Malam sebelum keberangkatan ke Kediri, aku menghadap Kanjeng Ibu. Beliau berpesan untuk membuat kue bolu dan memberikan resep rahasianya.
Bu Titah memanggil ibunya, "Ibu..."
Kanjeng Ibu menjawab, "Iya, Nduk."
Bu Titah menunjuk selembar kertas, "Itu apa, Bu?"
Kanjeng Ibu menjelaskan, "Ini resep kue bolu rahasia Ibu, Nduk."
Bu Titah memanggil Gampang dan Jumiati, "Gampang, Jumiati!"
Keduanya menjawab, "Iya, Bu Titah."
Bu Titah bertanya, "Kalian ikut ke Kediri, kan, besok?"
Jumiati menjawab, "Iya, Bu Titah."
Gampang menjelaskan, "Saya tidak ikut, Bu. Setelah mengantar ke stasiun, saya tetap di rumah. Takutnya Pak Afgan minta diantar ke kantor atau ada urusan lain."
Bu Titah memberi perintah, "Berarti di rumah ada kamu, Joya, suamiku, adikku, dan Pak Lik Purwanto. Aku titip suamiku, ya, Gampang. Awasi dia dan laporkan kalau dia macam-macam!"
Gampang menerima tugas, "Siap, Bu Titah!"
Kanjeng Ibu bertanya, "Joya mana, ya?"
Bu Titah menjawab, "Tidak tahu."
Kanjeng Ibu memanggil Paijo, "Jo! Joya!"
Paijo menjawab, "Iya, Kanjeng Ibu!"
Kanjeng Ibu memberikan resep, "Ini..."
Paijo bertanya, "Ini apa, Kanjeng Ibu?"
Kanjeng Ibu menjelaskan, "Resep kue bolu rahasia Ibu. Pelajari, ya! Setelah Ibu pulang, Ibu mau lihat hasil buatanmu!"
Paijo menerima perintah, "Siap, Kanjeng Ibu!"
"Ya sudah, ada lagi, Jo," kata Kanjeng Ibu.
Paijo bertanya, "Apa lagi, Bu?"
Kanjeng Ibu memberikan sebuah amplop, "Ini..."
Paijo melihat amplop itu, "Kok amplop, Bu? Mau nitip ke kantor pos besok?"
Kanjeng Ibu menjawab, "Bukan."
Paijo penasaran, "Bukan? Terus ini apa, Bu?"
Kanjeng Ibu menyuruhnya membuka, "Buka saja dulu."
Paijo membuka amplop itu dan terkejut, "Wah... banyak banget, Bu!" Amplop itu berisi uang untuk membeli bahan kue dan bonus.
Kanjeng Ibu menjelaskan, "Iya, itu buat beli bahan kue dan bonus untukmu. Asal kamu beli bahan kue dan latihan bikin kue. Kalau berhasil dan rasanya enak, ada bonus lagi!"
Paijo senang, "Jarang-jarang, Bu, begini."
Kanjeng Ibu menekankan, "Iya, dong. Yang penting rajin belajar dan rasanya enak!"
Paijo semangat, "Siap, Bu!"
Kanjeng Ibu meminta bantuan Ayu, "Oh ya, Yu, besok titip Paijo dan Gampang, ya."
Ayu menjawab, "Siap, Bu."
Afgan memanggil Titah, "Titah sayang..."
Titah menjawab, "Iya, Mas."
Afgan bertanya, "Gampang mana, ya?"
Titah menjawab, "Nggak tahu, Mas. Tadi di sini, terus nggak tahu ke mana."
Ayu memberi tahu, "Mas Afgan, itu Mas Gampang!"
Afgan berterima kasih, "Oh, iya, makasih, Yu..."
Ayu menjawab, "Iya, Mbak."
Titah menambahkan, "Iya, Dik."
Ayu bertanya, "Mbak Titah, berapa hari ke Kediri?"
Titah menjawab, "Dua hari, Dik."
Ayu hanya bergumam, "Oh..."
Titah bertanya, "Kenapa?"
Ayu menjawab, "Cuma nanya, Mbak."
Gampang meminta maaf, "Pak Afgan, maaf..."
Afgan bertanya, "Ada apa, Gampang?"
Gampang bertanya, "Ini uang apa, ya?"
Afgan menjelaskan, "Itu uang ganti oli kamu kemarin. Ini enam ratus ribu, buat ganti bensin juga."
Gampang lega, "Oh... saya kira apa, Pak..."
Afgan memastikan, "Sudah lunas, ya?"
Gampang menjawab, "Iya, Pak..."
Afgan kembali memanggil Titah, "Titah sayang..."
Titah menjawab, "Iya, Mas Afgan."
Afgan memastikan, "Untuk besok, sudah siap semua yang mau dibawa?"
Titah menjawab, "Sudah semua, kok, Mas Afgan."
Kanjeng Ibu memberikan peringatan pada Afgan, "Afgan, selama istrimu nggak di rumah, jangan macam-macam, ya! Kalau kamu macam-macam, nanti aku coret dari daftar warisan!"
Afgan ketakutan, "Iya, Bu. Tenang saja, Bu. Saya nggak akan macam-macam. Saya cuma satu macam, kok."
Kanjeng Ibu penasaran, "Eh, loh? Maksud kamu apa, Afgan?"
Afgan menjelaskan dengan cepat, "Saya cuma mencintai istri saya, Bu!"
Keesokan harinya, aku dan Gampang pergi ke pasar untuk membeli bahan kue bolu sesuai resep Kanjeng Ibu.
Keesokan harinya...
Gampang bertanya, "Jo, jadi ke pasar nggak, nih?"
Paijo menjawab santai, "Jadi, kok. Tunggu tehnya habis dulu, ya."
Gampang mengingatkan, "Jangan kelamaan, ya!"
Paijo menjawab, "Sebentar lagi... Yuk, berangkat!"
Gampang bertanya lagi, "Mau ke mana, Jo?"
Paijo menjawab sambil menggeleng kepala, "Ke pasar, lah! Gimana sih, Dik?" (Bahasa Jawa yang lebih halus)
Gampang tertawa, "Hehehe... Iya, Jo..."
Paijo mengajak, "Yuk, berangkat ke pasar. Nanti siang, kepanasan!" (Bahasa Jawa yang lebih halus)
Gampang setuju, "Iya, Jo..."
Di Pasar...
Gampang memanggil Paijo, "Jo..."
Paijo menjawab, "Apa?"
Gampang bertanya, "Sudah selesai belanja, ya?"
Paijo menjawab, "Belum, Gampang. Masih ada satu lagi."
Gampang penasaran, "Apa lagi, Jo?"
Paijo menjawab, "Tepung terigu. Ini, tunggu ya."
Gampang mengingatkan, "Hati-hati, Jo!"
Lima menit kemudian...
Paijo sudah selesai belanja, "Nah, sudah lengkap! Yuk, pulang, Gampang! Sudah selesai belanja... Aduh, Gampang... malah tidur lagi!" Paijo melihat Gampang tertidur.
Gampang mengigau, "Eh... iya... Pak Afgan... mau ke mana...?"
Paijo mengeluh, "Eh... ini aku Paijo, bukan Pak Afgan!"
Gampang tersadar, "Eh... iya... Paijo... aku kira..."
Paijo menyuruhnya bangun, "Stop! Udah banyak ngomong! Yuk, cepat pulang!"
Gampang bangun, "Iya, Jo... tunggu..."
Satu jam kemudian...
Di Depan Komplek...
Paijo berkata, "Cepat, Gampang! Panas, nih!"
Gampang mengeluh, "Cepat-cepat! Kamu enak, bisa bilang cepat. Aku ini..."
Paijo bertanya, "Kenapa, sih, Gampang?"
Gampang menjawab, "Ini, banyak banget bawaannya! Lihat kamu, cuma bawa satu tepung terigu!"
Paijo menawarkan, "Oh, kamu iri, ya? Ya sudah, nih..." Paijo memberikan tepung terigunya pada Gampang.
Gampang protes, "Loh, kok, Jo? Kok, Jo? Kok..."
Paijo bertanya, "Apa lagi, sih, Gampang?"
Gampang menjawab, "Kok malah ditambahin!"
Paijo mengambil kembali tepung terigunya, "Oh, gitu? Ya sudah, aku yang bawa tepungnya saja."
Gampang terbata-bata, "Sa... sa... sa..."
Paijo membantu, "Sama-sama."
Gampang masih terbata-bata, "Sa... sa... sa..." (mungkin ingin mengucapkan terima kasih)
Paijo mengingatkan, "Udah, yuk! Pak Afgan nunggu di rumah."
Gampang menjawab, "Iya..."
Aku dan Gampang tiba-tiba bertabrakan dengan dua preman! Barang-barang kami tertukar, dan ternyata preman itu sedang dikejar polisi!
Kami semua tersungkur, "Aduh..."
Bos preman meminta maaf, "Maaf, Mas! Maaf!"
Paijo kesal, "Maaf-maaf! Kalian pakai mata nggak, sih, kalau jalan?!"
Bos preman menjawab, "Pakai, Mas..."
Paijo menyuruh Gampang lari, "Gampang, lari! Aku ajari lari!"
Gampang protes, "Loh, kok aku yang lari?"
Paijo menjelaskan, "Kamu ikut-ikutan salah!"
Polisi muncul, "Hei! Tunggu!"
Anak buah preman panik, "Bos... gawat, Bos!"
Bos preman menyuruhnya lari, "Iya, benar! Lari!"
Anak buah preman pamit sambil lari, "Permisi, Mas..."
Paijo dan Gampang hanya bisa menjawab, "Iya..."
Di Stasiun Manggarai...
Bu Titah bertanya pada Kanjeng Ibu, "Ibu mau ngapain?"
Kanjeng Ibu menjawab, "Ibu mau telepon Pak Lik Purwanto, Nduk."
Bu Titah bergumam, "Oh..."
**
[Kanjeng Ibu: Assalamu'alaikum, Pak Lik.]
[Pak Lik Purwanto: Wa'alaikumussalam, Mbak Yu.]
[Kanjeng Ibu: Saya telepon cuma mau ingatkan lagi, awasi suami keponakan saya, ya. Bantu pantau dan kabari saya terus.]
[Pak Lik Purwanto: Inggih, Mbak Yu. Kalau itu, serahkan saja pada saya.]
[Kanjeng Ibu: Ya sudah, begitu saja. Assalamu'alaikum.]
[Pak Lik Purwanto: Wa'alaikumussalam, Mbak Yu.]
**
Sesampainya di rumah, Paijo langsung menuju dapur untuk menyiapkan bahan-bahan kue bolu rahasia resep Kanjeng Ibu.
Di rumah Pak Afgan...
Paijo berseru, "Akhirnya..."
Gampang memanggil, "Jo..."
Paijo menjawab, "Apa?"
Gampang bertanya, "Sekarang bikin kue, ya?"
Paijo menjawab, "Iya, dong, Gampang!"
Gampang semangat, "Ya sudah, mulai, Jo!"
Paijo membaca resep sambil mempraktikkan, "Oke, pertama-tama, masukkan gula ke mixer. Lalu, masukkan mentega tiga sendok... satu, dua, tiga! Terus, tuang air secukupnya. Lalu, masukkan telur tiga butir... satu, dua, tiga!"
Gampang melihat Paijo memasukkan telur beserta kulitnya ke mixer, "Eh, Jo..."
Paijo bertanya, "Kenapa, Gampang?"
Gampang protes, "Ngawur kamu, Jo! Masa telur sama kulitnya?"
Paijo beralasan, "Gampang, aku bikin sesuai resep Kanjeng Ibu! Resepnya bilang 'masukkan telur tiga butir', bukan 'masukkan isi telur tiga butir'! Udah, jangan ganggu konsentrasiku!"
Gampang pasrah, "Iya, Jo."
Paijo melanjutkan, "Sekarang tepung... Wah, kurang nih! Gampang, tepung yang tadi aku beli mana?"
Gampang menjawab, "Itu, Jo!"
Paijo meminta bantuan, "Sini, dong, masukkan!"
Gampang menjawab, "Masukkan sendiri!"
Paijo mengingat sesuatu, "Wah, ini anak! Kamu lupa, semalam Kanjeng Ibu bilang apa? Setelah balik dari Pacitan, harus bisa bikin kue! Dan ada NB-nya!"
Gampang penasaran, "Masa, sih?"
Paijo menunjukkannya, "Nih, NB-nya!"
Gampang bertanya, "Gimana, memangnya?"
Paijo membacanya dengan dramatis, "'Joya, jika Gampang tidak mau nurut perintahmu, kamu berhak memecatnya! Jika perlu, masukkan kepalanya ke mixer!' Gimana?"
Gampang ketakutan, "Iya, aku masukkan!"
Paijo melanjutkan, "Ada NB lagi! Setelah itu, Gampang harus kerjaan rumah, nyapu, dan ngepel!"
Gampang tidak percaya, "Masa, sih, Jo? Aku nggak percaya! Mana, coba, aku lihat!"
Paijo memberikan resepnya, "Nih..."
Gampang memeriksa resep, "Mana ada NB-nya gitu, Jo!"
Paijo menjelaskan dengan jahilnya, "NB itu singkatan dari 'Not Blind', artinya 'tidak buta'! Buta itu nggak keliatan! Kalau bahasa Inggrisnya 'blind'! Udah, sana, beres-beres rumah!"
Gampang pasrah, "Iya, iya, Jo!"
Sementara itu, di ruang TV...
Afgan bertanya, "Ayu, ngapain sih dari tadi bolak-balik?"
Ayu menjawab, "Aku bengong, Mas Afgan."
Afgan bertanya lagi, "Bengong? Bingung kali?"
Ayu menjelaskan, "Iya, itu maksudnya, Mas Afgan."
Afgan penasaran, "Kamu bingung kenapa?"
Ayu menceritakan, "Tadi Bu Rani ngajak ngobrol, terus ngajak ke mal."
Afgan menyarankan, "Ya sudah, ikut saja."
Ayu menjelaskan kekhawatirannya, "Kalau ke mal sih oke, Mas Afgan. Tapi kalau sudah belanja, Bu Rani pasti pamer, 'Ayu, aku beli ini, loh! Ayu, aku beli itu, loh!'"
Afgan memberikan solusi, "Oh, kalau itu mah mudah, Ayu."
Ayu penasaran, "Gimana caranya?"
Afgan menjelaskan dengan santai sambil membaca koran dan minum teh, "Pamer balik aja! 'Eh, Bu Rani, aku habis jual ini, jual itu! Eh, ternyata Bu Rani yang beli! Berarti Bu Rani belanja barang bekasku, dong!' Gitu aja kok repot!"
Ayu tertawa, "Eee... capek deh..."
Afgan kesal, "Hu..."
Paijo akhirnya berhasil membuat kue! Ia berteriak kegirangan, "Berhasil! Berhasil! Hore!"
Afgan mendengar teriakan Paijo dan masuk ke dapur, mencari Gampang. "Jo!" panggil Afgan.
Paijo menjawab, "Iya, Pak Afgan."
Afgan bertanya, "Kamu ngapain?"
Paijo menjawab dengan semangat, "Saya senang karena Dora berhasil... eh, Joya maksudnya!"
Afgan bertanya lagi, "Berhasil soal apa?"
Paijo menjelaskan, "Membuat kue, dong! Pak Afgan ngapain?"
Afgan menjawab, "Saya cari Gampang. Kamu lihat Gampang nggak?"
Paijo menjawab, "Oh, kalau Gampang, saya nggak tahu. Yang ada di sini cuma saya dan kue bolu ini. Mau coba, Pak?"
Afgan menolak, "Tidak, ah."
Paijo heran, "Loh, kok gitu, Pak?"
Afgan menjawab, "Iya, karena kue buatan kamu itu nggak jelas."
Paijo membela diri, "Nggak jelas gimana? Jangan sembarangan ngomong, ya, Pak! Ini resep dari Kanjeng Ibu, tahu!"
Afgan berkata, "Resepnya sih iya dari Kanjeng Ibu, tapi..."
Paijo penasaran, "Tapi apa, Pak?"
Afgan menjelaskan, "Tapi kue itu kan dari tangan kamu! Alias kamu yang buat! Nggak jelas..."
