- AUTHOR POV -
Pagi kembali datang menyongsongkan sinarnya yang berhasil menembus masuk ke dalam kamar Jovan dan juga Keisha. Malam yang menyeramkan bagi Keisha, di mana ia yang harus pasrah menerima perlakuan suaminya. Badannya terasa remuk setelah percintaan yang tak terduganya semalam dengan Jovan. Ia juga masih merasakan perih pada bagian sensitifnya, bahkan rasanya sangat sakit kalau ia melakukan pergerakan. Keisha menatap Jovan yang masih terlelap dalam tidurnya, bayangan semalam kembali terlintas di benaknya saat ia meminta Jovan untuk berhenti tapi Jovan mengacuhkannya dan melakukannya lagi dan lagi.
Keisha dengan begitu hati-hati meraih piyamanya yang berada di samping ranjangnya saat Jovan menanggalkannya tadi malam. Ia perlahan beranjak dari ranjang meskipun selangkangannya terasa begitu perih. Matanya terlihat begitu sembab pagi ini, bahkan tampilan dirinya tampak kacau sat ia memandangnya pada pantulan cermin. Keisha mengenakan kembali piyamanya lalu berjalan dengan begitu hati-hati menuju kamar mandi.
Keisha mencuci wajahnya sambil menatap ke arah cermin dengan kejadian semalam yang kembali terlintas di kepalanya hingga ia menatap ke bawah dan melihat sisa darah yang berada di pahanya. Suara berat Jovan menyadarkannya di dalam kamar mandi dan dengan cepat ia menyeka air matanya kemabali.
Jovan menatap ke sekeliling kamar dan tidak mendapati istrinya di sana. Kejadiaan semalam pun terlintas di kepala Jovan. Di mana ia dengan kasarnya memaksa Keisha menerima semua perlakuannya. Ia bagaikan lelaki yang haus akan gairah semalam. Ia juga masih merasakan kepalanya yang terasa berat.
"Keisha.." sahut Jovan.
Mendengar teriakan itu, Keisha keluar dari kamar mandi dan berjalan pelan. Jovan menatapnya dan menegur istrinya.
"Kenapa dengan cara jalan mu?"
"Tidak apa-apa. Hanya masih terasa perih saja" balas Keisha.
"Nanti juga baikkan.." ucap Jovan masa bodoh. "Siapkan semua keperluan ku! Mulai sekarang, Aku sudah putuskan kalau kamu akan melakukan semuanya. Bukannya sangat rugi, Aku menikahi mu tapi kamu tidak melakukan apapun tugas mu menjadi seorang istri?" lanjutnya beranjak dari ranjang dan berjalan meninggalkan Keisha.
Perkataan Jovan lagi dan lagi menggores hati Keisha setelah semalam apa yang ia lakukan padanya. Tak ada rasa bersalah dan kasihan, hanya sikap kasar yang selalu ia lemparkan pada istrinya.
Keisha berjalan pelan menuju ruang pakaian Jovan dan menyiapkan pakaian yang akan di pakai suaminya ke kantor. Lalu ia juga menyiapkan sarapan seperti biasanya. Rasanya Keisha benar-benar merasakan kalau ia sekarang sudah menjadi seorang istri. Bukan hanya patung yang di pajang di dalam rumah suaminya.
Jovan kembali setelah selesai mengenakan setelan kantorannya dan duduk di hadapan Keisha yang tampak menyantap sarapannya.
Tak ada percakapan yang terjadi dari keduanya hingga Jovan meninggalkan Keisha dan berangkat ke kantornya.
Keisha menghela napas kasar saat Jovan sudah meninggalkannya untuk ke kantor. Ia merapikan meja makannya dan kembali ke kamarnya. Lalu suara deringan ponselnya menyandarkannya. Ia menatap nama mamanya yang tertera pada layar ponselnya.
"Iya.. ma?" ucap Keisha menjawab panggilan dari Arnelita.
Arnelita tampak menanyakan kabar putrinya dengan suara yang penuh semangat. Keisha berusaha menormalkan suaranya agar terdengar ceria di panggilan mamanya. Kebohongan Keisha soal rumah tangganya membuat Arnelita tidak menyesali soal pernikahan anaknya. Ia berharap kalau rumah tangga Keisha juga harmonis seperti rumah tangga Meysha anak pertamanya yang juga menjadi korban pernikahan pria pilihannya.
Arnelita mengajak Keisha untuk datang malam ini menemui Geisha adiknya yang besok akan terbang ke San Fransisco untuk melanjutkan pendidikannya. Kini giliran Geisha yang akan melanjutkan pendidikannya di luar negeri setelah Keisha dan Meysha menjalaninya.
"Iya ma.. nanti malam Keisha ke sana"
Wajah Keisha terlihat panik saat Arnelita meminta ia datang bersama Jovan ke rumahnya nanti malam.
