Bling Bling Bling...
Suara pesan masuk yang tersebar keseluruh penjuru kampus, lebih tepatnya grup fans Azzam. Mereka menamainya dengan Dosen ganteng incaran.
"Eh, apaan nih?."
"Lah, sama siapa imam gue?"
"Gue gak terima ini namanya."
"Apaan dah, masih cantikan gue."
Para fans Azzam merasa tak terima akibat sebuah video yang mereka dapat. Video Azzam yang menggendong Zaina kemarin.
"Ini jodoh gue. Yang ganggu jodoh gue, jadi siap-siap harus berhadapan dengan gue."
Para mahasiswi menatap tajam pada seseorang yang baru aja memasuki kampus bersama temannya. Beberapa dari mereka berwajah merah, menahan amarah.
Zaina dan Arum saling pandang saat hampir semua mahasiswi menatap mereka. Dengan tatapan tajam mereka membuat Arum dan Zaina merinding.
"Ada apa ini?" bisik Arum.
Zaina menggeleng kecil, kemudian menunduk menghindari tatapan tajam itu."Aku gak tahu, ebih baik langsung kekelas saja. Aku takut."
Arum pun mengangguk, mereka berjalan dengan cepat dengan menunduk menghiraukan ttapan yang terus memantau mereka.
Selangkah lagi, mereka akan menaiki tangga. Tapi kemudian terhenti saat beberapa mahasiswa beridiri disana.
"Mau naik?"tanya nya.
Zaina dan Arum mengangguk, "Boleh kok." Mereka bergeer memberikan jalan pada Zaina dan Arum.
BUG
"Zaina..." pekik Arum.
Dengan cepat, Arum membantu Zaina yang terjatuh. Ia menatap tajam pada wanita yang membuat Zaina terjatuh.
"Lo tuh kenapa sih? Gak punya otak ya?"
"Punya. Harusnya kata-kata itu lo sampaikan sama teman lo itu."
Arum mengerutkan dahi, kemudian membatu Zaina berdiri, "Ya Allah Na, kepala kamu."
Zaina menggeleng sembari menutup luka di pelipis. "Aku gak apa Rum."
"Enggak apa-apa gimana. Ayo ke klinik."
"Tapi kita mau masuk."
"Paling juga akting biar dikasihani."celetuk salah satu mahasiswi dibelakang mereka.
"Rum..."lirih Zaina saat merasa kepalanya meberat dan dunia seolah berputar.
Matanya mulai berbayang, dan pingsan.
"ZAINA!!!"
***
Azzam telah besiap dengan kemeja merah maroon, ia mengancingkan lengannya.
"Bu, Azzam duluam ya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Azzam mengendarai mobilnya dengan santai, dilihatnya langit tampak mendung. Jalanan yang basah karna hujan deras semalam.
"Mau hujan lagi ini."gumam Azzam.
Laju kendaraannya memelan saat lampu lalu lintas berubah menjadi merah. Ia memperhatikan sekitar dan mengenali satu motor merah.
"Itu Zaina dan teman nya kan?"
Kemudian lampu lalu lintas berubah menjadi hijau membuat nya harus menancapkan gas sebelum diklason oleh pengendara lain.
Lalu lintas yang cukup padat membuat Azzam tidak dapat mengejar motor yang ditumpangi Zaina. Ia tertinggal. Azzam menghela nafas, niat ingin bedampingan. Eh.
Sekitar lima belas menit, akhirnya Azzam sampai di kampus. Tapi ada yang aneh, mahasiswi bergerombol di dekat tangga.
Dengan segera, Azzam keluar untuk mengetahui apa yang tengah terjadi. Ia tersentak kaget saat terdengar teriakan orang yang memanggil Zaina.
Dengan sekuat tenaga, Azzam berlari mendekati kerumunan. Menerobos tanpa perduli dengan mereka yang meringis sakit saat bahunya dihantam.
"Zaina."
"Pak Azzam tolong bantu saya."
Azzam mengangguk sekali, kemudian membopok Zaina. "Ya Allah, kenapa ini?"
"Nanti saya jelaskan, tapi Zaina butuh pertolongan secepatnya."
Azzam berlari kembali keparkiran, kemudian meletakkan Zaina di kursi belakang dengan Arum yang menjadi bantalan.
"Ayo pak, cepat."