Paijo mengatakan, "Pak Afgan nggak tahu, ya."
Afgan bertanya, "Nggak tahu apa, Jo?"
Paijo menjelaskan, "Kanjeng Ibu memberikan NB!"
Afgan bingung, "Ha? NB?"
Paijo menjelaskan, "Iya, NB dari Kanjeng Ibu! Begini, 'Joya, apabila Afgan tidak mau mencicipi kue buatanmu, lempar dia pakai kursi!'"
Afgan terkejut, "Ha? Masa, sih, Jo?"
Paijo bertanya, "Iya, jadi gimana, Pak Afgan? Mau cicip atau nggak?"
Afgan meminta melihat resep, "Coba sini saya lihat."
Paijo memberikan resepnya, "Nih..."
Afgan membaca resep dan menemukan catatan lain, "Wah, iya nih, Jo! Kanjeng Ibu juga kasih NB buat kamu! Gini katanya, 'Afgan, apabila Joya ingin menimpuk kamu pakai kursi, cepat kamu tabrak dia dengan mobilmu!'"
Paijo langsung mencari catatan lain, "Ha? Mana, sini! Ada BN..."
Afgan bertanya, "Kok BN? Bukannya NB?"
Paijo menjelaskan, "Iya, dong! Kan saya balik! Tadi yang terakhir Pak Afgan baca itu NB, lalu saya balik, jadi sekarang namanya BN!"
Afgan bertanya, "Oh, apa BN-nya?"
Paijo membacanya, "'Joya, jangan takut kalau Afgan mau tabrak kamu pakai mobil! Mobil kan adanya di garasi, bukan di dapur! Kan kayak orang gila, mobil dibawa-bawa ke dapur segala...'"
Afgan bertanya, "Sudah? Hem, sudah?"
Paijo bertanya, "Iya, Pak. Jadi gimana?"
Afgan bertanya, "Kamu mau tahu nggak artinya NB itu apa?"
Paijo menjawab percaya diri, "Tahu, dong!"
Afgan bertanya lagi, "Apa coba?"
Paijo menjawab, "Not Blind, kan?"
Afgan sangat kesal, "Ada lagi, nih! NB nih! 'Nonjok sama bogem' mau hem..."
Paijo langsung meminta maaf, "Eh, tidak! Iya, ampun!"
----
Gampang sedang asyik mencuci mobil. Tiba-tiba, Bu Rani, tetangga yang terkenal suka pamer, datang mencari Bu Ayu.
Bu Rani menyapa, "Assalamu'alaikum, Gampang."
Gampang membalas salam, "Wa'alaikumussalam, Bu Rani."
Bu Rani bertanya, "Kamu lagi ngapain?"
Gampang menjawab, "Ngintip pembantu tetangga yang baru? Nggak, lah, Bu! Ini, loh, cuci mobil."
Bu Rani mulai pamer, "Oh, cuci mobil? Kok jam segini? Beda sama supir saya! Subuh-subuh dia sudah bangun, langsung cuci mobil! Habis antar saya, cuci mobil lagi! Suami saya mau pergi ke kantor, cuci mobil! Pulang dari kantor juga begitu, cuci mobil lagi! Begitu seterusnya!"
Gampang penasaran, "Loh, memang supir Bu Rani itu berapa kali sih nyuci mobilnya?"
Bu Rani menjawab dengan bangga, "Oh, tak terhitung! Karena nyucinya juga pakai sabun!"
Gampang heran, "Ya, tahu, Bu! Cuci mobil pakai sabun! Masa pakai angin?"
Bu Rani menjelaskan, "Eh, tapi ini bukan sabun sembarangan, Gampang! Ini sabun impor! Kalau kamu, paling sabun biasa, kan? Sabun colek... Eh, Ayu mana? Saya mau ajak dia ke mal, nih."
Gampang menyindir Bu Rani, "Bu Rani mau ajak Bu Ayu ke mal? Nggak level, dong! Bu Ayu kan produk impor! Walaupun aslinya orang Indonesia, tapi sudah lama di London! Dia mandi aja pakai sabun khusus, produk impor! Kalau Bu Rani, pakai sabun biasa, kan? Sabun colek..."
Bu Rani kesal, "Tau ah! Capek ngomong sama kamu! Saya langsung masuk aja, ya, dah..."
Bu Rani masuk rumah setelah disindir Gampang. Paijo bertemu Bu Rani di meja makan, mencari Bu Ayu. Paijo meninggalkan kue sebentar untuk membersihkan dapur yang berantakan. Saat kembali, setengah kue bolu sudah habis dimakan Bu Rani! Paijo pun meminta bayaran.
Paijo membawa kue dan melihat Bu Rani di meja makan, "Kuenya sudah siap, Bu Rani ngapain?"
Bu Rani menjawab, "Eh, Joya..."
Bu Rani bertanya, "Saya cari Ayu. Ayu-nya mana?"
Paijo menjawab, "Bu Ayu? Di sini nggak ada, Bu Ayu di London."
Bu Rani protes, "Di London? Darimana orang ada di sini, kok! Tadi pagi saya ketemu sama dia!"
Paijo menjelaskan, "Oh, mungkin baru datang kali. Soalnya dari tadi pagi saya sibuk bikin kue, jadi saya nggak tahu kalau Bu Ayu datang. Jangan tanya saya! Oh ya, Bu Rani, ngomong-ngomong tadi Bu Rani lewat mana, kok saya nggak lihat masuknya?"
Bu Rani menjawab, "Saya lewat pintu, lah!"
Paijo bercanda, "Oh, saya kira dari loteng!"
Bu Rani kesal, "Sembarangan! Emangnya musang apa?"
Paijo menjawab, "Nggak ngomong, ya! Bu Rani yang ngomong! Sudah, ah... Saya titip kue buatan saya dulu! Awas, jangan dimakan! Ini buat keluarga di rumah ini!"
Bu Rani memanggil, "Eh, Jo, Jo..."
Paijo menjawab, "Iya, Bu."
Bu Rani bertanya, "Mau ke mana?"
Paijo menjawab, "Mau ke dapur, lah."
Bu Rani menebak, "Oh, saya tahu! Pasti kamu mau ambilin saya minum, kan?"
Paijo menjawab, "Saya mau beresin dapur."
Bu Rani protes, "Loh, Jo! Gimana sih? Kan saya tamu di sini, kok nggak diambilin minum?"
Paijo menjawab dengan sinis, "Ih, ngapain ngambilin minum buat Bu Rani? Lagian juga Bu Rani nggak pantas jadi tamu!"
Bu Rani bertanya, "Terus saya pantasnya jadi apa, dong, Jo?"
Paijo menjawab, "Jadi tambal ban..."
Bu Rani kesal, "Hem, Joya..."
Satu jam kemudian...
Paijo kembali ke meja makan, "Akhirnya beres juga tuh dapur! Loh, kok, Bu Rani? Apa-apaan ini? Kok kue bolunya habis? Tinggal setengah lagi..."
Bu Rani, seperti orang mabuk, bertanya, "Jo, ini kue bikinan kamu, ya, Jo?"
Paijo menjawab, "Iya..."
Bu Rani memuji, "Enak banget, Jo!"
Paijo meminta bayaran, "Ya jelas! Orang saya yang buat! Karena Bu Rani sudah makan kue buatan saya dan bukan bagian dari keluarga ini, maka Bu Rani harus bayar ke saya sebesar cepek, alias seratus ribu!"
Bu Rani mulai menghitung uangnya, "Ha? Seratus ribu? Mahal banget, Jo! Sepuluh ribu aja, ya! Sudah, sepuluh ribu aja, ya, Jo! Nih, kebetulan saya bawa uangnya... seribu, dua ribu, tiga ribu..."
Paijo protes, "Ha? Bu Rani tiga ribu? Darimana ini? Seratus ribuan semua, Bu Rani!"
Bu Rani menjawab dengan bingung, "Seratus ribu apaan? Orang seribuan gini! Kamu kali yang mabuk, ya, Jo! Ih, Joya mabuk, nih! Yaah, Jo, saya cuma bawa enam ribu doang! Yang empat ribunya ngutang dulu, ya!"