"Keisha tidak janji kalau Jovan bisa ikutan, ma.. tapi, nanti Keisha tanya ke Jovan"
Meskipun sedikit kecewa Arnelita memaklumi kesibukan yang di lakukan Jovan di kantornya.
Keisha mengakhiri panggilannya dengan Arnelita.
Rasa perih di selangkangannya perlahan hilang membuat ia bisa kembali mendapatkan jalan yang normal.
- JOVAN POV -
Aku melonggarkan dasi ku yang sejak tadi pagi melilit di leher ku. Rasanya hari ini benar-benar melelahkan dan membuat ku kesal. Aku juga dapat merasakan tenggerokkan ku yang kering karena amukan tadi yang ku lemparkan pada bawahan ku. Penjualan bulan ini mengalami penurunan yang sangat drastis hal itu membuat kepala ku rasanya ingin pecah. Lalu suara ketukan pintu mengalihkan pandangan ku.
"Ini laporan yang harus kau tanda tangani" ucap Richard menyodorkan ku beberapa berkas laporan yang biasanya Aku tanda tangani untuk bagian finance.
"Ya.. simpan saja di sana, nanti akan ku tanda tangani" balas ku.
Aku kembali menyandarkan pundak ku pada kursi putar ku sambil memijit pelipis ku dengan segala masalah yang terjadi hari ini. Lalu pikiran ku tiba-tiba saja tertuju pada wanita yang selalu ku tunggu kedatangannya kembali di kehidupan ku.
Aku mengecek kembali email yang ku kirimkan padanya, email yang mungkin hampir tiap bulan ku kirimkan untuknya namun selalu saja tidak mendapat jawaban darinya. Rasanya sangat sulit melupakan dia dan kenangan singkat ku dulu. Lalu pikiran itu teralihkan dengan wajah Keisha yang terlintas. Kejadian tadi malam kembali mengingatkan ku.
Richard kembali masuk ke dalam ruangan ku dan mengajak ku untuk makan siang. Richard adalah tangan kanan ku di mana semua urusan ku harus melaluinya terlebih dahulu. Dia juga sudah kuanggap sebagai saudara ku sendiri karena semua permasalahan ku selalu ku bagi dengannya.
Aku menceritakan soal pernikahan ku padanya. Menceritakan soal sikap Keisha pada ku dan sikap ku kepada Keisha. Richard menghela napas kasar sambil melirik ku di tengah ia mengemudikan mobil. Ia memberikan komentar pedas dengan apa yang kulakukan pada Keisha.
"Harusnya kau memperlakukannya lebih baik lagi" ucap Richard.
"Tapi, Aku tidak bisa. Jika kau jadi, Aku.. kau juga melakukan hal yang sama"
"Tidak! Aku tidak akan melakukan hal yang sama" balasnya.
"Lalu?"
"Aku akan melupakan wanita tidak jelas yang selalu kau tunggu itu dan memulainya dengan istri ku"
"Itu tidak mungkin ku lakukan, Richard.. Aku tidak memiliki perasaan apapun untuknya" keluh ku.
"Kalau kau tidak memiliki perasaan untuknya, setidaknya jangan menyiksanya. Lalu apa yang kau harapkan dengan wanita yang kau tunggu itu? Apa kau yakin dia masih menyimpan perasaan yang sama dengan mu? Apa kau yakin dia masih mengingat mu?" jelas Richard.
Ucapannya membuat ku tak dapat mengelak. Aku tau, semua itu sudah sangat lama berlalu. Aku bahkan tidak memiliki banyak kenangan dengannya. Tapi, rasanya Aku sangat nyaman saat bersamanya saat itu.
Tapi, apakah Aku masih bisa bertemu dengannya?
- AUTHOR POV -
Keisha tampak manis dengan atasan crop top serta balutan rok jeans selutut yang menjadi setelannya sore ini. Ia duduk manis di depan sofa menunggu Jovan pulang untuk meminta ijin kerumah mamanya sesuai dengan permintaan Arnelita siang tadi. Polesan yang simple membuat ia terlihat cantik. Ia menatap jam yang berada di tangan kanannya menunggu Jovan yang pulang dari kantornya.
Cukup lama ia menunggu kepulangan suaminya hingga suara mobil mulai terdengar membuat ia beranjak dari sofa dan membuka kan pintu untuk Jovan.
Keisha menarik gagang pitnu rumahnya dan menyambut Jovan. Sama seperti hari biasanya, di mana Jovan selalu saja mengabaikan Keisha. Tapi, sore ini ia sedikit melirik ke arah istrinya dan menghentikan langkahnya.
"Kamu mau berangkat sekarang?"
Keisha termenung sejenak dengan perkataan Jovan. Kenapa Jovan tau kalau Keisha ingin meminta ijin padanya?
"Ah.. hm, Aku ingin memint--"
"Ya... Aku tau. Tunggu di sini, Aku akan siap-siap"
Keisha semakin bingung dengan ucapan suaminya.
