6. MALAM YANG BURUK

1620 Kata
• AUTHOR POV • Keisha bersama Sherly tampak sibuk mencari lokasi yang akan Sherly gunakan untuk membuka butiknya. Sudah sekitar lima tempat yang ia datangi tapi Sherly belum mendapatkan lokasi yang pas menurutnya. Hari semakin sore di mana Keisha terlihat gelisah karena jam sebentar lagi menunjukkan waktu kepulangan Jovan, sedangkan ia masih di luar menemani Sherly. Kegelisahan itu membuat Keisha selalu memamerkan senyum kecutnya saat Sherly menatapnya. Berkali-kali ia menatap jam tangannya membuat Sherly bingung. "Ada apa, Kei?" "Hm.. Sher, sepertinya Aku tidak bisa menemani mu lagi. Sebentar lagi jam pulang suami ku, Aku harus kembali" balas Keisha gelisah. Mendengar hal itu Sherly memahami posisi sekarang dari Keisha. Keisha sudah bukan lagi seorang wanita yang bebas menghabiskan waktu bersamanya. Status Keisha sekarang adalah istri orang, di mana ia harus mengurus suaminya saat suaminya pulang kerja. Meskipun dulu Keisha tidak memiliki waktu luang bersama sahabatnya kecuali Sherly, tapi Sherly adalah orang yang sangat di percayai Arnelita untuk menjaga Keisha. Keisha meminta maaf pada Sherly dan merasa tidak enak padanya. Ini adalah hari pertama keduanya bertemu, tapi Keisha harus meninggalkan Sherly di mana ia harus pulang sebelum suaminya. Sherly memeluk Keisha dan menyuruhnya cepat kembali sebelum suaminya pulang. Dan hal itu tentu saja di lakukan oleh Keisha. "Nanti kita akan bertemu lagi, okay?" ucap Keisha. "Hm.. Hubungi Aku kalau kamu sudah sampai" balas Sherly peduli. Keisha menginjak pedal gas dan membuat mobilnya melaju menuju rumahnya. Tidak memakan waktu yang lama, Keisha berhasil sampai dirumahnya dan belum mendapati mobil Jovan yang terparkir di garasi rumahnya. Ia dapat bernapas lega dan masuk ke dalam rumah. Keisha menjatuhkan tubuh lelarnya di atas ranjang sambil menatap langit-langit kamarnya. Lalu ia meraih ponselnya untuk mengirimkan pesan pada Sherly sesuai permintaannya tadi. "Aku sudah sampai di rumah dan suami ku belum pulang" tulis Keisha pada pesan singkatnya yang ia kirim untuk Sherly. Keisha memejamkan matanya sebentar lalu suara notification ponsel miliknya menyadarkannya. "Syukurlah.. Aku juga baru sampai di apartement ku" balas Sherly. Keisha membersihkan dirinya sebelum kepulangan Jovan lalu ia mengenakan dress putih polos rumahan sambil menguncir rambut hitam legamnya. Ia duduk menikmati stasiun televisi yang selalu menjadi chanel kesukannya. Lalu suara mobil milik Jovan menyadarkannya. Suara pintu terbuka mengalihkan pandangannya dari televisi lalu menatap Jovan yang berjalan kearahnya. • KEISHA POV • Aku dapat mendengar suara mobil milik Jovan dari luar rumah. Aku lega karena Aku berhasil lebih dulu pulang darinya. Aku menatap ke arah pintu yang terbuka pelan dan menampakkan sosok Jovan di sana sedang berjalan ke arah ku. Dia berjalan tanpa melirik ku yang tengah duduk di sofa sedang menatapnya sambil menarik sedikit senyum di sudut bibir ku. Sikapnya kembali seperti hari kemarin. Rasanya baru kemarin Aku sedikit merasakan sikap ramahnya, tapi hari ini itu kembali lenyap. Sudah hampir sebulan pernikahan ku dengannya tapi rasanya masih saja seperti baru kemarin Aku menikah dengannya. Sikap acuh yang seolah tak menganggap ku kembali ia tampakkan. Aku juga memang tidak pernah menginginkan pernikahan ini, pernikahan yang tak di dasari dengan rasa cinta. Tapi, apakah Aku harus terus menentang takdir ku? Apakah Aku juga harus melakukan hal yang sama dengannya? Bersikap acuh dan tak peduli. Tapi, rasanya itu akan semakin memperburuk keadaan. Aku berusaha menerima semuanya, berusaha menjadi seorang istri yang baik dan