"Pus, bangun." Belaian lembut di bahuku membuatku membuka mata. Di sampingku, Qila tengah memainkan bonekanya. Rambut bocah itu basah, pun begitu dengan Mas Rasya yang duduk di bibir ranjang. "Sudah sore. Cepat mandi. Di sini airnya dingin." Teringat semuanya, mataku memanas. Tenggorokanku tercekat. Aku tak dapat menahan diri dan akhirnya terisak lirih. "Mas, uang 30 juta akan sampai mana?" Mas Rasya menarik napas. Terlihat sekali bahwa ia tampak menahan kesal. "Jangan menyusahkan diri sendiri dengan terus berpikir yang tidak-tidak. Itu ada mobil, jika kurang, kita bisa jual," katanya dengan wajah datar. Aku menatapnya tak habis pikir. "Kalau dijual, kita kalau mau ke mana-mana naik apa, Mas?!" "Terbang." "Mana bisa kita terbang, Mas? Kita manusia bukannya burung!" "Itu kamu p