"Kamu mau ikut?"
"Kalau bukan mama mu yang meminta Aku juga tidak mau ikut dengan mu" balas Jovan.
"Mama? Mama menelpon mu?" tanya Keisha kaget.
"Hm" balas Jovan singkat.
"Kenapa bukan kamu saja yang memberitahu ku?"
"Hm.. Aku pikir, kamu sibuk"
Jovan hanya melirik ke arah Keisha dan meninggalkannya di ambang pintu kamar.
"Carikan kemeja ku" pinta Jovan.
Keisha menuju ruang pakaian Jovan dan mengambil kemeja navy polos dan membawakannya kepada Jovan yang sedang membersihkan dirinya di dalam kamar mandi kamarnya. Keisha duduk di tepi ranjang menunggu Jovan selesai.
Keisha menyodorkan kemejanya pada Jovan saat Jovan sudah keluar dari kamar mandi.
"Ini.." ucap Keisha.
"Tidak usah terlalu lama sebentar di rumah mama" ucap Jovan sambil memakai kemejanya.
"Ya.. terima kasih"
Mendengar Keisha mengucapkan terima kasih padanya, membuat ia melirik lalu menatap ke arah Keisha.
"Kenapa berterima kasih?" tanya Jovan penasaran.
"Karena, kamu mau ikut dengan ku ke rumah mama" balas Keisha.
Jovan terdiam dan tak membalas ucapan Keisha. Ia mempercepat pergerakannya untuk mengenakan kemajanya.
Keisha menarik sedikit senyum di sudut bibirnya saat Jovan telah selesai.
"Ayoo.." sahut Jovan.
Perasaan Keisha menjadi lebih baik dari sebelumnya, hari ini sikap Jovan juga lebih baik dari sebelumnya. Ia berharap kalau sikap Jovan akan bisa seperti ini setiap harinya.
Jovan melajukan mobilnya menuju rumah mama Keisha dan sesekali melirik ke arah Keisha yang terlihat tengah tersenyum. Ia kembali mengingat ucapan Richard siang tadi soal sikapnya pada Keisha. Di mana Richard menyuruhnya untuk memperlakukan Keisha lebih baik.
"Apa kaki mu sudah membaik?" tanya Jovan.
"Hm" balas Keisha singkat.
Tak banyak percakapan yang di lontarkan dari keduanya hingga mereka sampai dirumah Arnelita. Jovan dan Keisha masuk dan tampaknya Arnelita, Meysha, Harvey dan juga Geisha sudah menunggu kedatangan mereka sejak tadi. Arnelita menyambut hangat kedatangan Keisha dan juga Jovan.
Geisha memeluk kakaknya yang baru ia temui lagi setelah hari pernikahan Keisha beberapa minggu lalu. Hubungan keduanya memang kadang tak harmonis, tapi rasa rindu juga kadang membuat hubungan kakak adik tampak romantis.
Harvey menyambut Jovan dan menyuruhnya duduk di sampingnya sambil mewawancarainya soal pernikahannya dengan adik iparnya. Pertanyaan Harvey selalu saja membuat Jovan kebingungan soal jawaban yang akan ia lontarkan. Karena ia tau kalau hubungannya dengan Keisha tidak seperti apa yang ia tampilkan saat ini.
Keisha berusaha membuat suasananya menjadi heboh agar Harvey kesusahan untuk berkomunikasi dengan Jovan. Keisha membuat Geisha dan Meysha tampak bahagia dengan sikap cerianya yang tak pernah ia tampilkan saat bersama Jovan. Bahkan Jovan juga dapat merasakan perbedaan sikap Keisha saat di rumah Arnelita dan di rumahnya. Rasanya ia melihat orang yang sangat berbeda antara Keisha dan istrinya.
Jovan berusaha tersenyum saat Keisha melontarkan beberapa humor kecil yang mengundang tawa dari keluarganya. Lalu kedua pasang mata itu kembali berpaut di mana Jovan melihat ekspresi wajah Keisha yang secepat kilat berubah.
Tampaknya waktu berlalu cukup cepat, Keisha mengingat kembali pesan Jovan padanya untuk tidak terlalu lama di rumah mamanya. Ia kemudian pamit pada Arnelita, Meysha, Harvey dan juga adiknya yang akan berangkat besok. Keisha memeluk Geisha dan memberikan sedikit arahan untuk ia pelajari saat berada di kampus sebelum pamit meninggalkan rumah mamanya.
"Aku pamit dulu, ma"
"Aku dan Keisha, pamit.." ucap Jovan sebelum meninggalkan rumah Keisha.
Keisha meraih gagang pintu mobil Jovan lalu menariknya bersamaan dengan suara notofication pesan yang masuk ke dalam ponselnya.
"Kei... Aku pulang!! I miss you so much!"
*****