• KEISHA POV •
Aku membaringkan tubuh lelah ku di atas ranjang setelah membersihkannya. Jovan berada di ruang kerjanya dan belum kembali ke kamar setelah kepulangannya tadi menemani ku ke rumah mama. Aku teringat pesan yang tadi ku terima saat berada di mobil Jovan yang belum sempat Aku balas. Pesan yang di kirimkan oleh sahabat lama ku semasa sekolah dulu, Sherly.
Sherly satu-satunya teman ku yang di percaya oleh mama saat itu. Dia juga menjadi tempat segala curhatan ku, dan dia paling tau kondisi keluarga ku. Kepergiannya ke London saat itu membuat ku kehilangan kontak dengannya. Aku berusaha menghubunginya, tapi tak ada respon sama sekali darinya hingga hari ini sebuah pesan masuk darinya.
"Kei... Aku pulang!!! I miss you so much!
Sherly"
Aku membaca pesan itu lagi sebelum membalasnya dengan perasaan yang begitu bahagia. Aku membalasnya dengan menanyakan kondisinya, lalu tak lama ponsel ku berdering dengan nama Sherly yang tertera pada layarnya. Aku begitu bersemangat untuk mendengar suaranya kembali dan dengan cepat menggeser tombol hijau pada layar ponsel ku untuk menjawab panggilannya.
Suaranya masih sama, dia berteriak memanggil ku dengan penuh semangat. Aku memperlebar senyuman ku saat mendengar suara yang sudah lama sangat ku nantikan.
"Oh my god! Aku tidak percaya bisa mendengar suara mu lagi, Sher"
Hal serupa juga di katakan Sherly, ia tampak bersemangat mendengar suara ku. Ia mengatakan akan stay di Indonesia setelah ia juga menyelesaikan pendidikannya dan ingin membuka sebuah butik di sini. Mendengar hal itu tentu saja membuat perasaan ku semakin lega.
Sherly meminta ku untuk menemuinya besok sambil menemaninya mencari lokasi yang akan ia gunakan untuk membuka butiknya. Rasanya, Aku sangat ingin tapi, keadaan ku sekarang sudah berbeda. Aku memiliki seorang suami yang harus mendapatkan ijinnya untuk ku keluar. Tapi, Aku ragu Jovan akan memberi ku ijin. Tapi, Sherly juga tak hentinya memohon pada ku membuat diri ku memberanikan diri untuk meminta ijin Jovan.
"Hm.. Ya. Aku akan mengabari mu besok, kalau Aku mempunyai waktu luang"
"Kya!! Kamu tidak mempunyai waktu untuk ku? Keisha.. Apa Aku sudah tidak sepenting itu karena kepergian ku?" keluhnya.
"Iya... Iya. Aku akan menemani ku besok"
Sherly tampak senang mendengar ucapan ku yang akan berjanji menemaninya besok. Lalu pandangan ku teralihkan saat pintu kamar ku terbuka dan menampakkan sosok Jovan yang baru saja masuk ke dalam kamar.
"Hm.. Sher, besok Aku akan menghubungi mu lagi. Okay?" ucap ku sebelum mematikan panggilan dari Sherly.
Aku menyimpan ponsel ku sambil melirik Jovan yang berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Aku menarik selimut ku hingga selimut itu menutupi setengah tubuh ku, memejamkan mata ku untuk terlelap.
Aku dapat merasakan pergerakan Jovan yang baru saja menaiki ranjang dan menarik selimutnya. Mata ku sangat sulit terpejam karena permintaan Sherly yang mengganggu pikiran ku. Apa Aku mengatakannya saja pada Jovan malam ini?
Aku memberanikan diri ku untuk berbicara padanya sebelum ia terlelap.
"Hm.. Apa hari ini kamu sangat lelah?" tanya ku basa basi.
"Ada apa? Kenapa kamu menanyakan itu?"
"Hm.. Apa Aku boleh meminta ijin mu besok?"
Mendengar hal itu, Jovan yang tadinya memunggungi ku kini berbalik lalu menatap ku.
"Kamu mau kemana lagi?" tanyanya.
"Teman ku baru saja kembali dari London. Dia ingin membuka usaha butik di sin---"
"Lalu? Apa hubungannya dengan mu? Kamu yang mau membangunkannya butik?"
"Hm.. Bukan. Dia meminta ku untuk menemaninya mencari lokasi yang strategis untuk butiknya" jelas ku.
"Kenapa kamu perlu ijin ku?"
Pertanyaannya membuat ku sedikit bingung sambil menatapnya. Apa maksud dari pertanyaannya?
"Ya. Karena kamu suami ku, dan sudah seharusnya istri selalu meminta ijin suaminya" balas ku apa adanya.
Jovan terdiam membuat ku bingung serta gugup kalau saja Aku mengatakan hal yang salah dan membuat suasana hatinya menjadi buruk.
"Apa Aku salah?" tanya ku ragu.
"Ah? Hm.. Pergilah"
Aku dapat merasakan pasokan udara ku kembali saat ucapan itu terlontar dari bibir Jovan. Aku memperlebar senyuman ku sambil mengucapkan terima kasih padanya. Tak mendapat balasan senyuman darinya membuat ku sedikit kecewa tapi, rasa itu berhasil di tutupi dengan perasaan senang ku yang tak sabar menanti hari besok untuk bertemu dengan Sherly dan melepas rindu bersamanya.
• JOVAN POV •
Aku memaksa mata ku untuk terpenjam tapi rasanya sangat sulit. Perkataan Keisha barusan berhasil menganggu pikiran ku.
"Ya. Karena kamu suami ku, dan sudah seharusnya istri selalu meminta ijin suaminya"
Entah ada apa pada kalimat itu, rasanya itu benar-benar menganggu ku. Mengingat ucapan itu membuat d**a ku terasa sesak saat sikap ku juga padanya memenuhi isi kepala ku.
Ada apa ini?
Aku menatap dia yang sudah terlelap di sebelah ku. Aku menatap wajah polosnya yang tak terbalut apapun. Lalu ucapan Richard juga kembali menganggu ku.
Aku beranjak dari tempat tidur dan keluar untuk membasahi tenggerokan ku yang terasa kering. Aku menatap jam yang kini menunjukkan pukul 02.30 dini hari.
Sial! Besok Aku ada rapat yang penting. Tapi, kenapa mata ini tak bisa tertutup di saat seperti ini?
Lalu suara pintu terbuka menyadarkan ku. Aku menatap Keisha yang baru saja keluar dari kamar dan menatap ku dengan kedua matanya yang menyipit.
"Kenapa kamu tidak tidur?" tanyanya sambil menguap.
"Aku terbangun karena haus" balas ku sinis.
"Oh.. "
Aku memperhatikan langkahnya yang semakin mendekat kearah ku.
"Mau kemana?"
"Aku juga ingin mengambil air, tenggerokan ku terasa sakit" balasnya.
Aku meneguk habis air ku lalu meninggalkannya lebih dulu untuk masuk ke dalam kamar.
• AUTHOR POV •
Keisha tampak bersemangat untuk bertemu Sherly hari ini. Ia memilih setelan yang akan ia kenakan siang ini. Pilihan jatuh pada sebuah crop top lengan pendek berwarna maroon yang akan ia padukan dengan celana jeans panjang yang memiliki sedikit belahan pada bagian bawahnya.
Pesan masuk dari Sherly menyadarkan dirinya saat sibuk memoles wajahnya di hadapan cermin. Keisha membaca pesan yang bertuliskan alamat yang di kirimkan Sherly untuknya.
Keisha mempercepat pergerakannya memoles wajahnya dan menuju tempat yang di maksudkan Sherly.
Keisha melajukan mobilnya ke salah satu cafe yang saat ini sangat terkenal di kalangan para anak remaja. Tidak cukup jauh dari rumah Jovan membuat Keisha hanya mengabiskan waktunya sekitaran dua puluh menit di jalan untuk sampai di cafe tersebut.
Dengan senyum sumeringah serta semangat yang menggebu-gebu Keisha melangkahkan kakinya masuk dan mencari keberadaan Sherly. Pandangannya tercekat saat menatap seorang wanita dengan rambut hitam legam sebahu duduk manis menunggunya sambil memainkan ponsel yang berada di tangannya.
Keisha mempercepat langkahnya menuju meja tersebut dan menyapa sahabatnya.
"Sherly... " sahut Keisha bersemangat.
"Oh my god! Kei.. Kamu cantik sekali" puji Sherly.
"Kamu juga, Sher. Wow.. Warna kulit mu eksotis sekali" balas Keisha memuji dengan candaannya.
Keisha memeluk Sherly sebelum keduanya duduk dan melanjutkan percakapannya.
Sherly tampak berbeda dari sebelumnya. Kini kulitnya berubah kecoklatan serta tubuhnya yang terlihat lebih kurus layaknya seperti body model pada umumnya.
Sherly berkali kali melontarkan pujiannya pada Keisha begitupun sebaliknya.
Percakapan keduanya begitu panjang, yang di awali dengan kepergian mendadak dari Sherly beberapa waktu yang lalu hingga keduanya kehilang kontak sama sekali. Sherly juga menceritakan beberapa kisah menyedihkan serta bahagianya saat berada di London. Sama halnya dengan Keisha, ia menceritakan semua cerita yang tak sempat ia ceritakan pada Sherly karena kepergiannya.
Bahkan masa lalu semasa sekolahnya pun habis mereka kupas tuntas. Tapi, Keisha belum menyinggung soal kehidupannya yang saat ini sudah resmi menjadi seorang istri.
Sherly juga menyinggung beberapa kisah percintaan Keisha di jaman sekolah. Hingga Sherly ingat tentang sosok lelaki yang membuat Keisha berani membohongi mamanya saat itu hanya untuk bertemu lelaki tersebut. Sherly menggoda Keisha dengan kisah jaman sekolahnya dulu.
"Bagaimana dia sekarang? Apa kalian masih berkomunikasi?" tanya Sherly penasaran.
"Tentu saja sudah tidak. Itu sudah sangat lama, mungkin dia juga sudah melupakan ku" jelas Keisha.
"Apa dia sudah tidak mengirimi mu pesan?"
"Sejak kepergian mu yang bertepatan dengan ujian sekolah, mama menyita ponsel ku hingga Aku hari kelulusan. Dia mengirimi ku banyak pesan tapi, Aku tidak pernah membalasnya. Dan pada saat Aku membalasnya, justru pesan itu sudah tidak dapat di kirim lagi" jelas Keisha mengingat kejadian itu.
"Lalu? Sampai sekarang kalian tidak berkomunikasi?"
Sherly tampak penasaran dengan kisah Keisha dengan lelaki yang dulu membuat Keisha berani membohongi ibunya.
"Ya.. " balas Keisha sambil menggidikkan bahunya.
"Yah.. Ku pikir kalian akan bersama dan menikah"
Ucapan Sherly membuat Keisha sedikit terkejut dengan kata nikahnya.
"Aku memang sudah nikah tapi bukan dengannya" ucap Keisha.
"Yah.. Sungg---what??!! Kamu sudah nikah?---eits, jangan membohongi ku"
"Aku serius.. Kamu bisa lihat ini" ucap Keisha memperlihatkan cincin nikahnya.
Mata Sherly seakan di paksa melebar, ia menarik tangan Keisha dan memperhatikan lebih detail cincin yang melekat di jari manis sahabatnya.
"Are you serious? Jangan membodohi ku, Kei!"
Keisha hanya menggidikkan bahunya sambil memperlebar senyumannya membuat Sherly yakin meskipun masih tak percaya.
Sherly memukul Keisha yang tak menunggunya untuk melangsungkan pernikahannya. Padahal Sherly berjanji ia akan hadir di acara bahagia sahabatnya itu saat Keisha mendapatkan lelaki yang ia cintai. Tapi, sayangnya situasi yang tak memungkin Sherly untuk hadir.
"Kamu benar sudah menjadi istri orang? Lalu di mana suami mu? Kenapa tidak mengajaknya bertemu dengan ku?" keluh Sherly.
"Masih banyak yang harus ku ceritakan pada mu, Sher. Tapi, Aku akan memberitahu kan mu nanti saja" balas Keisha.
"Ada apa? Apa kamu memiliki masalah?"
Senyum di wajah Sherly seakan memudar mendengar perkataan Keisha serta raut wajah sahabatnya yang sedikit berubah menjadi murung.
"Nanti saja ku ceritkan, rasanya kurang pas saja menceritakan kisah sedih di hari bahagia seperti ini" balas Keisha mencoba tersenyum di hadapan sahabatnya.
"Hm.. Baiklah. Kamu bisa menceritakan semuanya kalau kamu sudah siap".
Sherly mengelus puncak tangan Keisha sambil melemparkan senyum pada sahabatnya.
Keisha berusaha menghilangkan kesedihannya dan menormalkan kembali suasana hatinya.
Ini adalah hari bahagia Keisha bisa bertemu kembali dengan Sherly. Ia tidak ingin merusak hari bahagia ini untuk lebih mengutamakan egonya berbagi kisah sedih pernikahannya pada Sherly.
*****