penurut untuk suaminya. Tapi, sepertinya Jovan memiliki pemikiran yang sangat berbeda dari ku. "Kei.. Kemari sebentar!" Aku mendengar teriakan Jovan, beranjak dari sofa lalu menuju kamar. "Iya.. Ada apa?" "Siapkan baju ku.. malam ini Aku ada acara dengan orang kantor" pintanya. "Hm.. Ya" Aku meninggalkannya dan menuju ke ruang pakaiannya. Jovan memiliki ruangan yang khusus ia peruntukkan untuk semua jenis pakaian, dasi, sepatu, jam dan barang lain miliknya. Aku memilih kemeja maroon yang akan ku pasangkan dengan jas berwarna putih. Lalu Aku kembali ke kamar sambil membawa pakaiannya. Baru saja Aku menarik gagang pintu, tampaknya Jovan juga baru selesai membersihkan dirinya. "Ini... " ucap ku menyodorkannya pakaian miliknya. "Tidak usah terlalu formal. Carikan jaket biasa ku saja" balasnya meraih kemeja itu dan mengembalikan jas berwarna putih tadi ke arah ku. Aku kembali menuju ruang pakaiannya lalu mengambil jaket kulit berwarna hitam pekat. "Ini saja?" tanya Aku sambil memperlihatkan jaket itu ke arahnya. "Hm" balasnya singkat lalu mengabaikan ku kembali. "Simpan saja di situ" lanjutnya sambil mengenakan kemeja maroon itu yang akan membungkus tubuh berototnya. Aku menyimpan jaket itu pada tangan sofa di kamar lalu kembali keluar meninggalkannya. Lalu suara langkah kaki itu menarik pandangan ku dari ponsel ku di mana Aku sedang asyik bertukar pesan dengan Sherly. "Apa sudah mau pergi?" tanya ku menyingkirkan ponsel ku. "Hm.. " balasnya lagi singkat. "Hm.. Apa Aku harus menunggu mu pulang?" tanya ku ragu. "Tidak perlu. Kamu tidur saja kalau ngantuk, sepertinya Aku akan pulang larut malam" jelasnya. "Baiklah.. Hati-hati di jalan" ucap ku sambil menarik sedikit senyum di sudut bibir ku. "Ya.. Aku pergi" Jovan meninggalkan ku sendirian di rumah. Entah kemana dia akan pergi, Aku tak tau. Aku terlalu takut untuk menanyakan beberapa pertanyaan padanya, karena Aku tau jawaban yang akan ku dapat dari pertanyaan ku. "Jangan terlalu banyak mencampuri urusan ku" Kalimat itu selalu menjadi penghalang ku untuk melontarkan pertanyaan untuk Jovan. Aku kembali meraih ponsel ku dan masuk ke dalam kamar sambil memulai panggilan ku dengan Sherly. • JOVAN POV • Aku berjalan dengan begitu santai menuju salah satu bar yang cukup terkenal di kota Jakarta. Tampaknya Richard sudah berada di sana, karena pesan yang saat ini berturut-turut masuk darinya. Aku mempercepat langkah ku dan seseorang dengan bahu yang lebar melambaikan tangannya ke arah ku. Nial? Dia tampak bersemangat menyambut ku dengan Richard dan juga Jerry yang tengah duduk menatap ke arah ku. Langkah besar ku membawa ke sebuah meja yang berada di pojok bagian kanan bar ini. Meja yang sudah di penuhi dengan beberapa botol bir dan sebungkus rokok. "Kenapa kau lama sekali?" keluh Jerry sambil mengisap rokoknya. "Tadi jalan kerumah macet, Aku juga harus pulang memberitahu istri ku" balas ku sebelum mendudukkan diri ku. "Apa istri mu tau kau ke sini?" tanya Richard. "Dia tidak tau kalau Aku ke tempat seperti ini. Aku hanya bilang ingin keluar dengan orang kantor. Lagi pula, dia juga tidak pernah ada banyak tanya soal urusan ku" jelas ku. "Tentu saja, karena sikap mu yang seperti itu" Richard selalu saja memperdulikan perasaan Keisha, membuat ku terlihat begitu b******k menjadi seorang suami. Tapi, Aku juga tidak pernah terpikirkan untuk menjadi suami yang baik untuk Keisha. Wanita yang tak pernah ku harapkan menjadi istri ku dan tinggal bersama ku. Aku meraih gelas yang sudah terisi bir lalu meneguknya dengan sekali tegukan. Rasa pahit serta asam itu membakar tenggerokan ku dengan memberikan rasa manis di akhir tegukannya. Suara dentuman musik itu semakin keras dan mengusik indra pendengaran. Aku menatap Nial yang tengah asyik menari di lantai dansa dengan segerombolan orang yang juga menikmati malamnya di tempat ini. Aku kembali meneguk bir itu yang saat ini hanya rasa manis saja yang terasa di mulut ku. Malam semakin larut menghabiskan beberapa botol bir di hadapan ku. Aku masih dapat melihat Nial dan Jerry yang menyuruh pelayan bar membawa botol bir yang baru. Kepala ku mulai terasa berat, mungkin sedikit lagi Aku akan mabuk. "Apa kau belum pulang?" tanya Richard. "Ya.. Sedikit lagi. Kepala ku mulai terasa berat" "Apa perlu ku antar?" "Tidak perlu. Aku masih bisa membawa mobil ku" "Hm.. Baiklah" Aku mengumpulkan tenaga ku untuk membawa mobil ku pulang dan berpamitan pada Richard, Nial serta Jerry. Aku menatap jam tangan ku yang sudah menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Aku menarik gagang pintu rumah ku dengan kepala ku yang masih terasa berat. Dengan sedikit sempoyongan Aku menuju kamar dan mendapati Keisha yang sudah terlelap dengan balutan selimut menutupi setengah tubuhnya. Aku mendekat dan menatap wajahnya yang sedang tidur. Aku akui dia memang memiliki paras yang cantik dan lembut. Lalu pandangan tertarik pada bibir polosnya yang menganggur di sana. Manis? Ya, bibir Keisha memiliki rasa itu saat terakhir Aku menciumi malam itu. Malam di mana untuk pertama kalinya Aku melakukan hubungan suami istri dengannya. Dan sekarang, Aku masih dapat merasakan manis pada bibir polosnya. "Kyaaaaa!!!" Aku merasakan tubuh ku yang terdorong begitu keras saat masih menikmati bibirnya. Tapi, sialnya! Dia tiba tiba saja terbangun. "Astaga.. Jovan--hm, maafkan Aku.. Aku tadi sangat kaget" ucapnya terbangun. "Astaga.. Kamu sangat bau alkohol, apa kamu mabuk?" lanjutnya. Ya.. Aku juga dapat mencium bau alkohol ini. Tapi, pikiran ku kali ini terfokus pada Keisha hingga tidak memperdulikan bau alkohol ini yang begitu melekat pada tubuh ku. "Kamu juga bau rokok.. Kamu dari mana?" Tak menjawab pertanyaannya, Aku malah kembali menciuminya. Dorongannya pada d**a ku seakan meminta agar Aku melepas ciuman ku. Tapi, rasanya sangat sulit melepas bibir itu. Nafsu itu kembali menguasai diri ku. Aku kembali memaksa Keisha untuk menerima semua perlakuan ku padanya. "Jov--jovan.. Hent.. Hentikan" ucapnya di sela ciuman ku. Kembali tidak memperdulikan ucapannya, Aku semakin dalam menarik tengkuknya dan mencengkram kedua tangannya yang memukul d**a ku. Sial! Kenapa dia semakin meronta seperti ini membuat diri ku semakin ingin meminta lebih? Aku mendorong tubuh Keisha hingga kembali terbaring dengan posisi bibir ku yang masih berpaut dengannya. Tenaganya semakin hilang saat Aku menangkup wajah mungilnya dan mengunci kedua tangannya dengan tangan kanan ku. Aku masih belum mendapat sepenuhnya kenikmatan itu karena Keisha yang tak merespon ciuman ku. Ia hanya pasrah dengan Aku yang mengambil peran utamanya. Rasanya, Aku menginginkan dia untuk merespon aksi ku. Tapi, sejak pertama itu Aku belum mendapatkannya. Tangan ku mulai menyusuri lekukan tubuh indahnya yang masih terbalut piyama miliknya. Aku mengitari perut ratanya sebelum naik menangkup sesuatu yang menonjol pada bagian dadanya. Suara lenguhan itu perlahan terdengar membuat aliran darah ku semakin terasa panas hingga mencapai kepala ku. Aku menuntun tangan Keisha yang sejak tadi ku kunci untuk mengalung pada leher ku. Aku dengan begitu bebasnya menjamah tubuh milik istri ku. Istri yang tak pernah ku harapkan, tapi selalu ku paksa untuk menerima semua perlakuan ku padanya. Apakah nanti Aku akan menerima karma atas perlakuan ku padanya? *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN