Part 65

1267 Kata

"Sudah. Jangan menangis terus. Kasihan anak kita." Tangan Mas Rasya mengusap pipiku. Aku mengangguk sambil ikut mengusap air mata. Mas Rasya memandangku, lalu perlahan melajukan mobil masuk ke dalam kompleks. "Mau ke mana kita, Mas?" Aku menatap Mas Rasya yang sesekali menoleh kemari. Ia terlihat begitu cemas. "BKT." "Mau apa ke BKT, Mas? Mau minum banyak kopi agar stres Mas Rasya berkurang?" Aku memandangnya penasaran. Wajah Mas Rasya masih terlihat sangat kesal. Kedua tangannya mencengkeram kemudi erat-erat. Tatapan Mas Rasya kini lurus ke depan. "Mau cek lapak." Aku terus menatapnya sambil sesekali menghela napas, mencoba melupakan kejadian tadi sungguh sulit. Mas Dewa sangat menakutkan. Apa jangan-jangan ia sering melihat fotoku tanpa busana? Aku bergidik ngeri. Merasa jijik dan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN