga dok. Apa nggak bosen di suruh nikah sama pak Tjandra?" "Ah, mbak Sifa nih nggak gaul banget. Saya tu masih muda lho, ya meskipun udah kepala tiga. Tapi kadar ketampanan saya tak kalah sama abg mbak." ujar William begitu narsis membuat suster senior yang bekerja dengan rumah sakit pribadi milik Tjandradjaya jadi tergelak karena lelaki itu tak jauh berbeda dari ayahnya. "Iya tau deh, dokter tampan termuda dan ternarsis sejagat ini." "Nah gitu donk." "Sudah saatnya jam saya pulang dok, dan semua laporan yang dokter butuhkan sudah ada di tumpukan map itu." Willam mengacungkan dua jempolnya ke arah Sifa tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas-berkas itu. drrttt... "Halo...!" tanpa melihat siapa yang menelepon, Willam langsung mengangkatnya. Sayang....Kamu lagi dimana sekarang? "Masih di tempat kerja." ujarnya datar. Dalam hati berdecak sebal setelah tahu siapa yang menelepon dirinya, ia lantas menaruh ponsel di atas meja sambil menekan tombol loudspeaker. Kamu jadi datang kan? "Mungkin..." Iiihhh... terdengar suara manja mendayu membuat William ingin muntah. "Gue sibuk." Sibuk apanya, orang tadi aku ketemu sama asisten perawatmu di jalan. William geram, ia paling benci dengan wanita yang seperti benalu macam ini. Jadi kamu akan datang kan sayang? "Iya..." jawabnya dengan nada malas. Janji...? seru dari seseorang di seberang. Oke kalo gitu aku tunggu di Venus yaaah, bye sayang.... Emmm~muaah... William menghela nafas panjang, jemarinya memijat pelipisnya yang mendadak pening. Rencananya pekan ini gagal total karena wanita rese yang selalu membuat waktu istirahatnya terganggu. "Aha..." dia menjentikan ibu jari dan telunjuk, tiba-tiba otaknya memiliki rencana yang luar biasa cemerlang menurutnya. Matanya membuka daftar salah satu pasien yang pernah ia tangani. "Gathra.. Gathra... Gathra... Dimana ya mbk Sifa naruhnya?" William mengocar acir tumpukan dokumen yang berada di atas meja kerjanya. "Huft... Dimana sih...?" Sampai pusing dia mencari dan tak sabar, hingga kakinya menendang rak lemari dan. Brukkk... "Haish, betapa cerobohnya kau Liam...!" gerutunya sendiri sambil merapikan kembali beberapa dokumen lama yang terjatuh. Satu per satu ia kais dan matanya menangkap nama yang tertera lembar map depannya. "Gathra Simanjutak." gumamnya tanpa mengeluarkan suara. Ia penasaran dan membuka file tersebut. "Wuaaahh..." matanya melebar cerah seolah ada secercah harapan yang menyambutnya. "Giliran nggak di cari malah ketemu." ujarnya sendiri sambil terkekeh. Jemarinya lalu membuka setiap lembar isi dokumen mantan pasiennya itu, dan dengan cepat menyahut ponsel lalu mengetikan nomor telepon yang tertera di sana. Tuuttt... Hallo William excited karena langsung tersambung. "Mmm.. Hallo, apa benar saya bicara dengan saudara Gathra?" Ya benar, Ini siapa ya? "Saya William, dokter William yang menangani anda saat transplantasi jantung." Dari seberang terdengar pekikan terkejut tak menyangka akan siapa yang meneleponnya. Ada yang bisa saya bantu dok? "Mmm... Begini pak-" William menjelaskan semua hal yang hendak ia diskusikan dengan mantan pasiennya itu, sedikit terjadi percakapan alot tapi William mampu menanganinya dengan iming-iming separuh harga untuk semua bagi keluarga Gathra nantinya yang hendak berobat di rumah sakit umum Tjandradjaya dimana pun mereka berada. Karena rumah sakit tersebut, sudah di dirikan di berbagai kota-kota kecil serta daerah terpencil. "Terimakasih pak Gathra atas kerja sama anda." Sama-sama pak, saya juga mengucapkan banyak-banyak terima kasih untuk kemurahan hati bapak. William tersenyum mendengar itu, ia pun mengakhiri sambungan teleponnya karena menurutnya sudah cukup. Di lihatnya arloji yang melingkar di pergelangan tangan kanannya, ia segera merapikan kembali barang miliknya dan menanggalkan jas kerja berwarna putih lantas menyahut ransel serta topi hitam. Tak lupa kaca mata hitam karena ia malas menanggapi para gadis yang langsung terpesona dengan tatapannya. Perawakan tinggi, kulit putih, hidung mancung, bola mata berwarna biru dan tajam. Bisa kalian bayangkan seperti apa dia? Ya, kurang lebih seperti Chris Hemsworth. Lelaki itu melangkah meninggalkan ruangannya serta area rumah sakit, dan seperti biasa ia akan menggunakan taksi atau kendaraan umum. Karena menurutnya tanpa mengendarai mobil sendiri, demi mengurangi polusi udara. Dan katanya wajah tampannya itu tak akan luntur atau mengurangi apapun hanya karena naik kendaraan umum. Ck, ck, benar-benar sok tampan. Meskipun aslinya tampan sih. William akhirnya memutuskan naik