Aku membuka pintu lebar-lebar dan refleks menjauh saat bersitatap dengan lelaki di hadapanku. Wajahnya begitu kuyu tampak kurang tidur. Ia menatapku dengan sorot mengerikan. "Mbak Puspita, tolong aku!" katanya saat aku membalikkan badan hendak meninggalkannya. "Aku akan menuntut balas dan membunuh Mas Rasya kalau sampai adikku meninggal." Deg! Aku urung melangkah. Aku akhirnya membalikkan badan, menatap Rizal yang menatapku dengan wajah memelas. Ia menjatuhkan badan dan bersimpuh di kakiku, dengan air mata menetes di pipinya. "Tolong bujuk Mas Rasya untuk mencabut tuntutan itu, Mbak. Aku tidak mau di penjara. Adikku berada di rumah sakit dan butuh biaya banyak agar bisa sembuh. Itulah kenapa aku ... menipu Mas Rasya," katanya penuh sesal. Aku menarik napas panjang. "Kamu juga berniat

