Azzam POV.
"Nak, kamu kenal Zikri?"
Aku mengerutkan dahi, "Yang mana?"
"Ish itu anak bu Ani."
"Kok oh?"
"Lah, terus harus apa?"
Ghania berdecak malas, "Tau gak sih, istrinya lagi hamil. Ya ampun ibu pengen deh gendong cucu."
Aku hanya membiarkan saja tanpa menghiraukannya. Aku tahu jika sudah begini. Aku disuruh menikah.Yang benar saja. Aku masih butuh waktu bebas.
"Nak."
"Apa bu?" tanya ku malas.
"Kamu dengar ibu gak sih?"
"Iya bu."
"Terus kapan?"
"Apanya.?"
"Tuh kan kamu gak dengar."
"Apa? ibu suruh Azzam nikah? Gak gampang bu."
"Gampang, ayahmu punya uang. Tinggal lamar aja."
"Lamar siapa?"
"Nah, makanya itu. Sekaang ibu mau jodohki kamu."
"APA?! Enggak." ucapku dengan tak terima.
"Yah enggak langsung nikah, kalian dekat aja dulu. Mana tahu cocok."
"Bu, gak bisa. Azzam gak mau. Azzam bisa cari sendiri."
"Iya, cari. Dimana? kamu kerjaan sibuk dikampus aja.Atau jangan-jangan ada yang kamu suka?"
Aku terdiam, "Benarkah aku suka?" batinku.
"Tuh kan ada. Siapa? Siapa?"
"Enggak, mana ada bu. Sudah deh, Azzam mau pelajari ini."
"Ah kamu kerjan mulu. NIkah Zam, nikah. Biar tahu betapa enaknya menikah. Ibu mau gendong cucu." Rajuk Ghania.
Ibu berjalan keluar meninggalkanku. "Masa iya nikah..."
Pikiran ku kembali berkelana pada sosok wanita yang sedikit mengusiku. "Apaan kamu zam."
***
Suasana ramai kampus karna ada sesuatu di lapangan. Suara sorakan riang terdengarmembuta Zaina dan Arum yang baru saja dari parkiran mnegerut dahi bingung.
"Apaan sih, rame banget?" tanya Arum.
"Gak tahu juga, kita liat aja."
Keduanya berjalan mendekati kerumunan. Sedikit lagi merek akan sampai, semua kerumunan itu memberi jalan bagi keduanya.
Arum dan Zaina saling tatap. Salah satu dari kerumunan iut mempersilahkan mereka untuk berada didepan.
Disana, seorang mahasiswa sedang berdiri ditengah lapangan, ditangannya ada sebuah banner dan toa.
"Zaina. Aku Radit. Aku suka kamu, mau jadi pacarku?"
DEG
Zaina menatap laki-laki itu dengan tatapan aneh. Banner yang dipegang laki-laki it terbuka. Tulisan disana membuat Zaina hampir pingsan.
Bagaimana tidak. Disana tertulis, ZAINA MAUKAH KAU MENJADI BIDADARIKU. Siapa yang mau coba? baru kenal tapi sudah menembaknya.
"ya Allah, semalam aku bermimpi apa?" gumam Zaina sembari memijit dahinya.
Orang-orang disana bersorak untuk menerimanya. Zaina malu, sangat malu. Dengan cepat Zaina beranjak meningalkan tempat. Ia butuh tempat duuk saat ini.
***
"Aneh banget deh tu orang. Lagi, kamu semalam mimpi anak Na sampai tuh cowok kayak gitu. Gak malu kali ya."
"Aku gak tau Rum, yaampun aku malu."
"Ck, sudah. Ngapain kamu malu? kan bukan kamu yang lakuin nya."
"Iya tapi disitu tertuju untuk aku."
Arum meringis sembari menggaruk tengkuknya. "Jadi gimana?"
"Aku gak tahu."
Saat ini keduanya berada di klinik kesehatian kampus. Kejadian itu akhirnya bubar karna ada pak Azzam yang membuat mereka bubar, jika tidak Entah bagaimana jadinya.
"Tapi ada satu yang aku bingung."
"Apa?"
"Kenapa ada pak Azzam, terus aku lihat wajahnya.Aneh."
"Jangan dipikiri. Dioa dosen jadi wajar bertindak seperti itu."
"Iya sih. Ya sudah lah."
"Aku bali keke;as atau gimana?"
"Balik aja, pelajaran pak Bayu kan? Aku gak apa disini."
Arum megangguk, kemudian membiarkan Zaina yang memejamkan matanya dengan tanga yang mnutup mata.
Tak lama, pintu kembali terbuka. Disana, sosok pahlawan berdiri memandangi Zaina yang terlelap.
Ia tersenyum tipis, kmeudian kmebali menutup pintu dan meninggalkan tempat kembali keruangannya.
***
Berharap dia menjadi jodohku, boleh?
"Woi Zam."
Setelah mendapati lambaian tangan itu, Azzam berjalan mendekati dan duduk didepannya.
"Apa kabar bro? Gila lama banget gak ketemu."
"Baik, lo sendiri?"
"Ya kayak yang lo lihat lah." ujar Bima. "Tumben ngajak ketemuan, biasa sibuk."
"Kepala gue mumet. "
"Kenapa lagi? ibu lo nyuruh nikah?"
"Itu salah satunya."
"Terus?"
"Ya, mau gimana, gue belum dapat yang pas, tapi ada sih."
"Hah, ini maksudnya gimana?"
"Entah bisa dibilang gue suka atau gimana ya, tapi gk tau knapa kalo lihat dia tuh kayak ada sesutu yang adem aja."
"Siapa?."
"Mahasiswi gue."
"HAH?!."
"Sssst, berisik."
Azzam meminta maf pada pengunjung yang merasa terganggu oleh teriakan Bima.
"Bisa ulangi lagi."
"Gak."
"Tapi ini serius?."
"Gue kan udah bilang, gue gak tahu itu suka apa gimana."
"Wah gila,gue gak bisa ngomong lagi deh. Mending tanya hati lo aja."
Azzam terdiam mencerna nya. Mencoba bertanya pada hatinya, apakah ia menyukai wanita itu atau tidak.
"Gak sulit kok asal lo bener-bener bisa paham sama yang terjadi."
"Gue coba."
"Yaudah, sekarang giliran gue yang cerita."
"Ada apa?"
"Istri gue hamil."
"Alhamdulillah selamat."
"Thanks, Tapi..."
Azzam mengerutkan dahinya, "Apa?"
Bima menghela nafas, "Bini gee mau..."
"Apaan sih Gim, gue males deh."
"Istri gue ngidam mau dekat sama lo."
"APA?!"
***
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Eh, Azzam!"
Wanita yang menjadi istri Bima berbaaln dngan cepat menghampiri Azzam kemudian menepuk pundaknya.
"Yaampun sayang kamu bawa yang aku mau.Makasih."
BIma tersenyum masam, "Sama-sama."
"Ayo-ayo duduk Zam.Yaampun aku seneng banget."
Mereka berjalan untuk duduk di sofa merah, "Aku seneng kamu datang. Tau gak, aku ngidam mau lihat kamu."
"Kenapa?"
"Enggak tahu, bawaan dedenya. Kamu sih ganteng banget."
"Yah, aku juga ganteng kali."ucap Bima.
"Diam."
Rahayu mencubit pipi Azzam dengan gemas, kemudian beralih ke hidung mandung nya, selanjutnya pada rambut hitam telah Azzam.
"Yaampun, semoga kamu seperti ini ya nak. Gak kayk ayah kamu yang ptakilan."
"Dek."Tegur Bima.
"Apa? Mau marah? orang emnag bener kamu petakilan."
Bima hanya dapat berpasrah saja. Istrinya itu menghinanya didepan temannya sendiri.
***
Pgai ini, Zaina bangun lebih awal untuk membuat sarapan. Entah kenapa ia terbangun lebih awal dan sesemangat ini.
Memasak sarapan pagi, dimana orang-orang masih bergelung dikasur. Cuaca pagi membuat Zaina segar.
Setelah selesai ia menyajikannya diatas pirin dan meletakkan diatas meja makan.
Ia kembali kedalam kamar untuk membersihkan diri kemudian akan membangunkan yang lainnya.Setelah selesai ia kembali keluar dan mendapati sang umi yang menatap bingung meja makan.
"Pagi umi."
"Zaina. Tumben bangun jam segini, ada apa?"
"Enggak tahu mi, Zaina semangat aja. Jadi Zaina masak deh. Bangunin abi ya mi, kita sarapan bareng."
Nazia hanya menganggukkemudian kembali kekamar, sementara Zaina kembali kedapur untuk mengambil air minum.
"Nak, kamu masak sebanyak ini?"
Zaina mengangguk antusias. "Iyap, Ayah harus makan banyak."
"Terimakasih nak."
Semuanya mulai makan dan Maauza memuji masakan Zaina. Sungguh lezat dan membuatnya harus menambah lagi.
"Nanti Zaina mau lari oagi ya, ada yang mau ikut?"
"Kamu sudah tua nak, bisa-bisa encok lagi." ucap Mauza sembari terkekeh.
"baiklah nanti Zaina aja sendiri."
"Kamu semangat sekali. Tapi Umi suka."
***
"Bu, Azzam mau olahraga dulu ya."
"Ya, hati-hati nak."
Azzam mengenakan sepatu olahraga ya, "Asalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Azzam memulai pemanasan dengan merenggangkan tubuhnya, kemudian mulai berlari kecil mengitari komplek perumahan.
Dengan headseat dikedua telinganya. Handuk kecil di lehernya. Bebebrapa tetangga menyapanya, ia pun membalasnya dengan senyuman manis.
"Ish, sana jangan kesini. Huss...huss"
Azzam mengerutkan dahinya. Kemudian melepaskan sebelah headset, menoleh kesekitar. Disana, seorang wanita tengah berada diatas pohon... Tunggu, pohon.
Dibawah nya ada seekor anjing kecil yang menggonggong kearahnya. Wanita itu tampak ketakutan, dengan segera ia pun menghampirinya.
"Aduh, sana jangan kesini."usir wanita itu.
"Loh, Zaina."
Ya, wanita itu Zaina. Ia mneoleh, dan terkejut. "Pak Azzam, tolong saya."
Azzam kemudian meraih ranting kecil, menggoyangkannya didepan wajah anjing itu. Kemudian melempar nya diikuti dengan si anjing kecil itu.
"Turun, anjingnya sudah pergi."
Zaina tampak cemas, ia mmenatap sekitar, kalau-kalau anjing kecil itu kembali lagi.
"Sudah, jangan khawatir. Dia tidak kembali."
Zaina mengangguk kecil kemudian mencoba turun. Memijaki dahan sedang, tapi siapa sangka. Dahan itu licin membuat Zaina kehilangan keseimbangan.
"ARGH!!!"
BUG
Semua bagai angin yang melesat dengan cepat. Zainamerasakan dekapan hangat... dan nyaman. Ia membuka mata dengan perlahan.
Cahaya matahari membuatnya menyipitkan mata. Wajah Azzam tampak sangat dekat. Wajah itu seperti cahaya yang muncul.
"Kamu kenapa tidak berhati-hati. Jika tidak sayang yang tangkap, entah bagaimana nanti jadinya."
Zaina tetap diam, terus memandang wajah tampan itu. Seolah tersadar, ia meminta pada Azzam untuk menurunkannya.
"Maaf pak."
Azzam hanya mengangguk, menetralkan detak jantungnya yang berdegup sangat kencang membuatnya merasa ngilu.
"Maaf, soal tadi."
"Ya."
"Ba..bapak kok bisa disini?"
"Rumah saya juga disini."
Zaina terkaget kecil, kemudian tertawa canggung."Oh pantas bisa disini."
Azzam tak menjawabnya, ia terus memandang pipi Zaina yang memerah. Tampak sangat cantik dan lucu.
"Kalau begitu saya duluan."
Zaina mengangguk. "Iya pak, terimakasih."
"Sama-sama. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."cicit Zaina.