"Dia anak dari saudara tiri saya," jawab Jeka sambil menatap manik mata lawan bicara. "Sejak kecil memang panggil saya dengan sebutan papa." "Jadi perempuan yang waktu itu gue lihat siapa?" "Kakak ipar sekaligus sahabat saya, Senja. Kamu pasti ingat dengan nama itu," lanjutnya tanpa menunggu waktu lama. Ingatannya kembali pada saat mendengar cerita Jeka. "Temen lo yang pertama kali ketemu di vila?” "Iya," angguk Jeka. "Oke." Perempuan itu membetulkan letak duduk, kemudian kembali bersuara, "Apa yang bikin lo masih ada rasa sama gue? Gue gak sesepesial itu, Je.” "Kamu adalah orang yang pertama kali menolong saya saat saya habis diserang geng berandal di sekolah." "Hh, cuma gara-gara hal klise kaya gitu?” "Kamu perempuan baik." "Baik dari mana? Lo gak inget kalau dulu gue juga suka

