Pukul enam lewat lima menit, Una akhirnya bisa keluar dari neraka itu. Saat dia sudah berada di trotoar dan berjalan ke halte busway yang tidak berada jauh dari kantor, Una meninju udara beberapa kali dengan mulut yang tidak henti-hentinya menghujat Jeremy Kafka Indrapraja. Kalau saja tidak kepepet, dia tidak akan mau menerima pekerjaan itu.
Aruna menempelkan kartu flazz ke mesin agar dirinya bisa masuk halte. Malam ini dan malam-malam seterusnya, dia akan selalu naik busway. Tidak ada pacar yang mengantar apalagi menjemput, jika naik ojek online setiap hari maka pengeluaran akan jauh lebih besar.
Kondisi halte cukup ramai. Banyak orang-orang berwajah lesu sama sepertinya, mungkin lelah setelah seharian bekerja. Gadis berambut sebahu ini duduk di celah kosong yang masih tersisa di salah satu bangku panjang halte yang tersedia. Dia menggeser pantatnya ke belakang sampai bisa duduk dengan benar, tidak peduli pada decakan sebal dua orang yang berada di samping kiri kanannya karena ulah Una membuat mereka sama-sama makin menggeser duduk ke bagian pinggir.
Sudah dua busway berhenti tetapi Una belum juga beranjak pergi. Kondisi angkutan tersebut selalu saja penuh sesak oleh kumpulan manusia yang berlomba-lomba adu cepat sampai rumah, tetapi Una tidak termasuk salah satunya. Dia masih duduk di sana sampai mendapat bus dengan kondisi sepi dan banyak bangku kosong. Tidak masalah pulang lebih lambat, asalkan dia bisa dapat duduk. Mata bulat perempuan berwajah manis ini memperhatikan lalu-lalang kendaraan dan juga manusia yang lewat di depannya. Tidak dihiraukannya bunyi perut yang menandakan kalau dia lapar. Una baru ingat, terakhir dia makan adalah di jam istirahat tadi.
Sudah lima bus yang lewat malam ini, keadaan halte sudah jauh lebih lenggang. Dua orang yang duduk di sampingnya juga sudah pergi. Una berdiri saat melihat bus berwarna merah muda yang berhenti di koridor. Gadis itu langsung bergegas masuk ke dalam dan duduk di bagian paling depan pojok kiri. Helaan napas lolos dari bibir mungilnya setelah menyandarkan punggung pada kursi.
Mata bulat Aruna menatap ke arah luar kaca busway, memerhatikan sekelebat-sekelebat gedung-gedung tinggi dan mewah ibukota yang dominan jadi pemandangan di kawasan perkantoran ini. Dulu, dia selalu berharap bisa bekerja di salah satu gedung tinggi di sini. Sekarang di saat keinginannya terwujud, ternyata itu tidak membuatnya senang.
Hampir satu jam perjalanan, akhirnya Una sampai juga di rumah. Saat dia membuka pintu, mama langsung menyambut si sulung dengan baik. Berbeda saat Una selalu saja ada di rumah, nyinyiran tidak berhenti keluar dari mulut wanita itu.
"Eh, anak mama yang cantik udah pulang. Gimana kerjanya? Mba Raisa bilang kamu diterima dan langsung kerja tadi," ucap mama dengan seulas senyum manis. Una yang melihat itu, membalasnya dengan senyum tipis.
"Iya, Ma.” Tadi siang sempat ada pesan masuk dari mama yang bertanya mengenai kabarnya, tetapi Una tidak membalas apa-apa karena sedang tidak mood. Dia biasa mengabaikan pesan jika sedang tidak baik-baik saja.
"Baru sehari udah sibuk banget sampe gak balas pesan mama." Dari kata-katanya, seperti sedang menyindir. "Mama udah siapin makanan kesukaan kamu, jamur crispy. Masih renyah banget soalnya baru selesai goreng. Kamu bersih-bersih dulu sana, abis itu makan."
Una mengangguk dan langsung masuk ke dalam kamar. Dia melempar tas hitamnya ke atas kasur dan langsung merebahkan diri di sana. Setelah memilih memejamkan mata kurang lebih lima menit, Una mengganti pakaian kerjanya menjadi piama lalu memilih menyikat gigi dan cuci muka. Saat dia keluar dari kamar dan berjalan ke ruang makan, dia melihat mama masih berada di dapur dan tengah membuat sesuatu.
"Buat siapa, Ma?" tanya Una sambil menarik salah satu kursi yang ada di sana dan duduk. Dia memperhatikan mama membawa secangkir teh hangat dan menaruhnya di atas meja.
"Buat kamu. Diminum, biar badannya hangat," kata mama.
"Makasih, Ma."
"Mama ke kamar dulu, ya? Ngantuk nih. Jangan lupa dicuci dulu bekas makannya sebelum tidur.
Sepeninggal mama, lagi-lagi Una menyumpah-serapahi Jeka. Tidak henti-hentinya mulut gadis itu mendumel soal bosnya. Dengan perlakuan mama yang baik begini, Una tidak mungkin tega mengeluh mengenai apa yang terjadi di hari pertama dia bekerja.
Una menghabiskan makan dengan cepat, mencuci piring serta gelas kotor lalu kembali ke kamar untuk istirahat. Kalau saja Una tidak ingat besok dia harus ada di kantor pukul enam pagi, sudah pasti gadis itu memilih untuk berlama-lama makan dan meratapi nasib hidupnya.
***
"Mas, bisa lebih cepat gak? Saya buru-buru!" ucap Una, sedikit panik saat satpam di bawah lama sekali memberikan kartu tap untuk masuk ke gedung setelah dia meminta kartu identitas Una. Dia belum diberikan akses oleh HRD, kemungkinan hari ini atau besok.
Satpam yang akhirnya melakukan tugas itu karena para resepsionis yang menjaga di kantor baru akan datang pukul setengah tujuh. Pagi ini, jam masih menunjukkan pukul lima lewat lima puluh menit. Dia kaget saat melihat ada karyawan yang datang sepagi ini, tidak biasanya.
"Mbok yo sabar toh, Mba. Cantik-cantik kok kemrusuk," nyinyirnya sambil memberikan kartu untuk akses masuk ke dalam gedung. "Lagian pagi buta gini belum ada orang, Mba. Di atas adanya hantu."
Una tidak menjawab lagi, dia memilih mengambil kartu dari tangan Pak Satpam sambil bilang terima kasih kemudian berlari kecil dan melakukan tap kartu di tempat yang tersedia sampai pembatasnya terbuka. Setelah itu, Una langsung berlari dan memencet tombol lift dengan penuh rasa gelisah. Satpam itu hanya bisa geleng kepala melihat tingkah laku karyawan di perusahaan yang ada-ada saja.
Una keluar dari lift saat tiba di lantai sepuluh, dia langsung menaruh tas di meja dan merapikan penampilan sebelum masuk ke dalam ruangan Jeka. Gadis itu sempat mengatur napas yang masih terengah karena berlari dari luar ke dalam gedung lalu mengetuk pintu ruangan dua kali sebelum membukanya.
Wanita itu menyisir sekeliling, tetapi dia tidak mendapati Jeka ada di dalam. Tidak ada tanda-tanda kehidupan yang menunjukkan eksistensi manusia di sana. Apa laki-laki itu sengaja menipunya? Astagaaaaa! Ini bukan hal yang lucu. Una tidak habis pikir kenapa Jeka tega melakukan ini?
"DASAR KAMPRET LO! MENTANG-MENTANG JADI BOS, BISA SEENAKNYA SAMA GUE? LO PIKIR LO KEREN, JE?" maki Una yang tidak bisa menahan diri lagi. Dia marah-marah pada kursi kebesaran Jeka yang masih kosong tanpa penghuni. "GUE SAMPE RELA BUAT GAK SARAPAN DAN GAK BIKIN ALIS DEMI NURUTIN KEMAUAN LO. BAHKAN MINUM SETETES AIR PUN ENGGAK, JE. ASTAGA, BISA GILA GUE ADA DI SINI GARA-GARA BOS TOXIC KAMPRET KAYA LO."
"Kalau tidak kuat, berhenti saja. Jangan dipaksakan."
Mendengar ada suara orang lain yang menyahut, Una langsung memutar tubuh ke belakang dan mendapati laki-laki jangkung yang menjadi tersangka utama dirinya marah di pagi hari kini berdiri di depan pintu. Wajah Jeka menatap Una tanpa ekspresi, satu tangan lelaki itu menenteng tas kerja. Dia baru sampai di kantor.
"Tamat riwayat lo, Na, tamat," batin Una dalam hati. Dia refleks menggigit bibir bawah, gugup.
"Saya minta maaf, Mister. Saya janji untuk kedepannya bisa menjaga sikap dan attitude saya, Mister." Una memasang wajah memelas mungkin dan menyatukan kedua tangan kemudian menaruhnya di depan wajah. Baru kerja masa sudah dipecat? Huh, Una tidak mau jadi pengangguran lagi.
"Maaf?" lirihnya. "Semudah itu ya kamu bilang maaf?" lanjut Jeka sambil melangkah mendekat.
"Saya tahu saya salah, Mister. Tidak ada lagi kata selain maaf yang bisa saya ucapkan atas kesalahan saya," lanjut Una lagi dengan formal karena tetap harus professional di hadapan bos. "Tolong jangan pecat saya, saya minta maaf."
Lelaki dengan tubuh yang terbalut kemeja panjang ini menatap perempuan yang sekarang menunduk dan tidak berani melihatnya. Gadis berambut sebahu itu masih menyatukan kedua tangan di depan wajah dengan mata terpejam. Dalam hati dia berdoa pada Tuhan agar tidak ada kata-kata mengandung unsur pemecatan yang keluar dari mulut Jeka.
"Buatkan saya teh manis, gulanya cukup satu sendok saja.” Ucapan Jeka membuat Una kembali menurunkan kedua tangan, perlahan membuka kelopak mata dan menatap manik mata hitam laki-laki yang berdiri tepat di depannya. "Saya minta dibuatkan dua cangkir," lanjutnya dengan nada lebih lembut.
"S-saya tidak jadi dipecat, Mister?" Malah itu yang jadi fokus utama karena dia seolah tidak mendapat jawaban. Una masih was-was, takut dipecat setelah dia membuat dua cangkir teh.
"Memangnya siapa yang mau memecat kamu, Aruna?" ucap Jeka yang kini berjalan melewati Una dan duduk di kursi besarnya. Dia menaruh tas di meja dan menempelkan punggung di badan kursi.
"Terima kasih, Mister. Tunggu sebentar, saya akan membuatkan dua cangkir teh untuk Mister," balas Una yang sekarang langsung masuk ke dalam kamar di dalam ruangan Jeka.
Ya, memang pantry-nya juga ada di sana.
Sepeninggal Una, lelaki itu melihat bayangan wajahnya di layar komputer yang belum dinyalakan. Jeka tampak tersenyum senang. Entah mengapa, dia senang karena sekarang gadis itu ada di bawah kendalinya.
Sekitar lima menit menunggu, Una datang dengan membawa nampan berisi dua cangkir teh hangat ke arah Jeka. Dia menaruh dua cangkir yang sebelumnya sudah dialasi piring kecil ke atas meja, lalu tersenyum ke arah sang bos.
"Silakan, Mister."
"Duduk!" ucapnya tegas yang membuat alis Una bertaut. "Saya bilang duduk!" Jeka gemas karena perempuan itu tidak langsung mengikuti apa yang dia perintahkan.
Una mengangguk sekali dan langsung menaruh bokongnya di salah satu kursi empuk di seberang Jeka. Ada dua kursi di sana, biasanya dipakai untuk menerima tamu yang punya keperluan penting di meja utama.
"Taruh saja nampannya di meja," ucap Jeka saat melihat Una masih memeluk benda coklat yang terbuat dari kayu tersebut.
"Baik, Mister."
Jeka mendorong satu piring kecil yang di atasnya terdapat secangkir teh ke dekat Una lalu berkata, "Untukmu."
"Hah?" Una tampak kaget.
"Kamu bilang belum minum setetes air pun pagi ini karena saya menyuruhmu datang pukul enam, kan?"
Una mengangguk saat Jeka berkata begitu. Memang benar, dia tidak mau menjadi perempuan naif.
"Ya sudah, minum tehnya. Anggap saja saya berbaik hati memberimu reward karena kamu bisa datang tepat waktu."
"Terima kasih, Mister," jawab Una yang langsung mengambil cangkir keramik berwarna abu-abu. Dia meniup teh hangatnya beberapa kali kemudian menyeruput minuman itu. Una bisa merasakan jika ada rasa hangat mengalir dalam kerongkongan setelah dia minum teh. Dia membatin dalam hati juga, ternyata Jeka masih bisa bersikap manusiawi.
"Habis minum teh, kamu bereskan kamar saya. Ganti seprai dan sarung bantal dengan yang baru. Jangan lupa sapu, pel, dan sikat kamar mandi,” kata Jeka setelah menaruh cangkir ke atas piring kecil lagi. “Pukul delapan nanti, saya ingin semua sudah selesai karena kamu akan ikut saya bersama dengan Bu Raisa meeting."
Astaga Tuhan, ganti seprai dan sarung bantal, menyapu, pel, dan menyikat kamar mandi itu bukan job description yang tertera saat Una melamar jadi sekretaris. Tapi kenapa pekerjaan dia sekarang tidak jauh beda seperti asisten rumah tangga?
“Baik, Pak.” Dumelan dan pertanyaan-pertanyaan yang dia lontarkan dalam hati tetap dia simpan tanpa berani berargumen.
“Oh iya, satu lagi Aruna ….” Ada jeda dalam ucapan Jeka. “Jangan lupa pakai alismu, tadi kamu bilang tidak sempat pakai itu juga, kan?”
Senyum mengejek terlihat jelas di wajah Pak Bos. Una mengatupkan bibir, tidak menyangka kalau Jeka akan mengingat bagian itu juga. Memalukan!
"Kenapa kamu melihat saya dengan tatapan seperti itu? Saya tahu sekarang sudah jauh lebih tampan dari tujuh tahun lalu. Tidak usah kagum begitu," ucap Jeka super percaya diri yang membuat Una lagi-lagi mendumel dalam hati.
"Apa? Kagum katanya? Cih! Yang ada pengen gue tonjok-tonjok aja muka dia."
***