“Radit antar gue pulang, ya?” ucap Santi dibuat semanja mungkin. Dia bikin gue malu. Bagaimana kalau Radit menganggap gue w**************n? “Terus Santi bagaimana? Gue nggak bawa mobil,” ucap Radit sembari menatap gue. Ternyata walau Radit terlihat tertarik dengan Kanaya, tapi dia tidak lupa dengan temannya. Gue makin salut sama cowok seperti Radit. “Gak apa, gue naik angkutan umum saja. Lo antar Kanaya pulang kasihan dia kesakitan entar nangis kalau ditolak.” Radit mengangguk lalu pergi meninggalkan kami berdua ke parkiran. Seperti dugaan gue kalau Santi hanya berpura-pura lemah. Buktinya sekarang ia berjalan seperti biasa tanpa ada ringisan keluar dari mulutnya. “Nggak sakit lagi kaki lo, San?” tanya gue membuat Santi menoleh. “Siapa bilang kaki gue sakit? Yang lecet parah han