"Iya."
Azzam memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi, menerobos lampu merah. Biarlah ia yang berurusan yang terpenting Zaina mendapat pertolongan secepatnya.
Sesamainya dirumah sakit terdekat dengan kampus, Azzam memanggil suster untuk mebawakan bankar. Mereka terbutu-buru membawa Zaina ke UGD.
"Silahkan lakukan pendaftaran dulu."ucap salah satu suster.
Azzam menoleh pada Arum, "Kamu telfon keluarganya."
Arum pun mengangguk, mencoba menelfon keluarga Zaina.
***
"Begitu kejadiannya."
"Ya Allah. Jangan sampai abi tahu."ucap Umi.
Arum telah menceritakan bagaimana kejadian Zaina tadi. Untunglah yang datang hanya Umi, jika ada abi. entah apa yang terjadi.
"Bu"
Umi mneoleh pada sosok laki-laki yang beridiri dibelakangnya. "Kamu siapa?"
"Ini dosen kami umi. Dia yang membawa Zaina tadi."
Umi tersenyum pada Azzam. "Terimakasih nak."
Azzam menganggu sembari tersenyum kecil, "Biar saya yang urus hal ini dikampus."
"Iya, Terimakasih sekali lagi nak."ucap Umi.
"Kalau begitu saya permisi kembli kekampus bu."
"Baiklah. hati-hati dijalan."
"Arum, kamu gak kekampus?"
Arum menggeleng cepat, "Enggak, Arum mau disini sama Zaina aja mi."
Nazia handa dapat menghela nafas, membiarkan Arum berada disini. Azzam kembali ke kampus untuk menjalankan tugasnya.
***
"Saya minta izin untuk kumpulkan seluruh mahasiswa di lapangan, pak."
Pak Agung - Kepala yayasan kampus mengerutkan dahinya, "Untuk apa pak Azzam, ada apa?"
"Saya hanya ingin mengumumkan sesuatu Anda bisa lihat rekaman ctv tadi."
"Tapi...."
Azzam menyodorkan ponselnya, "Silahkan telfon nomor ini."
Pak Agung semakin tidak mengerti, tapi tangannya mengambil ponsel itu, menyalin nomor dan mendial nya.
"Hallo."
"Ha-halo pak, Saya Agung kepla yayasan kampus. Saya disuruh Azzam untuk menelfon bapak."
"Oh, ya kenapa?"
Pak Agung menatap Azzam meminta kejelasan. "Dia ayah saya. Abrisam. Pemilik perusahaan yang mendonasikan uang ke kampus ini."
Pak Agung syok, kedua matanya melotot kaget, ia bergerak kaku. "Pak Abrisam, ini saya dari kampsu tempat Azzam berkerja."
"Oh ya, dia anak saya pak Agung. Ada apa?"
Pak Agung mneggeleng, "Tidak pak, tidak. Kalau begitu saya putuskan sambungan nya. Maaf mengganggu waktunya."
"Kamu, boleh kelapangan dan kumpulkan seluuh mahsiswa."
Azzam mengangguk sekali, kemudian berjalan keluar. Bebeapa mahasiswi yang mengetahui ada Azam berjalan mereka menunduk. Masalah besar akan datang pada mereka.
Kini, Azzam telah ampai di lapangan, semua sudah berkumpul sebagian ada yang bingung dan sebagian menatapnya cemas.
"Selamat siang. Maaf menganggu waktu pembelajaran kalian. Saya akan menyampaikan sesuatu. Dan saya harap unutk tidak melanggarnya."
Azzam mengamati sekiar. Mahasiswi yang berkerumun tadi pagi menunggu dengan was-was.
"Saya, Azzam Khalif Putra Ahmad ingin menyampaikan sesuatu perihal tadi pagi. Saya tiak akan marah pada kalian. Saya hanya memperingati, jangan menganggu wanita yang kalian bully tadi pagi. Karna apa, karna dia adalah calon istri saya. Jika kalian berurusan dengannya makan kalian harus melangkahi saya terlebih dahulu."
Azzam akan melakukan apapun yang menyangkut dengan Zaina. Ia akan mengklain anita iut seperti yang ia katakan barusan.
Ia tidak memperdulikan bahwa ia semena-mena. Ia punya apapun yang akan membuat appaun yang inginkan dapat terujud.
