Bunyi kokok ayam dari kejauhan membuatku terjaga. Aku mengusap-usap mata yang begitu mengantuk. Menoleh ke samping, aku berlama-lama memperhatikan Qila yang tidur dalam balutan selimut tebal sementara Mas Rasya sudah tak ada. Aku menghidu panjang saat aroma gurih menguar di udara. Sayup terdengar bunyi berdenting. Dengan mata masih sangat mengantuk, aku melangkah malas menuju dapur, lalu membasuh wajah di kamar mandi. Mas Rasya tertawa kecil saat aku mendekatinya sambil bersidekap. Dinginnya air benar-benar membuat tulang ngilu. "Tidak mandi sekalian?" Mas Rasya menatapku menggoda. Aku memajukan bibir dengan wajah cemberut. "Jangan mulai, deh, Mas." Mas Rasya tertawa kecil. Tangannya bergerak cepat menarik hidungku. Aku menepis pelan tangannya lalu menatap ke penggorengan. "Sepertiny

