Baik Papa maupun Mama tak ada yang menjawab. Begitu pun dengan Mas Hanif juga Mas Fadil yang berjalan kemari. Wajah mereka, semua menyiratkan kesedihan. Cukup lama dalam kesenyapan, lama-lama membuatku tak tahan juga. "Ma, katakan ada apa sebenarnya? Kenapa aku gak boleh dekat dengan suamiku sendiri?!" Mama menatapku dengan wajah ingin menangis. Sementara Papa tertunduk sedih. Mas Hanif dan Mas Fadil berpandangan sejenak. Mas Hanif akhirnya menatapku. "Karena situasi tidak memungkinkan kamu bersama Rasya." Kutatap Mas Hanif dengan pandangan tak mengerti. "Maksudnya?" Mama menghela napas. "Papamu terancam bangkrut, Pus. Satu-satunya yang bisa menolong papamu itu ...." Mama terdiam, ia menatapku dengan tak tega. "Sadewa akan memberi banyak suntikan dana jika ...." Mataku membelalak.

