"Sepertinya, uang itu didapat dari hasil menjual rumah, Ma." Rima menatap suaminya dengan wajah sangat bersalah. Ia berharap bukan uang dari menjual rumah, walau pikirannya terus mengatakan begitu. Ia tahu benar perekonomian menantunya sedang tak sehat. Ia terus mencoba berpikir tenang walau sebenarnya amat risau. "Nanti kita tanyakan sama Rasya, Pa." Lelaki di sampingnya mengangguk lemah. Katanya dengan tanpa keraguan. "Jika uang itu dari penjualan rumah, papa lebih baik di penjara daripada menerimanya, Ma." Bukan hanya sang istri yang menatapnya tak percaya, tapi Hanif juga. Ia menoleh, terlihat tak setuju. Namun tak mengatakan apa pun. Dipenjara? Ia bergidik saat memikirkannya. Mereka terdiam sibuk dengan pikiran masing-masing sampai akhirnya tiba di tempat tujuan. Ketiganya sama-s