"Saya hanya akan mneyampaikan hal itu. Silahkan bubar dan kembali kekelas kalian. Terimakasih."
Dadanya membuncah amarah, yang siap ia ledakan kapanpun. Wajahnya memerah. Rahang mengetat. Genggaman tangan di kedua tangannya, terkepal kuat. Dan jangan lupkan mata nya yang menyorot tajam.
Zaina, wanita yang mencuri hatinya. Ia akan menyegerakan ucapnya. Tak ingin sesuatu hal yang terjadi pada wanita nya. Jangan lagi.
***
"Kepala yayasan menelfon ayah tadi siang. Ada apa?"
Azzam hanya diam tanpa menjawab apapun. Kedua orang tuanya menatap bingung. Kemudian membiarkan dan kmebali melanjutkan makan malam.
"Azzam ingin meminang seseorang."
BYUUR
Ghania dan Abrisam saling pandang dengan tak percaya. Kemudian mneoleh pada Azzam yang tampak santai saja bahkan tak memperdulikan nya.
"Kamu ngomong apa nak?"
"Aku mau mngkhitbah seseorang."
"Kamu kalau mau ngomong jnagan ngaco."jawab Abrisam.
"Aku gak ngaco yah, aku serius."
"Siapa?"tanya Ghania hati-hati.
Azzam terdiam sesaat, "Mahasiswi dikampus ku."
"APA?!"
"Kamu jnagan main-main Azzam."
"Aku serius yah."
"Tapi ini soal yang serius Azzam."
"Ayah, dia wanita baik. Aku yakin aku serius seratu persen."
"Sudah-sudah. Nak, lebih baik kamu sholat istiqoroh."
Azzam menganggu dngan menunduk sembari mengaduk-aduk makanannya."Iya bu. Nanti malam aku coba."
Ghania tersenyum lalau menglus pundak Azzam dengan lembut.
***
Seminggu kemudian...
Ting Tong...
"Siapa? NON AMARA?!!!"
Amara terkekeh, "Hai bi. Apa kabar?"
"YaAllah non, bibi kangen." Kemudian langsung memeluk dengan erat.
"Gak disuruh masuk nih?"goda Amara.
"Astaghfirullah, ayo non masuk."
Ammara memperhatikan ruang tamu sembari menarik koper nya. Semua masih sama sewaktu dulu sebelum kepergiannya ke london.
Sekarang, ia telah bebas. Tidak akan kemana-mana lagi. Di Indonesia, tempat kelahirannya bersama kedua orang tuanya.
"AMARA?!!"
Ghania langsung berlari, bergitu pembantu rumah tangga memberi tahu jika Amara ada dibawah.
"Ya Allah nak. Ibu kangen."
"Amara juga bu."
Keduanya saling berpelukan melepas rindu yang membuncah. Dekapan hangan dari sang ibu membuatnya ingin cepat-cepat kembali ke indonesia.
Dan sekarang ia pun mendapatkannya. "Kamu tahu gak sih, ibu kesepian kamu gak ada disini."
"Ibu, maaf ya tapi Amara janji, gak akan kemama-mana lagi."
Ghania mengangguk kemudian memeluk nya kembali. "Ibu harus telfon ayah dan abang mu."
Amara hanya mengangguk membiarkan ibunya melakukan apapun. Ia senang, dengan kembalinya dari london mendapati senyum yang telah lama tak ia lihat.
***
Zaina POV
Beberapa hari ini, aku selalu mendapati orang-orang yang melintas didekatku dengan menunduk. Tingkah mereka aneh setelah kejadian waktu itu.
Aku bahkan sempat kaget saat baru masuk setelah terkurung dirumah sakit. Mendapati beberapa mahasiwi memberikanku hadiah dan semacam nya.
Jika aku bertanya ada apa, mereka justru menggeleng dan berlari meninggalkan aku yang berdiri bingung. Hal itu terjadi hingga hari ini.
"Zaina, aku punya makanan lebih. Makan ya, buatan aku."
Zaina hanya mengangguk kaku, tanpa bisa berjata-kata. "Terimakasih."
Mahasiswi itu berlaru dengan cepat, seolah-olah takut padaku. Aku bingung, apa wajahku setelah keluar dari rumah sakit tampak menyeramkan? Ah entahlah.