74

1538 Kata

"Apa yang kamu pikirkan, Pa? Kenapa sejak tadi murung terus?" tanya Rima, lelaki di sampingnya terus memijit-mijit kening. Wajahnya tampak begitu risau. Tatapannya terus tertumbuk pada cek di tangan di mana terdapat jumlah uang untuk membereskan segalanya. "Entahlah, Ma. Aku merasa sangat bersalah pada anak kita. Juga besan kita. Uang sebanyak ini dapat dari mana?" tanyanya. "Mereka kan sedang kesulitan uang. Jadi ini dapat dari mana?" tanyanya lagi dengan wajah amat bersalah. Hening cukup lama. "Sejak awal, papa tak setuju dengan ide gilamu, Ma." Mata wanita tua namun masih terlihat cantik itu membulat terkejut. Ditatapnya sang suami dengan wajah tak percaya. "Kenapa papa jadi nyalahin mama, sih? Waktu itu juga papa hanya diam saat mama bilang mau minta bantuan Sadewa. Kenapa sekar

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN