"Permisi, Pak." Anan berucap setelah mengetuk pintu kelas yang terbuka.
"Iya? Anan?" tanya guru lelaki yang tengah mengajar dikelas.
"Maaf menganggu waktunya, ini saya mau nganter adik saya. Bu Lisa bilang dia dikelas Bapak," ucap Anan sopan.
"Kamu punya adik?" tanya Pak Dana bingung, begitu pun seisi kelas.
"Kenapa Pak? Pengen juga punya adik?" tanya Naya menyembulkan kepalanya kekelas. Pak Dana terkekeh lalu mempersilahkan Naya masuk.
"Yaudah Pak, saya permisi dulu. Kalau adik saya nakal, cubit aja otaknya." Anan pergi setelah berhasil mengundang gelak tawa seisi kelas.
"Baik anak-anak, kalian punya teman baru. Perkenalkan nama kamu," pinta Pak Dana.
Naya mengedarkan pandangannya menatap seisi kelas, yang dicarinya adalah kedua sahabat lamanya yang nampak bosan dikelas.
"Hai? Nama gue Naya. Anaya Syella Samdrick. Adik Anan yang tadi pergi, gue pindahan London, nice to meet you guys!"
Ucapan Naya membuat dua orang gadis yang tengah mengantuk menoleh padanya.
"Naya!!!" pekik Lena dan Sindy berbarengan.
"Ya ampun! Demi kucingnya Sindy! Nayaaa!!!" Lena menghampiri Naya lalu memeluk gadis itu dihadapan seisi kelas.
"Woy! Woy! Gue juga mau dipeluk!" ucap beberapa anak lelaki.
"Lena, kembali duduk!" titah Pak Dana. Seisi kelaspun kembali senyap tanpa suara.
"Jadi nama kamu Naya? Adik dari Anan?" tanya Pak Dana mengulangi.
"Kembaran, lebih tepatnya." Jawab Naya membuat seisi kelas heboh.
"Diam! Diam!" ucap Pak Dana lagi. "Oke Naya, selamat datang dikelas saya. Silahkan duduk dikursi yang kosong." Titah Pak Dana.
Naya berjalan menuju kursi guru lalu duduk santai disana.
"Heh! Itu kursi saya!" omel Pak Dana.
"Kata Bapak kursi yang kosong!" Naya bangkit dari duduknya dan kembali mengundang gelak tawa anak-anak dikelas.
Naya pun berjalan menuju pojok kelas karena hanya dua kursi disana yang kosong. Bisikan dari para gadis terdengar, lain halnya dengan para pemuda yang memuji Naya secara terang-terangan.
"Kembali kepelajaran," ucap Pak Dana lalu menuliskan sesuatu di papan tulis.
"Nay! Nay!" sapa Sindy dari jauh.
"Naya!!!" panggil Lena juga.
"Sttt..." balas Naya tak ingin memancing keributan, lagi.
Kring!!!
"Baik, pelajaran berakhir." Pak Dana mengakhiri pelajarannya. Beberapa murid langsung menghampiri Naya termasuk Lena dan Sindy.
"Oke guys! Naya nya sama kita dulu! Bye!!!" Lena menarik Naya keluar dari kelas diikuti Sindy.
"Ya ampun, Naya! Gue nggak mimpi 'kan? Lo pulang kapan? Kok nggak ngabarin kita? Anan juga! Huh!" Sindy berdecak kesal.
Tiga gadis itu pun melangkah bersama menuju kantin sambil berbagi cerita sewaktu mereka kecil dulu. Setibanya di salah satu meja, tatapan seisi kantin lagi-lagi tertuju pada mereka tetutama pada Naya.
"Naya!!!" panggil Anan yang baru memasuki kantin bersama temannya. Anan menghampiri mereka.
"Danis, kenalin ini Naya. Saudara gue, kembaran sih." Ucap Anan memperkenalkan.
Naya dan juga Danis berjabat tangan.
"Gue Danis, panggil manis juga bisa." Danis terkekeh membuat Naya juga ikut terkekeh.
"Naya," ucap Naya singkat lalu melepas jabat tangannya.
"Btw, mau pesan apa?" tawar Anan.
"Samain aja deh," balas Naya diangguki Lena, Sindy dan Danis.
"Jus melon? Oke?" tanya Anan yang mendapat anggukan dari teman-temannya. Anan pergi guna memesan makanan.
"Gue nggak tau kalau Anan punya kembaran," ucap Danis memulai pembicaraan.
"Iya, gue juga nggak tau kalau ada yang mau temenan sama Anan," balas Naya berhasil membuat Lena dan Sindy tertawa.
Naya meraih ponsel mahalnya, kemudian membuka salah satu game kesukaannya. Danis pun ikut bermain sebagai mentor.
"Woy! Bantuin gue bawa dong!" teriak Anan.
"Tembak! Tembak! Kiri, dikit lagi." Danis heboh sendiri melihat permainan Naya.
"Dasar, nggak berubah." Lena menatap Naya. Temannya itu memang sangat menggilai game.
"Bantuin Anan sana," perintah Naya pada Danis.
"Ogah ah! Asik banget lu main! Pro player!" puji Danis bangga.
"Yaelah! Gue aja deh!" Naya bangkit dari duduknya masih dengan kedua tangan yang asik bermain game. Matanya fokus pada layar ponsel, tanpa sengaja ia menabrak seorang siswa yang tengah membawa es jeruk hingga seragam siswa itu basah dan terlihat kotor.
Krak!
"HP gue!" Naya berjongkok memungut ponselnya. "Yah! Kalah!" ucap gadis itu gusar.
"Lo kalau jalan pakai mata!" omel Naya pada siswa yang ditabraknya barusan.
"Bersihin baju gue," ucap siswa itu mengepalkan tangannya.
"Bodo amat!" acuh Naya hendak pergi namun siswa itu menghalangi jalannya yang hendak menghampiri Anan.
"Bersihin baju gue!" ulang siswa itu namun Naya terus menolak.
"Gue nggak mau! Lo kira gue babu!?" tantang Naya mendongakkan kepalanya menatap siswa tampan dengan nama 'Devin Austin Elga' terpampang di jas SARANAYA nya.
"Bersihin... baju... gue..." Devin terus memerintah, menatap tajam pada Naya.
Naya mengangkat kepalan tangannya. "Gue... nggak... mau! Minggir lo!" ucap Naya pada Devin.
"Bersihin baju gue! Lo bikin kotor!" Devin kembali angkat bicara.
Bugh!
Naya menampar wajah Devin cukup kuat hingga pemuda itu mundur beberapa langkah dengan sudut bibir yang membiru.
"MINGGIR ATAU GUE BUNUH LO!"
Devin kembali maju lalu mengusap sudut bibirnya. "Bersihin baju gue dulu!" ucap Devin lagi. Hampir saja Naya melayangkan kembali kepalan tangannya, namun tiba-tiba seseorang bersuara.
"Naya! Devin! Keruangan saya!"