taksi dan mampir sebentar di mini market dekat apartemen miliknya, untuk membeli beberapa buah, minuman dingin serta beberapa pizza beku yang nanti akan mudah di makan saat sarapan atau malas karena cukup memanaskannya menggunakan microwave. Ia selalu menjadi pusat perhatian, meskipun itu tak ia sadari. Bahkan sekarang dirinya dengan begitu santai mendorong troli dan mengambil semua belanjaan yang hanya ia inginkan. "Siapa lagi sih mi yang mau di jodohkan ke Cindy." ujar seseorang yang membuat William menoleh sebentar karena menurutnya seseorang yang mengantri di belakangnya sangatlah berisik. "Cindy masih bisa cari jodoh sendiri, lagian keturunan Prasodjo nggak akan mau sama Cindy." Diam-diam William mulai sedikit menguping percakapan gadis yang sedang bicara dengan ibunya, kayaknya. Karena William juga pernah ingat bahwa sahabatnya Bimo hendak di jodohkan oleh tante Mira. "Oke, oke... Terus siapa nanti yang akan mami jodohin ke Cindy." William begitu tak sabar hingga ia tak bergerak dari antriannya, sampai ia tersentak karena ada sebuah tangan yang mencolek pundaknya. "Mas...!" Ia menoleh ke arah orang itu, satu kata yang ada dalam otak William adalah cantik, tapi dengan imbuhan imut sesuai ukurannya. Rambut panjang ikal bergelombang, kulit putih mulus, dadanya yang tak begitu besar tapi nampak padat, hidung tak mancung tapi tak juga pesek, sedang sedang sajalah menurutnya. Terdapat lesung pipit sebelah kiri saat ia tersenyum dan berbicara dan tubuh yang hanya setinggi dadanya, benar-benar menggemaskan bila William bisa membuatnya mendesah dalam kungkungannya. Plaakkk dasar otak m***m. Tanpa sadar William tersenyum memandangi hal itu, hingga ia terhenyak saat tangan gadis itu melambai lambai di wajahnya. "Mas...? Hallo...?" "Ekhm... Ya gimana?" "Maju mas... Antrinya banyak tuh." William tersentak lantas memandangi deretan orang yang mengantri di belakang gadis itu, wajah sangar serta sebal mereka seolah sedang ingin mengulitinya. "Aahhhh.. Maaf maaf." William langsung mendorong cepat trolinya, ia memindahkan semua belanjaannya, dan meninggalkan beberapa lembar ratusan ribu kepada kasir. "Mbak, ini buat mereka masing-masing dua ratus ribu, sebagai permintaan maaf saya karena menunda waktu mereka." ia meringis dan meminta maaf kepada para pembeli lainnya, tentu semuanya senang tapi hanya satu yang membuntutinya lantas mengembalikan uang dua ratus ribu kepadanya. "Hey mas kaca mata hitam...!" serunya. William yang hendak masuk ke dalam taksi pun urun. "Ini saya kembalikan uang anda, dan lain kali jangan melamun saat mengantri. Oke?" William melongo memandangi gadis yang menarik kasar lengannya dan menaruh dua lembar kertas uang tersebut di telapak tangannya. Tapi detik berikutnya dirinya tersenyum tipis dan melepas kaca matanya demi memandangi punggung gadis itu yang sekarang berjalan menjauh darinya menuju ke arah parkiran. "Menarik..." gumamnya. William lantas kembali masuk ke dalam taksi untuk pulang ke apartemen miliknya. Setelah ini, dia akan berperan batin. Karena malam nanti William akan berhadapan dengan wanita mantan ONS nya yang selalu mengejar-ngejarnya karena William tak sengaja menyerahkan kartu nama miliknya kepada wanita itu. "Haish, benar-benar merepotkan." William menaruh semua barang belanjaannya ke atas meja dapur lantas merapikannya ke dalam kulkas. "Harusnya kan nanti malam gue tidur nyenyak, kenapa pake menyetujui ajakannya sih." gerutunya dengan tangan yang sibuk menata beberapa kaleng soda yang ia beli tadi. "Akhirnya persediaan kehidupan gue full lagi." senyumnya berkembang, ia memandang puas isi-isi dalam kulkasnya lantas menutupnya kembali dan tujuannya sekarang adalah mandi, dandan rapi lalu menemui wanita ribet yang rencananya akan ia basmi bersama sekutunya. Agar seluruh dunia William aman tentram dan damai sejahtera. William memutuskan membawa mobil sendiri untuk pergi ke club Venus milik salah satu sahabatnya itu. Malam ini ia akan sendirian karena mereka bertiga benar-benar sedang sibuk hingga dirinya tak berani mengganggu waktu mereka. "Pendekar dimana saja sendiri pun berani." ujar William lantas melajukan kendaraannya membelah jalanan ibu kota menuju ke tempat sarang laba-laba.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.0K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.9K
bc

TERNODA

read
198.9K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.7K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
63.0K
bc

My Secret Little Wife

read
132.2K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook