Aku terus memandang Mas Rasya dalam diam. Tak ada perbincangan apa pun sampai terdengar pengumuman bahwa kapal akan segera berlabuh. Orang-orang riuh ke kamar mandi. Sementara aku masih terdiam memperhatikan Mas Rasya yang terlihat stres dan sangat mengantuk. "Apa kita akan terus diam di sini aja, Mas?" Mas Rasya menyeruput gelas kopi terakhirnya. "Lebih baik, kita cari penginapan di sekitar sini dan tidur, Mas." Mas Rasya berdiri. "Buang-buang uang. Kita sedang berhemat jadi tidak boleh boros." Aku menggelengkan kepala, lalu menarik napas panjang. "Ayo ke kamar mandi." Ia membungkuk untuk menggendong Qila kemudian berjalan mendahului menuju kamar mandi wanita. Aku segera masuk untuk buang air kecil juga membasuh wajah, setelah itu menemuinya yang langsung melangkah menuju dek di m

