Chapt. 4

1556 Kata
Azzam POV Setelah hari dimana aku memutuskan untuk menghakhiri masaku menjadi Dosen, ini adalah hari pertamaku yang terasa berbeda. Aku merasa tertekan. Keluar meninggalkan mobil menuju ruang dosen. Tas ransel yang berada di bahuku terasa berat karna ada berkas mahasiswa dan laptopku. Kaki ku pun juga begitu, terasa berat dan sangat berat. Tapi mau bagaimana lagi, aku tidak bisa terus menolak ini. BUUK Tampak beberapa buku berjatuhan didepanku dan seorang mahasiswi yang brjongkok untuk mengumpulkannya. Aku mendekatinya untuk membantu, "Biar saya bantu." "Eh... pak Azzam. Terimakasih." Aku hanya mengangguk, kemudian mengumpulkan beberapa lembaran yang berserakan. Kemudian aku menyerahkannya pada mahasiswi itu. "Zaina?" "Eh, iya pak. Terimakasih." "Ya, sama-sama." Mahasisi didepanku tampak berbeda - Eh, apa kau ini Azzam, kenapa kau berpikirian seperti itu. Aku mengenyahkan hal itu dengan menggelengkan kepala. "Bapak, kenapa?" Aku tersadar, "Tidak, saya baik-baik saja." Mahasiswi itu mengangguk, "Kalau begitu saya permisi dulu pak. Assalamualaikum." "Waalaikumsalam." aku memandang punggung nya yang kian menjauh. Entah sadar atau tidak, senyum kecil terbit disudut bibirku. "Asalamualaikum pak Azzam." Aku menoleh, Sonya." Walaikumsalam." Mahasiswi itu tampak malu-malu menyerahkan sebuah kotak makan padaku. Aku mengerutkan dahi, "Apa ini?" "Ini untuk bapak. Saya yang buat sendiri." Agak ragu menerimanya, tapi ya baiklah. "Terimakasih." "Sama-sama pak. Saya harap bapak menyukainya." Aku hanya mengangguk, menanggapi ucapannya. Mahasiswi itu akhirnya undur diri dari hadapanku. Aku hanya menggeleng menanggapi betapa anehnya mahasiswi disini. Tidak, bukan hanya disini. Bahkan ditempat aku mengajar dulu juga seperti ini. Aneh, membuatku tidak nyaman tapi mau bagaimana. Aku suka dengan jabatan ku yang sekarang. Ruangan dosen tampak sepi, kulirik jam yang menggantung didinding. Pukul sembilan. Dosen yang lain pada mengajar. Aku laah sendiri yang berada disini. Tidak ada pak Nur disudut tengah sibuk memeriksa hasil quis mahasiswa. Sebentar lagi jadwal aku mengajar, dikelas Zaina. Yaampun kenapa aku jadi seperti bucin aku malu. Ada apa denganmu Azzam, lupakan itu. Dengan segera aku berjalan kekamar mandi untuk membasuh wajahku. Tidak akan fokus aku jika begini. Setelahnya aku kembali ke ruangan, mengambil kucnci ruangan mengajar di BAAK lalu mengambil laptopku. Menaiki tangga menuju lantai tiga. Disana telah ramai mahasiswa yang menungguku, termasuk Zaina, eh. "Eh minggir, ada pak dosen." "Awas sana." Aku mendengar bisikan-bisikan itu, lantas membiarkannya. Membuka pintu lalu menyalakan ac. Kenapa wanita itu selalu duduk didepan,aku takkan fokus ini. "Baik, Assalamualaikum." "Waalaikumsalam." "Baik, hari ini saya akan membahas meteri baru, tapi sebelum itu..." Aku berjalan mengambil buku absen dan meneliti satu persatu. "Rangga Anggara." Nama yang ku sebutkan itu menunjuk tangan. "Boleh saya tahu, kenapa kamu tidak hadir dikelas saya waktu itu?" Mahasiswa itu tampak gelisah, "Maaf pak saya tiddak sempat." "Kenapa?"tanyaku sembari menyipitkan mata. "Ada urusan mendadak." Aku memandangnya sebentar kemudian mengalihkannya. "Baiklah, Saya harus membuat absensi mu kosong." "Baik, kita mulai sekarang. Kali ini saya akan membahas tentang...." *** "Hai Zaina." Zaina tersentak kaget saat keluar dari kelas. Seorang laki-laki berdiri didepan pintu dengan senyum nya. Zaina menghela nafas.  "Waalaikumsalam." Laki-laki itu menggarukkan tengkuknya, "Assalamualaikum." "Waalaikumsalam." "Aku punya sesuatu buat kamu." Zaina mengerutkan dahi, semntara laki-laki itu merogoh tasnya. Sebuah hadiah, padahal ia tidak sedang ulang tahun.  "Ini, ambil." "Kakak, gak perlu repot." Laki-laki itu menggeleng, "Enggak sama sekali. Ambil." Dengan ragu, Zaina meraihnya. "Terimakasih." "Sama-sama. Semoga suka." Setelahnya, laki-laki itu berjalan mneinggalkan Zaina yang hanya dapat menghela nafas.  "Apaan lagi?." Zaina mengehedikan bahunya, "Enggak tau." "Payah yang banyak penggemar."ujar Arum. Zaina malas meladeni, ia pun menyimpan hadiah itu ditangan Arum. "Buat kamu aja." "Makasih."ujar Arum dengan ceria. Zaina berjalan meninggalkan Arum yang tengah menyimpan hadiah itu ditasnya.  *** Mimpi itu datang lagi kemarin. Dan karna itu, aku kembali jatuh sakit.  Mimpi itu, membuat malam ini aku merasa tidak tenang untuk sekedar memejamkan mata. Aku takut. Aku lemah. Aku sakit. Dan aku.... Rapuh. Jakarta, 26 Agustus 2019 Zaina menutup buku diary itu, lalu mengusap wajahnya dengan kasar. Terdiam beberapa sat sebelum beranjak menuju meja rias. Disana, pantulan dirinya yang tampak lemah. Mata sayu nya. Bibir pucatnya. Ia menggeleng kencang, meengenyahkan pikiran itu. Dreet dreet Ponsel Zaina yang berada diatas kasur bergetar. Dengan segera ia mengeceknya. Ada nomor tak dikenal. Dengan ragu ia mmbuka pesan itu. "Assalamualaikum. Aku Dimas, salam kenal." Zaina mneghela nafas, "Dari mana mereka tahu nomorku." Tanpa mau membalasnya, ia pun meletakkan kembali ponsel itu kemudian menghampiri meja belajar. Membuka laptop dan mencari beita terkini. SEORANG PENGUSAHA BERNAMA ABRISAM TENGAH DIPERBINCANGKAN BANYAK ORANG DIKARNAKAN AKAN MENGUNDURKAN DIRI DIGANTIKAN OLEH SANG ANAK. KABARNYA, LAKI-LAKI ITU AKAN MENIKMATI MASA TUANYA DIRUMAH BERSAMA SANG ISTRI. "Wow."decakku kagum. "Tapi siapa anaknya? Begitu mesranya. Andai aku mendapatkan seorang suami seperti itu, pasti akan bahagia sekali." *** "Azzam..." Pinto coklat itu diketur berkali-kali, tapi sang empunya tak kuncung membukkannya.Dengan malas, Ghania membukanya. Ia menggeleng saat melihat bagaimana tidur sang anak. Walau wajah tampan, tak menjamin segalanya. Lihatlah bagaimana cara tidur sang anak. Bantal yang jatuh le bawah, serta selimut yang entah kemana. Dan pakaian Azzam. Yaampun, jika begini kapan akan mendapatkan istri. "Nak. Azzam bangun. Sudah malam." Bukannya membuka mata, Azzam malah menelungkupkan badannya membiarkan Ghania berdecak malas. "Bangun atau ibu siram air." "Iya iya. Yaampun bu. aku baru tertidur." "Sudah-sudah nanti kmau lanjutkan lagi. Sekarang pergi makan malam dulu." Azzam beranjak darikasur dengan sempoyongan. Ia melangkah perlahan menuruni tangga. Abrisam meenggeleng melihat tingkah Azzam. Umur hampir kepala tiga, tapi tingkah bagaikan anak umur lima tahun. Rambutnya yang berantakan tapi tak menghilangkan kesan tampan. "Cuci muka nak."ucap Abrisam. "Malas yah, dingin." Ghania meraih piring, menuangkan nasi dan lauk pauk untuk Abrisan dan Azzam. Kemudian barulah dirinya. Duduk engan tenang dimeja makan hingga dering telfo rumah membuat Ghania meninggalkan ruangan. Azzam dan Abrisam saling pandang, kemudian tanpa rasa perduli mereka kembali melanjutkan makan mereka. "Amara mau pulang."ucap Ghania dengan gembira. Abrisam mendongak. "Kapan?" "Minggu depan." "Yaampun si anak gadis itu akhirnya pulang juga." Ghania hanya mengangguk dengan antusias. Ia tidak sabar menunggu minggu depan akan kehadiran ang anak yang jauh dari nya. "Azzam, bagaimana dengan kampus?" Azzam mengangguk sekali, "Baik aja yah, kenapa?" Abrisam menggeleng, "Biasanya, Seorang dosen muda apalagi yang belum memiliki pasangan, bisa menemukan seseorang yang memikat hatinya. " Azzam emngerutkan dahi lantas menoleh, "Ayah kenapa?." Abrisam menggeleng, "Enggak, Ayah baik kok." "Aneh deh. Dapat dari mana kata-kata begitu." "Enggak tahu, ayah hanya bicara saja. Tapi ayah serius. Kamu menemukan seseorang?" "Yah.." "Nak, kamu sudah 27 tahun, sebentar lagi 28. Mau sampai kpan kamu begitu?" "Yah, aku tuh mau kerja dulu.." "Lah sekarang kan sudah bekerja." potong Abrisam. "Iya tapi nanti." "Keburu ua kamu nak." Azzam menggeleng tak percaya, kemudian kembali melanjutkan makannya. *** "Kak Zaina." Zaina menghentikan langkahnya. Ia, menoleh mendapati seorang mahasiswa yang mungkin dibawahnya tengah berlari kearahnya.  "Iya?" "Kak, ini ada sesuatu buat kakak." Gadis itu menyodorkan buket bunga mawar putih. "Dari siapa?" "Aduh, aku lupa lagi nyanyanya." Zaina tergagu, "Oh, yasudah terimakasih." "Sama-sama kak." Gadis itu berlari meninggalkannya yang kebingungan. "Siapa lagi ini." "Wissst, dapat bunga nih. Dari siapa?"tanya Arum. "enggak tahu. Buat kmau aja." "Lah kok buat aku. Kamu tahu kan aku gak suka bunga." "Ya terus gimana? gak mungkin aku bawa kelas." "Lah kamu kasih ke aku juga gak mungkin aku baa bunga sebesar ini kekelas." "Jadi gimana?" Arum menghedikkan bahunya, kemudian memperhatikan sekitar. "Atau kita bagi aja keorang-oarang masing-masing satu?" "Ide bagus." Jadi ah mereka membagikan satu tangkai bunga ke beberapa orang yang melewati mereka. Siapa yang tidak suka bunga mawar. Bunga cantik dan harum itu banyak disukai orang. "Terimakaih kak." Zaina tersenyum, "Sma-sama." "Sudah?" Zaina mengangguk, "Ayo keatas, kayaknya sudah rame." *** Azzam tengah duduk dikursinya. Layar laptop yag menyala tak digubrisnya. Pikirannya melayang pada sosok mahasiswi nya. "Apa benar yang ayah katakan waktu itu?"Batinnya. "Pak Azzam?" "Eh... bu Mira. Ada apa?" "Em pak. Saya boleh pinjam buku absensi bapak?" "Oh boleh bu." ujar Azzam sembari mengambil buku absensi mahasiswa. "Saya pinjam dulu." Azzam mengangguk. Kemudian meraih botol minumnya. Menenguknya tiga kali. Merasakan air segar itu mengalir ke tenggorokannya. DREET DREET Ponselnya bergetar, ia meraih dan mnedapati pesan sebuah file dari ayahnya. Ia membukanya. "Ini, pelajari beberapa data dari perusahaan." Azzam menghela nafas. Melihat file itu sebentr kemudian mematikan ponsel. Ia pusing. Disana terdapat banyak sekali skala pendapatan perusahaan dan lainnya. "Tidak, aku bisa mati berdiri ini."gumamnya. *** "Na, kamu tahu gak. Kemarin aku baca berita katanya perusahaan ternama di Jakarta selatan itu, si pemiliknya bakalan undur diri, diganti sang anak. Kira-kita siapa ya?"Ujar Arum. Saat ini kami tengah berada disalah satu Caffe dekat kampus. Karna dosen yang mengajr kami sedang berhalangan, maka kami tidak ada kelas. Dan disini lah kami. "Iya aku tahu itu." "Aduh, kok kita gak pernah tahu ya siapa anak nya." "Mungkin anaknya butuh privasi." "Iya juga." "Hai Na, Rum." "Ranu." "Yap, gabung yak." Arum dan Zaina hanya mengangguk, tak lama datang Dana dengan wajah kusutnya. "Kenapa?" "Nih, anak gak tau diri banget sumpah." Zaina dan Arum saling pandang kemudian menatap Ranu yang tampak santai. "Kalian tahu, gara-gara dia ni yang maksa gue kesini. Ditengah jalan motor gue mogok, bukannya bantuin malah kabur naik taksi ninggalin gue di bawah matahari." Arum dan Zaina menahan tawa nya. Ranu memang begitu orangnya. Jadi mendengar hal seperti itu sudah biasa bagi kami. "Sudah pesan sana minum, gue bayarin." "Gue gak butuh minum, yang gue pikirin. Gimana dengan motor gue, nanti pulang juga gimana.?" "Ya naik ojol, kan gampang." "Ndas mu gampang, lu yang bawa gue kesini, lu juga yang tangung jawab." Perdebatan ini takkan berhenti sebelum Ranu menuruti kemauan Dana. Siapa yang tega dengan laki-laki satu itu jika sedang seperti ini. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN